Seorang Penderita MDR Tewas Diduga Tak Minum Obat

0
93 views

Garut News ( Rabu, 18/02 – 2015 ).

Tatang Wahyudin.
Tatang Wahyudin.

Seorang penderita Tb MDR  (Multy Drug Resistent) Arif(32) tewas di rumahnya Kampung Sadahurip Garut Kota, Sabtu (14/02-2015), sekitar Pukul 20.05 WIB.

Dugaan penyebab tewasnya Arif tersebut, lantaran pada Selasa (17/02-2015), diketemukan tiga paket obat yang diperkirakan kudu diminum penderita antara lain pada Sabtu dan Ahad.

Bahkan orangtua Arif, Eru katakan Rabu (18/01-2015), selain terdapat tiga paket diduga obat MDR yang tak dikonsumsi, juga diketemukan puluhan obat di dalam box milik almarhum Arif.

Sehingga Eru sempat menjadi panik sekaligus memertanyakan dugaan jenis obat yang tak diminum itu, sebab proses pengobatan penderita MDR harus diawasi langsung “Pengawas Minum Obat” atawa PMO.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit pada Dinkes kabupaten setempat Tatang Wahyudin di ruang kerjanya katakan, proses penyembuhan penderita Tb biasa berlangsung selama berkisar enam hingga sembilan bulan, obatnya pun bisa dibawa ke rumah pasien.

Sedangkan proses penyembuhan penderita MDR, pasien yang harus datang ke Puskesmas untuk disuntik kemudian meminum obat diawasi langsung PMO.

dr Yanto, Sp.KK
dr Yanto, Sp.KK

Malahan pasien MDR, satu bulan sekali kudu “check up” kondisi kesehatannya ke RSHS Bandung, dengan total proses penyembuhannya selama satu hingga dua tahun, ungkapnya.

Tatang Wahyudin mengemukakan, masih banyaknya obat yang diketemukan di kamar almarhum Arif itu, kemungkinan obat yang tak diminum ketika berstatus penderita Tb biasa, katanya.

Namun demikian pihaknya segera melakukan investigasi, termasuk mengonfirmasi sekaligus menugaskan petugas Puskesmas Siliwangi yang selama ini menangani Arif, agar segera menelisik fenomena penemuan obat-obatan ini.

Didesak pertanyaan Garut News, Rabu (18/02-2015), Tatang Wahyudin mengemukakan pula, jika terbukti terdapat obat MDR yang tak diminum Arif, berarti sangat mendesak harus terdapat perbaikan pada proses jasa layanan kesehatan, terutama bagi penderita MDR, katanya pula.

Tetapi dia tak menyebutkan mengenai sanksinya.

Kembali didesak pertanyaan indikasi banyaknya praktek dokter swasta yang mengobati pasien Tb tak sesuai DOTS atawa standar WHO?, dikatakannya pihaknya hanya memiliki kewenangan menghimbau.

Sedangkan mengenai peringatan, maupun sanksi penghentian ijin praktek ada pada ranah Bidang Regulasi Kebijakan Kesehatan.

Kendati demikian terdapat pula dokter swasta praktek, bisa bekerjasama mengobati pasien penderita Tb.

Pihaknya pun siap menyiapkan obat gratis, mengenai jasa mediknya tergantung kebijakan dokter praktek swasta tersebut.

Diakui Tatang Wahyudin, terdapatnya penderita Tb yang lebih yakin berobat pada dokter praktek swasta, meski banyak pula yang mengalami “droup out” atawa berhenti berobat di tengah jalan, lantaran proses pengobatannya lama juga kemungkinan berbiaya besar.

Hingga triwulan ketiga September 2014 terdapat temuan 1.208 penderita “Baksil Tahan Asam” (BTA) positip, 9.057 suspek penderita Tb paru, serta terdapat 20 penderita MDR.

Pengelola Program “Komite Penanggulangan AIDS” (KPA) Guntur Yana Hidayat mengingatkan, dari 297 pengindap AIDS di Kabupaten Garut, 60 persen di antaranya juga penderita Tb paru, sedangkan penderita HIV kini mencapai 105.

Dalam pada itu Ketua “Ikatan Dokter Indonesia” (IDI) kabupaten setempat, dr Yanto, Sp.KK antara lain berpendapat, upaya penanggulangan Tb paru hendaknya pula berbasiskan nilai-nilai adiluhung kearifan lokal masyarakat.

Di antaranya mengadopsi arsitek rumah sehat, juga perlunya menumbuhkan perilaku hidup sehat, lantaran tingginya kematian ibu saat bersalin juga sebagian besar penyumbangnya Tb paru.

Agus Rahmat Nugraha dari Tim Peneliti Ansit Universitas Achmad Dahlan Yogyakarta dan STAIDA Muhammadiyah Garut menyatakan, temuan peneliti berdasar metode Daly menunjukkan, pemerintah juga masyarakat kudu mengeluarkan biaya Rp15,4 miliar per tahun untuk penanggulangan Tb ini.

Penyebab langsungnya Mycrobacterium tuberkulosis, sedangkan penyebab tak langsung hunian tak sehat dan rendahnya kesadaran perilaku sehat, dengan basis atawa akar permasalahannya berupa kesejahteraan rendah dan kebijakan anggaran pemerintah.

Bahkan di luar Kabupaten Garut, terdapat Pemerintah Daerah mengalokasikan khusus dari APBD bagi penanggulangan jenis penyakit menular penyebab kematian utama di Indonesia ini.

Produk analisis situasi Tb di Kabupaten Garut, merekomendasikan mendesak perlu program teknis memerbaiki kondisi lingkungan penduduk, agar memenuhi persyaratan hunian ideal.

Kemudian, perlu program edukasi kesehatan terkait Tb dengan melibatkan para pihak non pemerintah, kelompok adat, dan keagamaan.

Serta rekomendasi sangat diperlukannya “Political Will” berupa kebijakan anggaran.

Dikemukakan Agus Rahmat Nugraha, faktor pengaruhi pravelensi Tb di Kabupaten Garut, terdiri kondisi individu berupa pendidikan, perilaku, dan pemahaman.

Disusul kondisi lingkungan meliputi pencahayaan, kelembapan, serta suhu.

Kemudian kondisi layanan jasa kesehatan berupa kualitas SDM, dukungan dana, serta ketersediaan fasilitas, katanya.

Menyusul di Kabupaten Garut masih banyak “Rumah Tak Layak Huni” (RTH).

********

Esay/ Foto : John Doddy Hidayat.