Silang Pendapat Wisata Darajat Bisa Makin Berkepanjangan

0
124 views

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Kamis, 29/10 – 2015 ).

Petani Pasirwangi Menatap Gerah Merebak-Maraknya Pendirian Banyak Obyek Wisata Darajat.
Petani Pasirwangi Menatap Gerah Merebak-Maraknya Pendirian Banyak Obyek Wisata Darajat.

Silang pendapat mengenai ragam aktivitas wisata kawasan Darajat di wilayah Kecamatan Pasirwangi Garut, Jawa Barat, selama ini sarat menuai protes pada kalangan masyarakat terutama pecinta lingkungan kembali mengemuka, bahkan semakin “runyam”.

Lantaran terdapatnya pernyataan Ketua “Panitia Khusus” (Pansus) III DPRD Jawa Barat Bidang Pengembangan Pariwisata Lucky Lukmansyah Trenggana, “kawasan Darajat Garut terinventarisasi sebagai kategori pilihan wisata berbasis alam, dan pegunungan sekunder di Kabupaten Garut dalam ‘Rancangan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah’ (RIPPDA) Provinsi Jawa Barat kini dipansuskan”.

Lingkungan Kian Berkondisi Tandus dan Gersang.
Lingkungan Kian Berkondisi Tandus dan Gersang.

Dia malahan menyesalkan pernyataan salah satu utusan perwakilan “Badan Perencanaan Pembangunan Daerah” (Bappeda) kabupaten setempat, yang meminta kawasan Darajat tak dimasukkan potensi wisata, seperti tercantum dan terinventarisasi dalam Rancangan RIPPDA Provinsi Jabar saat ini.

Sebab Bappeda berencana mengembalikan kawasan Darajat ke peruntukkannya semula, sebagai kawasan lindung, dan kawasan konservasi. Bukan kawasan wisata.

Lucky menegaskan pula, kunci atas polemik seputar kawasan Darajat tersebut, ada di tangan Bupati selaku kepala daerah, dan pemegang kebijakan.

“Seharusnya Bupati selaku pemegang kebijakan cepat tanggap atas penyelesaian kawasan wisata Darajat ini. Ada enggak good will (niat baik) dari Bupati-nya? Jangan sampai berlarut-larut tanpa ada kepastian hukum. Kawasan Darajat selama ini ada permasalahan, meski memiliki potensi wisata baik. Itu semua tinggal bagaimana Bupati mencari solusi menguntungkan semua pihak. Saya rasa, pasti akan selesai,” ungkap Lucky juga Ketua DPC PPP Kabupaten Garut itu, Kamis (29/10-2015).

Sebagian Besar Penduduk Setempat, Hanya Menjadi Penonton.
Sebagian Besar Penduduk Setempat, Hanya Menjadi Penonton.

Aktivitas wisata lengkap dengan pelbagai sarana prasarana penunjangnya di kawasan Darajat, seperti kolam pemandian air panas, water boom, dan penginapan, selama ini terus dipertanyakan beragam kalangan masyarakat.

Menyusul selain melanggar pemanfaatan ruang seperti ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat maupun Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Garut (Peraturan Daerah Garut Nomor 29/2011 tentang RTRW Garut 2011-2031).

Keberadaan wisata di sana juga sama sekali tak ada pemasukan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Garut.

Ramainya pengunjung ke kawasan Darajat bahkan kerap menimbulkan sejumlah persoalan sosial, termasuk kemacetan parah sepanjang jalur Jalan Raya Garut-Samarang-Pasirwangi, dan di kawasan Tarogong Kidul, serta Tarogong Kaler. Selama ini kerap sangat mengganggu aktivitas lalu lintas warga lain sehari-hari.

Pemkab sempat mengeluarkan pernyataan moratorium atas perizinan pembangunan sarana prasarana wisata di kawasan Darajat, karena banyaknya bangunan serta sarana lain diduga kuat ilegal.

Namun efektivitas moratorium itu juga dipertanyakan. Karena, pembangunan fisik di kawasan Darajat masih terus berlangsung tanpa ada satu pun tindakan tegas Pemkab menjerakan pelaku pelanggarannya. Seperti dikatakan Ketua LSM “Bersatu Untuk Membangun Indonesia” (BUMI) Aris Faizal.

“Dari Tata Ruang saja jelas terjadi pelanggaran karena kawasan ini daerah konservasi. Belakangan Pemkab khususnya Disbudpar (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) malah membidiknya supaya dijadikan kawasan obyek wisata berbasis kebudayaan dan alam. Tetapi konsepnya pun tak jelas. Yang berkembang justru wisata artifisial atau buatan. Itu pun tanpa ada izin lingkungan,” katanya.

Dikemukakan, kawasan darajat wilayah konservasi berkerentanan pergerakan tanah sangat tinggi. Seharusnya Pemkab cepat tanggap pada kemungkinan dampak buruk tertentu atas keberadaan obyek wisata Darajat.

Demi terwujudnya kepastian hukum bagi masyarakat, khususnya para wisatawan. Sekaligus mendapat jaminan keselamatan, dan asuransi jika terjadi kecelakaan, imbuhnya menyerukan.

*******

Noel, Jdh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here