Sharon dan Palestina

by

– Tom Saptaatmaja, Alumnus Seminari St Vincent de Paul

Jakarta, Garut News ( Sabtu, 25/01 – 2014 ).

Ilustrasi. Peti Kubur. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Peti Kubur. (Foto: John Doddy Hidayat).

Bekas Perdana Menteri Ariel Sharon mengembuskan napas terakhirnya pada 11 Januari 2014.

Ia tokoh penting dalam sejarah Israel modern.

Banyak hal bisa ditulis tentang sosok yang satu ini. Namun, tokoh yang mencuat namanya akibat perannya dalam Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kipur pada 1973 itu berani mengambil segala risiko sekaligus meng­halalkan segala cara untuk mewujudkan ambisinya.

Sebagai zionis sejati, Sharon dikenal sebagai raja tega yang brutal untuk membunuh semua musuh Israel.

Misalnya, dialah pelaku pembantaian Qibya pada 13 Oktober 1953 yang menewaskan 96 orang Palestina.

Dia jugalah aktor intelektual pembantaian Sabra dan Shatila di selatan Beirut, Libanon, pada 1982, semasa menjabat Menteri Pertahanan Israel.

Selama tiga hari, dimulai pada 16 September 1982, ratusan pria, wanita, dan anak-anak dibantai di kedua kamp pengungsi itu.

Tak mengherankan jika kematian Jagal Beirut-sebutan bagi Sharon-disambut dengan sukacita oleh warga kedua kamp tersebut.

Sebutan itu jelas mencer­minkan kebrutalannya.

Padahal, sebuah kekuasaan yang hanya dilandasi kebrutalan, menurut filsuf Yahudi Hannah Arendt, tidak akan pernah memba­wa rasa aman bagi Israel.

Sharon dan para peng­ganti­nya seharusnya ingat bahwa dulu jutaan warga Yahudi per­nah menjadi korban kekejaman Nazi dalam Perang Dunia II.

Yang dulu pernah menjadi kor­ban, justru kini menjadi pi­hak yang mengorbankan yang lain.

Sharon lupa bahwa bangsanya pernah menjadi korban karena dia seorang pendukung zionisme yang militan.

Doktrin zionisme dikonkretkan melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, pada 1897.

Lalu gerakan zionis yang semula hendak mendirikan sebuah negara Yahudi di Afrika kemudian berubah di tanah Palestina, berkat Deklarasi Balfour pada1917.

Deklarasi inilah yang menjadi awal atau akar perseteruan antara Palestina dan Israel.

Negara Israel akhirnya berdiri pada 15 Mei 1948 dan kaum zionis membela pemerintah Israel hingga detik ini.

Namun tidak setiap orang Yahudi setuju dengan pendirian atau pemerintahan Israel.

Misalnya, Neta Golan dan para pemuda Yahudi yang tergabung dalam International Solidarity Movement.

Masih banyak fakta tentang orang-orangYahudi yang tidak sepaham dengan kebijakan pemerintah Israel, seperti filsuf Martin Buber, Noam Chomsky, Adam Shapiro, dan Prof Ze’ev Sternhell.

Maka, kematian Sharon harus menjadi pengingat bagi masyarakat dunia, bahwa persoalan Palestina belum selesai.

Maka kita diingatkan untuk terus solider dengan bangsa Palestina, sesuai dengan resolusi PBB.

Pada 29 November 1947, PBB menerapkan Resolusi 181 (II) atau yang dikenal dengan nama Partition Resolution.

Resolusi ini mengatur pembagian Palestina menjadi dua negara, yakni negara Israel dan Palestina, dengan Yerusalem sebagai corpus separatum kedua wilayah.

Namun solidaritas kita jangan terlepas dari konteks bahwa inti masalah Palestina versus Israel bukan masalah perang agama, tapi rebutan tanah.

Menurut Bung Karno, Indonesia yang kenyang dijajah kekuatan kolonialis harus terus berempati dan solider dengan bangsa mana pun yang masih belum merdeka, khususnya Palestina.

***** Kolom/artikel Tempo.co