Seorang Buruh Nelayan Tewas Mengenaskan di RSU

Garut News ( Jum’at, 04/04 – 2014 ).

Ilustrasi. Buruh Nelayan. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Buruh Nelayan. (Foto : John Doddy Hidayat).

Seorang buruh nelayan, penderita tumor laring asal Kampung Pasawahan Kulon RT 05/05 Desa Mancagahar, Pameungpeuk, sekitar 95 km arah selatan dari Pusat Kota Garut, Enur(53), tewas mengenaskan, di ruang “Instalasi Gawat Darurat” (IGD) RSU dr Slamet, Kamis (03/04-2014).

Ironisnya, korban tewas diduga kuat bukan lantaran jenis penyakit dideritanya, melainkan akibat kelalaian petugas RSU.

Pasien tewas diduga retak bagian kepalanya sebab terjatuh dari tempat tidur, kepalanya terbentur dinding lantai ruang UGD, sebelumnya kesulitan bernapas.

Korban tewas itu, setelah sekitar 15 jam sempat dirawat di ruang UGD.

Isteri pasien, Ny. Idat Rohidat katakan, sesaat sebelumnya kejadian, suaminya mengalami sesak napas.

Idat berlari mencari petugas dimintai pertolongan.

Sebab ketika itu, ruang UGD suaminya dirawat, tak terdapat seorang pun perawat atawa dokter jaga.

Saat kembali mencari pertolongan, Idat kaget lantaran suami terjatuh ke lantai ruangan, bagian kepala mengucurkan darah segar.

Idat pun berteriak hingga menimbulkan kegaduhan di ruang UGD.

Sejumlah petugas berdatangan berupaya memberi pertolongan darurat.

Namun tak lama, Enur wafat, sebelum sempat mendapat pertolongan.

“Sangat aneh sekali. Masa tak ada petugas berjaga mengawasi pasien? Sejak datang di UGD kemarin, suami saya tak ditangani serius. Bahkan dibiarkan hingga tewas berkondisi mengenaskan,” sesal Idat, menangis.

Suaminya itu, pernah dibawa ke RSU dr Slamet Garut guna diperiksa, dan mendapatkan perawatan.

Namun ketimbang mendapat perawatan, dan pengobatan diharapkan, suaminya tak menjalani pemeriksaan apapun dari petugas rumah sakit.

Bahkan pihak rumah sakit langsung merujuk agar dibawa ke RSHS Bandung.

“Enggak tahu, kenapa seperti itu? Mungkin, lantaran suami saya berobat menggunakan Jamkesmas…” ungkap Ny. Idat.

Karena ingin suami sembuh, Idat pun membawa Enur ke RSHS, dan sempat dirawat beberapa hari.

Namun lantaran tak memiliki cukup bekal dan biaya, akhirnya membawa suaminya kembali pulang ke rumah di Pameungpeuk.

“Ternyata meski menggunakan Jamkesmas, obat-obatan tetap mesti dibeli. Ya, jangankan membeli obat, keperluan makan sehari-hari selama di sana pun dari mana? Untuk makan sehari-hari di rumah pun kami hanya mengandalkan belas kasihan tetangga,” sesal ibu empat anak itu.

Dikemukakan, sejak menderita penyakit tumor laring setahun lalu, suaminya seorang buruh nelayan tak bisa mencari nafkah.

Sehingga nyaris seluruh kebutuhan makan sehari-hari keluarga dari belas kasihan para tetangganya.

******

Noel, JDH.

Related posts

Leave a Comment