Sepatu

0
9 views

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Ahad, 27/09 – 2019 ).

Sepatu.
Sepatu.

Ada sepasang sepatu tua yang kemudian jadi termasyhur, di luar perhitungan pembuatnya yang tak diketahui.
Pada 1886, Van Gogh mampir di sebuah pasar loak di Paris. Ia melihat sepasang sepatu dan membelinya. Di suatu hari yang hujan, perupa Belanda yang tinggal di ibu kota Prancis itu mengenakannya untuk berjalan, dan ia berjalan lama sekali.

Ia ingin membuat sepatu itu penyot-untuk dilukis. Kabarnya ia pernah mengatakan, “Sepatu kotor dan bunga mawar bisa sama-sama bagus.”
Ada yang berteori bahwa Van Gogh melukis itu untuk mengutarakan perjalanan hidupnya yang sulit. Saya tak begitu yakin. Van Gogh banyak sekali menggambar alam benda, ya, bahkan beberapa kali melukis sepatu dan sandal petani, tapi ia tak mengisyaratkan apa-apa dengan itu: benda-benda itu mempesonanya, seakan-akan ia melihat masing-masing buat pertama kalinya dalam hidup.

Dengan demikian ia merasa ada yang bisa disyukurinya dalam 24 jam. Dari itulah kreativitas memang bermula: kemampuan untuk tergerak oleh dan menggerakkan sesuatu yang tak berguna. “Apa yang saya cari dalam lukisan adalah satu cara untuk membuat hidup bisa tertanggungkan,” demikian tulisnya dalam sepucuk surat kepada adiknya, Theo, pada Agustus 1888.

Sepatu tua itu tak berguna: ia terpisah dari kaki pemakainya, terpotong dari niat pembuatnya. Ia kini hidup menyendiri dalam pigura yang disimpan dan dipasang dari museum ke museum. Ia tak jadi obyek siapa pun. Tapi ia juga tak jadi subyek yang mengarah kepada siapa pun. Ia tak mengarahkan, ia tak diarahkan.

Pada 1930, Martin Heidegger memandang pigura itu di sebuah pameran di Amsterdam. Agaknya filosof itu tersentuh, tergerak untuk menulis-dan tentu saja menafsir. Dari bagian dalamnya yang sudah lapuk, yang tampak dari ujung laras yang menganga gelap, ia melihat sebuah riwayat: ini sepasang sepatu petani yang berjerih payah tapi kukuh.

Pada kulitnya ia lihat “kelembapan dan juga kekayaan tanah” tempat alas kaki itu menapak. Heidegger pun membayangkan kesunyian jalan ladang di bawah sol yang kotor itu ketika senja datang. Di sana “bergetar seruan bumi yang bisu”. Sepatu ini, tulisnya, “bagian dari tanah, terlindung di dunia perempuan peladang yang mengenakannya”.

Tapi tentu saja sepasang sepatu dua dimensi dalam pigura itu-yang seakan-akan telah mengajak seorang filosof untuk merenung dan mengaitkannya dengan kehidupan tertentu-pada mula dan akhirnya cuma diam. Hanya sang filosof yang menyusun kata-kata; ia membangun sebuah citra tentang dunia petani di musim dingin, pekerja keras yang setia kepada bumi tempat hidupnya-dan pesona dari semua itu.

Heidegger tentu saja tak salah-tapi siapa yang bisa mengatakan tafsirnya tepat? Ada yang menganggap perspektifnya mencerminkan kecenderungannya di Jerman tahun 1930-an, ketika kaum Nazi mengumandangkan kesetiaan kepada Blut und Boden, “darah dan tanah”, kiasan asal-usul yang belum tercemar.

Heidegger sendiri menyukai kehidupan yang umumnya dianggap “murni” itu: di Hutan Hitam, Schwarzwald, di dekat Freiburg, ia punya pondok yang seakan-akan bagian dari bukit dan pepohonan. Di sana ia tercatat menuliskan renungannya. Di sana ia pernah tercatat sebagai seorang Nazi.

Hari-hari ini Heidegger dan dongeng tentang asal-usul yang belum tercemar mungkin mulai dilupakan. Sepasang sepatu dalam lukisan Van Gogh itu kini sepasang sepatu lelaki dan perempuan yang lelah, yang berjalan jauh dari Suriah atau Sudan ke tepi benua, meninggalkan asal-usul.

Zaman telah tak lagi memberikan kemewahan dan rasa tenang sebuah wilayah. Dan apakah artinya kesetiaan kepada “darah dan tanah” ketika dari sana yang datang hanya kebencian, ledakan bom bunuh diri, dan penyembelihan?

Para migran berjalan, mencari wilayah baru, mencari ruang yang belum tentu tanah yang dijanjikan Tuhan.
Mereka, tentu saja, bukan pelaku dan penderita baru dalam sejarah. Berabad-abad lamanya demografi dibentuk oleh gelombang migrasi, oleh gerak perantau, oleh keuletan para nomad, mereka yang berangkat.

Memang acap kali para pengkhotbah ideologi kemurnian menyerukan “kembalilah kepada huruf yang pertama, asal yang murni, berpeganglah kepada akarmu”. Tapi manusia bukan pohon yang hanya berakar satu.

Deleuze, yang berbicara dengan fasih dan memukau tentang “deteritorialisasi”, mungkin pemikir yang pas dengan suara kegemasan zaman ini, ketika ribuan migran melintasi perbatasan yang sebenarnya juga berubah-ubah. “Kita mesti berhenti mempercayai pohon, sulur, dan akar tunjang,” katanya.

Meskipun sebenarnya ada yang ganjil dalam kata-kata itu: sebab pohon juga sebuah riwayat, hutan juga sebuah kejadian, selalu “menjadi”. Ada yang tumbuh setelah kembang sari terbang berpindah dibawa angin, dibawa burung. Tanpa sepatu.

Atau lebih tepat, tanpa sepatu Martin Heidegger.

Goenawan Mohamad/Tempo.co