Setelah Kocok Ulang Kabinet??

0
72 views

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Kamis, 13/08 – 2015 ).

Melirik Bensin.
Melirik Bensin.

Presiden Joko Widodo memang memenuhi desakan publik agar merombak kabinet. Jokowi mengganti tiga Menteri Koordinator, Menteri Perdagangan, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Sekretaris Kabinet.

Tetapi penggantian ini jelas kudu disertai langkah-langkah cepat mendongkrak kinerja kabinet, khususnya di bidang ekonomi. Langkah cepat perlu lantaran, selama hampir setahun kabinet bertugas, kinerjanya masih belum memuaskan.

Muka-muka baru di kabinet diharapkan bisa menjawab tantangan ekonomi semakin berat. Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution, dan Menteri Koordinator Bidang Maritim Rizal Ramli, misalnya, dituntut bisa segera memerbaiki indikator perekonomian, seperti kurs rupiah, inflasi, hingga pertumbuhan ekonomi, yang masih jauh dari harapan.??

Pertamini.
Pertamini.

Pertumbuhan ekonomi salah satu mengecewakan. Dalam dua kuartal, pertumbuhan ekonomi terus turun dari 5,01 persen pada kuartal pertama menjadi 4,7 persen pada kuartal kedua.

Tim ekonom Morgan Stanley bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun cuma mencapai 5,3 persen atawa lebih rendah daripada target pemerintah 5,7 persen.??

Lambatnya pertumbuhan itu tentu tak hanya dipicu faktor belanja pemerintah yang lambat. Faktor pertumbuhan masih disokong konsumsi rumah tangga dan faktor eksternal juga ikut memengaruhi.

Tetapi hal terpenting amat berperan tak adanya sosok menjadi dirigen pembangunan selama ini. Menteri Sofyan Djalil, misalnya, saat menjabat dinilai belum bisa mengharmoniskan kementerian ekonomi.??

Kehadiran Darmin diharapkan bisa memenuhi keinginan pasar. Bagaimanapun, pasar membutuhkan sosok bisa dijadikan pegangan. Akibat tak adanya sosok dianggap ideal, kondisi pasar saat ini cenderung melemah.

Pengalaman Darmin memimpin Bank Indonesia dan Direktorat Jenderal Pajak jelas merupakan modal penting menenangkan dan bahkan meningkatkan kembali kepercayaan pasar. ??

Darmin, bersama Menteri Perdagangan baru, Thomas Lembong, juga dituntut bisa meningkatkan porsi investasi dalam produk domestik bruto (PDB) yang turun dari 32,5 persen menjadi 31,94 persen.

Mereka juga diminta lekas mengendalikan inflasi kini berada di level tertinggi dibanding lima tahun lalu. Saat ini harga barang-barang pokok di pasar naik nyaris tanpa kontrol. Ini jelas tantangan yang tak mudah bagi kementerian ekonomi.??

Situasi ekonomi global juga tak kalah pelik. Menguatnya dolar Amerika Serikat dan kebijakan Cina menurunkan nilai tukar (devaluasi) yuan memukul indeks saham dan rupiah. Dalam jangka pendek, devaluasi yuan berdampak membanjirnya impor barang dari Cina dengan harga semakin murah.

Efeknya, defisit neraca perdagangan akan semakin lebar jika Indonesia masih berkutat mengandalkan ekspor komoditas mentah. ??

Dengan sejumlah fakta itu, pemerintah harus segera mengkonsolidasikan kebijakan ekonominya. Tak ada waktu bersulang setelah mendapat jabatan baru.

Saatnya bekerja memulihkan ekonomi masyarakat kini dihajar kehidupan makin sulit.

********

Opini Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here