Setelah Cuitan Mematikan

0
31 views

Garut News ( Kamis, 20/11 – 2014 ).

Ilustrasi. Diperlukan Perangkat Pemadam Kebakaran. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Diperlukan Perangkat Pemadam Kebakaran. (Foto : John Doddy Hidayat).

Tawuran dipicu sebuah cuitan di Twitter membuat banyak orang terperangah. Apalagi perkelahian ini menimbulkan korban meninggal.

Pendidikan di sekolah menengah mesti dibenahi. Upaya melarang mereka berkelahi tak akan berhasil jika pendidikan semata-mata berorientasi pada nilai ujian.

Perkelahian antara murid SMA 109 dan SMA 60 Jakarta di Jakarta Selatan itu menewaskan Andi Audi Pratama, seorang pelajar.

Tawuran itu diperkirakan pecah lantaran provokasi akun Twitter @JalurSMA kerap digunakan meledek dan memanas-manasi pelajar sekolah lain.

Beberapa saat sebelum tawuran, pemilik akun @JalurSMA mencuitkan provokasi. Mereka memberi selamat kepada Psycho? sebutan mereka untuk pelajar SMA 60? karena berhasil mengalahkan Sersan 109 (pelajar SMA 109) dalam sebuah tawuran.

Tweet itu memancing tweet war di antara pelajar kedua SMA. Ujungnya, mereka bersepakat menggelar tarung ulang.

Akibat perkelahian kedua inilah Andi, siswa SMA 109, meninggal.

Polisi berusaha mencari pemilik akun @JalurSMA, meski belakangan akun itu berubah nama dan menghapus semua tweet mereka.

Tindakan polisi tepat sebab pemilik akun memprovokasi para pelajar berkelahi itu wajib memertanggungjawabkan perbuatannya.

Hanya, pemblokiran akun itu? jika tak dinonaktifkan pemiliknya? bukanlah solusi utama. Sebab, mereka bisa membuat akun lain dan melakukan hal sama.

Setidaknya ada empat akun lain di Twitter melakukan hal kurang-lebih sama dengan apa dilakukan @JalurSMA: memprovokasi, menjadi saluran untuk janji tawuran, dan kanal untuk gagah-gagahan para pemenang.

Media sosial daring cuma bentuk lain dari pemancing tawuran. Dulu, sebelum media sosial online ada, mereka bisa terpancing hanya karena grafiti nama kelompok mereka pada sebuah tembok dihapus atau ditimpa oleh grafiti nama kelompok lain.

Provokasi dan upaya memanas-manasi juga kerap dilakukan para alumnus secara langsung dengan mendatangi tempat-tempat adik kelas mereka nongkrong.

Media sosial hanya memudahkan provokasi ini.

Yang mesti dipertanyakan: kenapa mereka bisa begitu mudah terpancing oleh provokasi, baik lewat Internet maupun tidak?

Ibarat petasan, sumbu para pelajar ini terlalu pendek. Kemarahan mereka begitu mudah terpicu. Hal ini tidak mungkin diselesaikan dengan imbauan.

Kami yakin tak ada sekolah yang tak melarang murid-muridnya berkelahi. Di setiap upacara bendera pada Senin pagi, hal ini pasti kerap disinggung.

Pencegahan ini hanya bisa dilakukan jika kita membenahi pendidikan kita, mengubah fokusnya dari penekanan pada pengetahuan dan pencapaian nilai ujian bagus menjadi penanaman nilai-nilai kemanusiaan.

Dari mencetak para pekerja menjadi mencetak manusia berkarakter mulia. Selama ini kita terlalu berorientasi pada nilai ujian.

Pelajaran agama dan moral hanya didiktekan dan dihafalkan demi bisa menjawab soal ujian dengan tepat, sehingga siswa kehilangan kepekaan sosialnya.

*******

Opini/Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here