Siapakah Ilmuwan Paling Berpengaruh di Dunia?

by

Garut News, ( Jum’at, 08/11 ).

Sigmund Fourd/ Muslim Times
Sigmund Froud/ Muslim Times
Siapakah ilmuwan paling berpengaruh di dunia?

Benarkah Albert Einstein, Stephen Hawking, dan Charles Darwin adalah yang paling berpengaruh?

Situs jejaring Scholarometer, dikembangkan Filipi Menczer, pakar informatika dari Indiana Universty of Bloomington, dan rekannya, Jasleen Kaur dan Filipo Radicchi, mengungkap Darwin, Einstein, maupun Hawking bukan paling berpengaruh.

Diberitakan Nature, Rabu (6/11/2013), ilmuwan paling berpengaruh sepanjang masa menurut situs itu secara berurutan, Karl Marx (sejarawan), Sigmund Freud (psikolog), dan Edward Witten (fisikawan).

Karl Marx dikenal pencetus gerakan Marxisme, dan penulis buku melegenda, Das Kapital.

Sigmund Freud dikenal pengembang psikoanalisis.

Sedangkan, Witten dikenal satu-satunya fisikawan meraih Field Medal, penghargaan pada bidang matematika.

Bagaimana Scholarometer menyusun ranking ilmuwan paling berpengaruh di dunia tersebut?

Bagaimana pula membandingkan mereka yang jelas berasal dari disiplin ilmu berbeda?

Salah satu parameter menentukan pengaruh seorang ilmuwan, sitasi atau kutipan dalam makalah ilmiahnya.

Selama ini, terdapat hambatan dalam menyusun ranking pengaruh lantaran ditasi di satu bidang dengan bidang lain beda.

Sebagai contoh, seorang ahli biokmia biasa-biasa saja punya lebih banyak rujukan daripada seorang matematikawan lantaran biokimia lebih menarik, dan lebih banyak dikaji.

Menyusun ranking ilmuwan paling berpengaruh, dan membandingkan antar-bidang, Menczer dan rekan mengembangkan h-index.

H-index digunakan “menetralkan” bias antar-dispilin ilmu dalam penyusunan ranking.

Sementara itu, mengukur h-index, Menczer dan rekannya masih bergantung pada Google Scholar. Ranking bisa terus diperbarui.

H-index digunakan sebagai pembagi.

Menzer mengukur berapa kali lebih besar dari skor h-index seorang ilmuwan.

Terungkap, Marx punya skor 22 kali h-index dibandingkan rata-rata sejarawan, dan 11 kali h-index dibandingkan rata-rata ekonom.

Sementara itu, Witten punya skor 13 kali h-index dibandingkan rata-rata fisikawan.

Werner Marx dari Max Planck Institute for Solid State Research di Stuttgart mengungkapkan, sulit mengatakan penyusunan ranking ini bisa konsisten.

Akurasi ranking masih tergantung pada Google Scholar juga punya kelemahan.

Namun, Menczer mengatakan, terpenting di sini memungkinkan orang berpikir di luar disiplin mereka.

Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com