Sepuluh Kesamaan Kita dengan Manusia Purba

by

Garut News ( Senin, 18/11 ).

Tengkorak Homo neanderthalensis (kiri), dan tengkorak perempuan modern Homo sapiens. | David Liitschwager/National Geographic
Tengkorak Homo neanderthalensis (kiri), dan tengkorak perempuan modern Homo sapiens. | David Liitschwager/National Geographic

Lewat penelitian ilmiah, dan kemajuan ilmu arkeologi, kita bisa melihat lebih baik bagaimana kehidupan para manusia prasejarah.

Ternyata, kita tak hanya menemukan bagaimana mereka hidup, tetapi juga bisa mengetahui betapa kita memiliki banyak persamaan dengan mereka.

Apa saja?

Bedah otak

Membedah otak, spesialisasi masa kini para praktisi medis.

Lantaran otak organ sangat kompleks, tindakan ini hanya bisa dilakukan dengan ilmu pengetahuan, dan teknologi modern.

Tetapi, ternyata, bedah otak bukan hanya bisa dilakukan manusia maju.

Menurut Giorgio Sperati, seorang sejarawan medis, ternyata separuh pasien prasejarah dibedah otaknya berhasil bertahan hidup bertahun-tahun setelah tindakan dilakukan.

Ini terbukti adanya pertumbuhan kembali jaringan otak sekitar batok kepala dioperasi.

Para arkeolog mengklaim, bedah otak dilakukan sejak 8000 sebelum Masehi.

Alat bantu seks

Meski tabu dibicarakan, bisnis alat bantu seksual di Amerika Serikat saja mencapai nilai sekitar Rp175 triliun per tahun.

Artinya, penggunaannya sangat memasyarakat.

Ternyata, alat-alat bantu seperti itu, digunakan pada era Paleolitikum.

Dari sebuah goa di Jerman, arkeolog menemukan sepotong batu lanau berukuran 20 cm, dan berdiameter 3 cm.

Diperkirakan, batu tersebut dibuat sebagai alat pemuas kebutuhan, sekaligus memecahkan batu.

Narkoba

Pada masa jaya, salah satu gembong narkoba terkenal dunia, Pablo Escobar, sempat memiliki kekayaan hingga sebesar Rp34,8 triliun.

Ini bukti, pasar narkoba di seluruh dunia sangatlah besar.

Tetapi, tahukah Anda, nenek moyang kita juga senang menggunakan obat-obat seperti itu?

Dari sebuah penelitian arkeolog di Kepulauan Karibia, terungkap warga setempat menggunakan wadah keramik, dan tube menghirup bubuk, dan asap halusinogen.

Caranya sama seperti orang modern mabuk.

Namun, para arkeolog yakin pada manusia prasejarah, tindakan tersebut dilakukan bertujuan spiritual.

Anjing peliharaan

Sebanyak 37 persen rumah tangga di Amerika Serikat memilihara anjing.

Di Eropa, satu dari empat rumah punya anjing.

Dalam setahun, pemilik anjing bisa menghabiskan lebih dari Rp10 juta, merawat hewan kesayangannya itu.

Jika Anda mengira, pada masa prasejarah anjing hanya hewan pekerja bagi manusia, Anda keliru.

Dari fosil-fosil anjing berusia 33 ribu tahun ditemukan di Siberia Timur, terungkap anjing-anjing masa lalu, juga diberi makanan mewah, bahkan perhiasan oleh pemiliknya.

Pesta dan minum bir

Kecintaan manusia masa kini terhadap minuman beralkohol tersebut, sangatlah fenomenal.

Minuman seperti ini hampir bisa dipastikan hadir pada pertemuan sosial, mulai dari pesta keluarga hingga perayaan natal.

Tahun lalu, di Siprus, arkeolog menemukan nenek moyang manusia mulai memproduksi bir sejak 11.000 tahun lalu.

Peneliti yakin, bir prasejarah memiliki fungsi memererat hubungan antara komunitas-komunitas prasejarah, dan digunakan pada upacara keagamaan.

Kesehatan gigi

Manusia modern menghabiskan banyak waktu, dan energi menjaga kesehatan, dan kebersihan gigi.

Sebagian besar dari kita tak sanggup mengabaikan rutinitas ini lebih dari satu hari.

Tetapi, bukankah sikat gigi, pasta gigi, atawa dokter gigi baru hadir pada masa modern?

Jangan salah.

Manusia purba ternyata memiliki gigi jauh lebih sehat, dan kuat dibanding kakek nenek kita yang menyikat giginya sejak kecil.

Menurut para antropolog, patut disalahkan kemajuan di dunia agrikultur lantaran gula, dan makanan kaya karbohidrat lain, seperti nasi dan jagung, tak ramah gigi.

Bandingkan dengan makanan manusia prasejarah membuat dokter gigi tak dibutuhkan.

Perubahan iklim

Perubahan iklim topik kontroversial, baik di dunia sains maupun politik, pada manusia modern.

Perubahan, baik disebabkan aktivitas manusia atawa akibat penyebab alami membuat kita perlu beradaptasi.

Lebih dari 500 perjanjian internasional dibuat mengontrol iklim berubah.

Nenek moyang kita tak punya undang-undang atawa perjanjian seperti itu.

Tetapi, bukan berarti mereka tak awas terhadap perubahan iklim.

Buktinya, arkeolog menemukan saat terjadi perubahan iklim, khususnya di Afrika, manusia prasejarah memersiapkan diri dengan membuat perangkat-perangkat menyelamatkan diri.

Makanan

Manusia, spesies omnivora.

Meski kita sangat menggemari daging panggang, kita tetap memerhatikan apa yang kita makan, dan makan seimbang antara sayur, dan daging.

Glynn L Isaac, antropolog banyak menghabiskan waktu meneliti makanan prasejarah, menemukan mereka juga lebih memilih makan seimbang, antara daging dan sayur.

Ini serupa dengan dilakukan manusia modern.

Dalam studinya, Isaac dan timnya menemukan manusia prasejarah membuat seperangkat alat memotong daging, dan seperangkat alat lain memotong kacang-kacangan atawa tumbuhan.

Kanker

Kita menganggap kanker, penyakit modern.

Pabrik-pabrik meracuni sungai dengan limbah.

Polusi asap kendaraan, pesawat terbang, dan uji coba nuklir mengotori udara, serta meningkatkan paparan radiasi pada tubuh.

Ternyata, kanker bukanlah penyakit muncul setelah revolusi industri.

Louis Leaky, seorang arkeolog terkemuka, menemukan Homo kanamensis tinggal di Kenya memiliki gumpalan tak lazim pada rahangnya.

Dari inspeksi dilakukan spesialis, ternyata gumpalan tersebut tumor dan ternyata, H kanamensis itu mengidap osteosarcoma, atau kanker tulang.

Kosakata

Jauhnya jarak antara kita, dan manusia prasejarah menjadikan kita mengira terdapat perbedaan bahasa di antara kita, dan mereka.

Banyak dari kita mengira manusia prasejarah berbicara bergumam, atawa bahasa tak terstruktur dengan baik.

Kita yakin jika manusia prasejarah berbicara dengan kita saat ini, kita tak memahami satu pun kata ia ucapkan.

Sayangnya, mungkin tak demikian adanya.

Sekelompok peneliti asal Inggris, dan Selandia baru menemukan beberapa kata kita miliki saat ini digunakan sejak era Mesolitikum, 15.000 tahun lalu.

Mereka menyebutkan, kata seperti “hand” atawa “fish” memiliki arti sangat serupa dengan arti kata tersebut pada masa kini.

(Muhammad Firman/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com