Shane

Garut News ( Ahad, 31/08 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Seorang asing datang berkuda ke sebuah permukiman peladang di lembah Wyoming, tahun 1889. Ia tampil bukan sebagai orang biasa.

Pandangannya “angker”, kata seorang bocah yang memperhatikannya dengan kagum, “membuat merinding dalam kesendiriannya yang kelam”, chilling in his dark solitude.

Lelaki itu tak bersenjata, tapi ia tampak terbiasa dengan pistol dan bedil. Ia tak banyak omong. Ia selalu siaga. Ia selalu menyimak. Bahaya tersirat dalam tindak-tanduknya.

Namanya “Shane”itu saja.

Kemudian nama tokoh novel Jack Schaefer ini (pertama kali terbit pada 1949) jadi termasyhur sejak sutradara George­ Stevens membuatnya jadi sebuah film pada 1953, ketika dari Hollywood jenis western masih laris.

Dalam film itu, bagi saya, Alan Ladd tak mengesankan memerankan Shane. Ia terlalu rupawan dan tak muram dan tanpa karisma.

Tapi jika film ini berhasil jadi sebuah karya klasik, mungkin karena ia berdasar sebuah novel western yang tak lazim.

Klimaksnya memang berupa duel tembak-menembak. Tapi cerita ini dikisahkan seorang bocah berumur 10 tahun jadi sebuah epos kecil tentang kesetiaan yang kukuh, percintaan yang lembut, pengorbanan yang radikal.

Shane datang ke lembah itu dan bekerja jadi pembantu Joe Starrett yang sedang membangun tanah pertaniannya.

Kedua lelaki itu dengan segera jadi akrab. Joe bahkan menahan cemburunya ketika melihat bahwa percintaan terbit lamat-lamat antara Shane dan istrinya.

Berangsur-angsur, lelaki misterius itu jadi bagian keluarga itu, terutama karena anak mereka, Joey, terpesona dan jatuh sayang kepadanya.

Kemudian sesuatu terjadi. Rufus Ryker, tuan tanah, hendak mengusir para peladang di lembah kecil itu. Mereka bertahan.

Ryker pun menyewa seorang jago tembak yang terkenal, Jack Wilson. Nyawa Joe terancam. Di saat itu, Shane muncul dengan penampilan yang berubah: ia mengenakan pakaian dan senjata yang selama ini disembunyikannya. Ia berangkat menghadapi Wilson.

Duel terjadi. Kedua orang itu penembak mahir. Wilson tewas. Shane luka-luka. Dan cerita berakhir: lelaki pendatang itu memutuskan pergi meninggalkan keluarga Starrett, meninggalkan Joey, meninggalkan lembah.

Tapi ia sempat berpamitan kepada anak itu. “Aku harus pergi lagi,” katanya.

“Orang harus jadi dirinya, Joey. Tak bisa lepas dari cetakannya. Aku mencoba tapi tak berhasil.”

Si Joey kaget melihat ada luka peluru di tubuh itu. Tapi Shane membelai rambut bocah itu dan berkata, “Aku tak apa-apa, Joey. Pulanglah. Jadilah anak yang kuat dan lurus. Jaga Bapak-Ibu.”

Dan seperti galibnya ujung film western, sang jagoan pun mengendarai kudanya melaju ke arah kaki langit.

Adegan yang tak terlupakan ialah ketika suara Joey bergaung keras di sepanjang lembah: “Shane, come back, Shane!”

Shane tak pernah kembali.

Ada bayang-bayang yang tragis dalam dialog akhir film ini: lelaki itu mencoba jadi orang biasa dan hidup dalam keluarga yang biasa, tapi ia merasa gagal.

Ia tak pernah menceritakan masa lalunya tapi kita pelan-pelan tahu ia dulu seorang gunman sebutan di mana bertaut manusia, senjata, dan kekerasan.

Ia coba tanggalkan itu. Tapi akhirnya ia kembali ke jalan pembunuhan.

Ia memang menempuhnya karena ia hendak menyelamatkan nyawa Joe.

Tujuannya mulia, tapi jelas: tangannya kembali kotor dengan darah manusia.

Yang menyentuh hati dalam dialog terakhir itu ialah bahwa Shane merasa yang dilakukannya tak bisa dihalalkan.

“Joey,” katanya, “tak ada kehidupan dengan dengan pembunuhan. Tak ada jalan kembali dari pembunuhan.”

Itu sebabnya ia menghukum dirinya sendiri. Ia biarkan luka peluru di tubuhnya dan ia berjalan jauh, mungkin untuk mati.

Ia tak ingin mengukuhkan jalan kekerasan di lembah tempat Joe, istri, dan anaknya merintis masa depan.

Dengan kata lain, pengorbanannya ganda: ia menjadikan dirinya buas dan sebab itu ia perlu melenyapkan diri.

Tapi benarkah itu pilihan yang bernilai?

Mungkin jalan akhir Shane sebuah penebusan dan pengorbanannya bisa membawanya ke arah penyucian diri.

Tapi tak ada jaminan para peladang di lembah Wyoming itu akan aman tanpa dia.

Kekuasaan tuan tanah Ryker tak serta-merta runtuh ketika Jack Wilson mati; masih bisa datang centeng yang lain.

Bukankah akan lebih baik seandainya Shane tak memilih jalan yang soliter, melainkan jalan politik: kembali ke lembah dan bersama yang lain memihak kehidupan?

Tapi saya mungkin keliru. Sebenarnya Shane tak sepenuhnya sebuah mithos kesendirian.

Ia datang dengan his dark solitude“, tapi ia pergi berbeda. Dalam keluarga Starrett ia alami bahwa kasih sayang lebih kuat ketimbang apa pun.

Itu sebabnya ia tak menyingkir membisu.

Ia berpesan untuk masa depan yang lebih baik. Ia membelai kepala bocah yang disayangi dan menyayanginya itu.

Goenawan Mohamad.

Related posts

Leave a Comment