Setiap Bulan Garut Pasok Blitar Rp15 Miliar

0
96 views

“Produktivitas Para Peternak Ayam Petelur Garut Kerap Tersumbat Mahalnya Harga Jagung Pipilan”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 10/12 – 2015 ).

H. Asep
H. Asep Sudrajat Karniwa.

Sedikitnya mencapai Rp15 miliar peredaran uang di Blitar Jawa Timur dipasok dari Kabupaten Garut, Jawa Barat, guna memenuhi kebutuhan sekitar 700 ton komoditi telur ayam buras, yang tak sepenuhnya bisa dipenuhi produk lokal.

Lantaran produktivitas para peternak ayam petelur di Kabupaten Garut, kerap tersumbat mahalnya harga jagung pipilan pencampur konsentrat pakan ternak tersebut.

Keluhan  berat itu, selama ini acap dikemukakan sejumlah peternak ayam petelur kabupaten setempat, termasuk H. Asep Sudrajat Karniwa kepada Garut News di Pasar Ciawitali Guntur Garut, Kamis (10/12-2015).

Bidang Usaha H. Asep.
Bidang Usaha H. Asep.

Dikemukakan Karniwa, kebutuhan 700 ton mata dagangan tersebut saban bulan. Dipastikan meningkat menghadapi Perayaan Natal dan Tahun Baru.

Kemudian terjadinya peningkatan harga jagung pipilan karena pernah dihentikan kegiatan import-nya, kini dampaknya masih terasa meski keran import kembali dibuka, sebab tak serta merta harga kembali menurun.

Padahal kebutuhan Garut capai 800 ton jagung pipilan setiap bulan, tetapi ternyata tak sepenuhnya bisa dipenuhi dari produk lokal atawa dalam negeri, yang katanya “surplus”.

Sedangkan di Blitar maupun Jawa Tengah, selama ini merupakan sentra produksi pecampur pakan tersebut, sehingga kebutuhan jagung pipilan bisa memadai terpenuhi.

Pasokan Telur ke Garut.
Pasokan Telur ke Garut.

Harga jagung pipilan menjadi Rp5 ribu per kilogram dari semula Rp2.970 per kilogram, sehingga biaya pakan menjadi Rp6.500 per kilogram setelah dicampur konsentrat, menurut Asep sangat memberatkan, dari sebelumnya berkisar Rp5.300 hingga Rp5.400 per kilogram.

Kini pada delapan bandar peternak ayam petelur Garut, saban bulannya hanya bisa memproduk 37 ton, dari kebutuhan konsumen Garut mencapai sekitar 700 ton, maka kekurangannya didatangkan dari Blitar.

Dengan harga grosir telur Rp19.500 per kilogram, kemudian dijual oleh pengecer pada kisaran harga Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram bahkan bisa lebih, ungkap pria berusia 48 tahun itu.

Dikemukakan pula, tak mampu jika kudu membeli pakan dari pabrik.

Karena itu, sangat diharapkan sentra produksi jagung pipilan di Banyuresmi dan Pameungpeuk bisa ditingkatkan produktivitasnya, yang hanya mampu memproduk 200 ton, dinilai patut mendapat bantuan peran serta Pemkab setempat, agar harganya pun tak dimainkan kalangan tengkulak.

Endog.
Endog.

Pemkab serta DPRD juga hendaknya bisa turun langsung ke pasar, menelisik penyebab sekaligus mencarikan solusi terjadinya kesenjangan kebutuhan konsumen dengan ketersediaan produk lokal, sekaligus pula mencari solusi pemenuhan kebutuhan 50 persen pakan ternak bersumber dari jagung pipilan.

Dalam pada itu, kebutuhan konsumen terhadap telur burung puyuh setiap bulannya mencapai 20 ton, Asep mengaku produksinya baru mampu memenuhi 10 ribu telur burung puyuh, maka bakal segera ditingkatkan menjadi 100 ribu butir.

Dari omset penjualan telur ayam buras, telur burung puyuh serta daging sapi capai Rp1,3 miliar, dan kini masih memerlukan investasi Rp2 miliar.

Ironisnya pula, lembaga perbankan selama ini hanya bisa memasok bantuan permodalan pada para pengusaha yang sudah jalan, atawa sudah jadi.

Perbankan, umumnya tak sudi memberikan bantuan pada pengusaha sejak dari embrio.

Sumber lain katakan, merebak-maraknya praktek bank keliling seperti Kosiva, apakah sebagai malaikat penolong atawa syetan….?

Menyusul praktek rentenir tak memiliki investor seperti lembaga perbankan, meski sama-sama menerapkan suku bunga, perbankan juga cenderung bersembunyi dibalik legalitas dari pemerintah.

Tetapi perbankan tak mau melirik desakan kebutuhan modal usaha penjual karedok atawa lotek, karena memerlukan agunan.

Sedangkan persyaratan mendapat pinjaman dari bank keliling tak seketat lembaga perbankan, karena itu bank keliling pun patut dibina dan diadvokasi pemerintah agar bunganya tak memberatkan konsumen, ungkap sumber yang enggan disebut namanya itu.

********