Setya Novanto, Deep Throat, dan Bab Akhir Seorang Politisi

0
21 views

Kamis 29 March 2018 12:07 WIB
Red: Muhammad Subarkah

Akankah Setnov gentar dan mundur kembali?

Oleh: Denny JA*

Setnov (Setya Novanto) sedang menulis bab terakhir dari buku perjalanan politiknya. Sungguhpun itu hanya bab terakhir, dan sudah banyak bab sebelumnya, bab terakhir itu yang akan menentukan tempat Setnov dalam sejarah.

Apakah Setnov akan dikenang sebagai kisah tragedi semata? Ataukah akhirnya kisah tragedi itu bercampur pula dengan aroma harum seorang pahlawan? Mampukah dan maukah Setnov menutup karir politiknya dengan sejenis kisah happy ending bagi tumbuhnya pemerintahan yang bersih?

Setnov kini sepenuhnya memilih. Mega korupsi E- KTP adalah panggungnya. Ia berada di sentral proyek itu. Dalam korupsi berjemaah, uang itu seperti lagu bengawan solo: “air mengalir sampai jauh. Akhirnya ke laut.” Setnov tahu hulu dan hilir mengalirnya uang yang kini dituduh sebagai uang korupsi.

Apakah Setnov memilih menyimpan semua nama? Lalu ia sendirian bersama pelaku kelas kecil saja meringkuk di penjara? Ia biarkan pemain besar bergentayangan di luar sana, dan potensial mengulang korupsi berjemaah kembali? Ia biarkan “mafia korupsi” tetap terjadi lagi karena permainan mafia tetap aman tersembunyi? Lalu Setnov sendiri memilih dikenang semata sebagai titik hitam contoh seorang politisi?

Ataukah Setnov ingin menyumbang sesuatu bagi terciptanya pemerintahan Indonesia yang bersih di kemudian hari? Ia misalnya membagi pengetahuan dan pengalaman bagaimana “mekanisme permainan uang di pemerintahan,” untuk pelajaran ke depan.

Setnovpun berubah dari seorang politisi dan pada waktunya menjadi sebuah istilah “Setnov Effect.” Itu istilah yang mengacu pada kesaksian setnov yang akhirnya mengubah politik Indonesia.

Tentu kesalahan Setnov tetap tak bisa dihapuskan. Namun bab akhir karir politiknya, “Setnov Effect” itu menjadi harum karena misalnya, ia membongkar mafia, yang menyebabkan mekanisme mafia itu hilang dalam belantara politik Indonesia.

Beberapa hari lalu, Setnov sudah membuat heboh. Ia menyebut dana korupsi E-KTP mengalir bahkan sampai pada Puan Maharani, seorang calon “permaisuri” politik Indonesia berikutnya. Puan sudah membantah. Dan Puan berhak atas “asumsi tak bersalah”: bahwa Puan harus dianggap tak bersalah sampai pengadilan memutuskannya bersalah.

Akankah Setnov gentar dan mundur kembali? Ataukah Setnov mulai militan dengan semangat “tobat nasuha,” dan spirit “Khusnul Khatimah?”

-000-

Dalam politik di Amerika Serikat pernah terjadi seorang saksi yang mengubah politik. Saya membaca ulasan Jonathan Freedland di tahun 2008, Deep Throat’s Big Impact.

Deep Throat adalah nama samaran seorang saksi yang membocorkan sejenis mafia politik di Istana Presiden Gedung Putih. Tak nanggung, kasus penyadapan ilegal atas calon kompetitor politik sang presiden ternyata melibatkan presiden Amerika Serikat sendiri: Presiden Nixon.

Deep throat membocorkan rahasia itu lewat dua jurnalis bersemangat Washington Post. Kisah ini sudah difilmkan sangat bagus dalam “All the President’s Men.”

Siapa sebenarnya Deep Throat itu? Bertahun kemudian setelah kematian Presiden Nixon, barulah sang Deep Throat itu menampakkan diri. Ia adalah pejabat penting di FBI yang mengetahui politik kotor tingkat istana.

Mata publik terbuka. Betapa ternyata orang tertinggi di istana memainkan lembaga resmi FBI, CIA, dan IRS bukan untuk kebijakan negara, tapi untuk politik pribadi bagi persaingan pilpres berikutnya.

Deep Throat dikenang sebagai pahlawan karena memberikan efek besar bagi poltiik istana di kemudian hari. Tak mudah lagi bahkan seorang presiden menggunakan bawahannya untuk politik pribadi.

Tentu kasus Deep Throat berbeda dengan Setnov. Deep Throat tidak tersangkut masalah hukum. Ia juga membocorkan rahasia secara juga rahasia.

Namun Setnov dapat memberikan efek yang sama. Setnov dapat membongkar semua mafia keuangan itu di pengadilan. KPK, pers, politisi, pengusaha, publik luas akan mengalami “shock” jika ternyata memang banyak orang penting dan orang besar lain terlibat.

Namun Setnov akan harum karena kesaksiannya membuat publik menekan keras. Publik akan lebih bergema supaya mafia itu dilenyapkan. Pasca nyanyian Setnov, tekanan publik semakin menjadi agar check and ballance dalam pemerintahan yang bersih semakin dikeraskan.

Maukah Setnov? Mampukah Setnov? Beranikah Setnov?

Dalam hening, semoga Setnov membaca puisi Chairil Anwar: “Sekali Berarti. Sudah itu mati.” Ayo Setnov! Hidup hanya sekali. Buatlah berarti sebelum semua kita mati.

Tulislah bab akhir karir politikmu dengan sesuatu yang harum untuk dirimu sendiri dan negara. Bongkar itu mafia, jika memang ada.*

Maret 2018

******

Republika.co.id