Senja di Jerusalem

0
30 views
Kaum Wanita Palestina ikut shalat berjamaah di kompleks Masjidl Aqsa. (Ammar Awad/Reuters).

Jumat , 28 July 2017, 01:03 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Hadi Supeno *)

Kaum Wanita Palestina ikut shalat berjamaah di kompleks Masjidl Aqsa. (Ammar Awad/Reuters).
Kaum Wanita Palestina ikut shalat berjamaah di kompleks Masjidl Aqsa. (Ammar Awad/Reuters).

Kebrutalan Israel terhadap warga Palestina di kompleks Masjidil Aqsha di bulan Juli 2017 mengingatkan kunjunjungan saya ke Baitul Maqdis beberapa waktu lalu. Inilah catatan yang tercecer dari kunjungan tersebut.

Penjagaan tentara Israel

Setelah ditahan selama 4 jam tanpa alasan di Imigrasi Israel perbatasan Jordania, kami melanjutkan perjalanan menuju Jerusalem. Lepas dari Jerikho dan kawasan Laut Mati, langit menghitam pekat, alam merembang petang, menyusul hujan deras yang mengguyur tanah subur di sepanjang wilayah Tepi Barat Lembah Jordan.

Gerimis tipis masih turun saat saya sampai di kawasan “panas” Jerusalem Timur atau Kota Lama. Jerusalem Timur berada di dalam benteng tua warisan kekuasaan Ottoman dari Turki seluas lebih kurang 5 km persegi.

Kami masuk kompleks Kota Tua setelah melewati pos penjagaan tentara Israel. Berjalan kaki kami melewati lorong panjang berbelok belok diapit perumahan padat dan kumuh penduduk Muslim Jerusalem. Di semua sudut, berjaga 2 sampsi 5 orang tentara Israel, menenteng senjata laras panjang.

“Ini jalan ke masjid, Masjidil Aqsa, di kawasan Muslim, mengapa semua sudut dijaga tentara bersenjata lengkap seperti sedang perang?” Tanyaku kepada Jamal, sang pemandu perjalanan.

“Inilah Palestine, inilah pemandangan sehari-hari. Kami hidup dalam todongan senjata. Bentrokan tentara zionis dengan kami bukan sebuah berita besar. Bahkan kematian sekali pun”, kata Jamal, warga Palestine, yang fasih berbahasa Indonesia.

Seperti memperoleh peluang curhat, Jamal lantas bercerita banyak soal penderitaan bangsanya.

Ia ceritakan bagaimana rasa terhinanya bangsa Syam yang pernah berjaya namun kini hidup dalam kehinaan. Setiap saat penuh dengan pengawasan kaum zionis. Hidup di negeri sendiri, keluar tembok harus membawa paspor. Warga Tepi Barat dan Gaza dilarang masuk ke Masjidil Aqsa. Masjidil Aqsha buka tutup dalam kendali tentara Israel.
Bukankah ini masjid kami, masjid di negeri sendiri, mengapa mesti penuh sejumlah larangan?

Lihat itu permukiman Muslim, lanjut Jamal dengan penuh emosi, setiap hari datang kaum perayu kaki tangan pemerintah zionis agar kami menjual rumah dan tanah tersebut kepada mereka. Lihat, lihat, satu rumah di sana, harga wajar jual beli sesama Muslim dihargai US 300 ribu dolar, tetapi Israel berani membayar US 2 juta dolar.

Dari mana uangnya? Para diaspora Yahudi di seluruh dunia yang membiayai. Luar biasa bukan? Sampai hari ini, kebanyakan masih bertahan tak mempan rayuan jutaan dolar itu, tapi entah sampai kapan. Dan bila kami mau menerima tawaran itu, artinya bukan saja penyerahan kedaulatan negeri, tetapi juga harga diri kaum Muslim di seluruh dunia.

Nafsu menguasai kompleks Masjidil Aqsa inilah yang menjadi sumber bentrokan antara kami dengan Israel zionis. Mereka buat agar kami tidak kerasan di sini, mereka buat aneka provokasi, juga iming-iming uang jutaan dolar, tujuannnya pengusiran warga Jerusalem Timur, dengan cara baik-baik, maupun cara kekerasan.

Jika rumah-rumah penduduk sudah terbeli, yang berarti pemukiman dihuni kaum Yahudi, sangatlah mudah bagi Israel untuk menguasai penuh kompleks masjidil Aqsa. Bukankah cita-cita Israel ingin beribukota di Jerusalem? Bukankah Israel menganggap Masjidil Aqsha adalah tempat suci agama Yahudi?

“Namun Alhamdulillah mayoritas masih istiqomah. Kami bertahan, kami melawan, maka bentrokan antara kami dengan Israel selalu saja terjadi,” tambah Jamal dengan nada bergetar menahan amarah.

Sampai kapan warga Jerusalem Timur tak tergoda iming-iming jutaan dolar tidak ada yang tahu. Satu dua orang sudah ada yang memilih tawaran itu, dengan risiko harus bersitegang dengan saudara-saudara sendiri.

Tak butuh kecaman

Maka, sesungguhnya kami sangat-sangat membutuhkan solidaritas dan bantuan dari umat Muslim di seluruh dunia, tambah Jamal. Bukan sekedar pernyataan mengecam dan mengutuk. Bukan sekedar membawa insiden bentrok dan kekejaman Israel ke sidang Majelis Umum PBB. Itu tak berguna kawan. Yang kami butuhkan adalah bantuan nyata.

Apakah itu? Seperti diaspora Yahudi yang solid mengumpulkan dana untuk perluasan pembangunan pemukiman ilegal di Tepi Barat, dan juga memburu rumah-rumah penduduk di Jerusalem Timur, apakah kaum kaya raya di negara-negara Timur Tengah, juga negara-negara Muslim di seluruh dunia tidak bisa melakukannya?

Ah, jika membeli klub-klub sepak bola di Eropa yang jutaan ponsterling saja mampu, pastilah membeli rumah-rumah di Jerusalem juga mampu. Tak ada yang tak bisa dilakukan jika kaum Muslim bersatu.

Ingat kawan, kata Jamal dengan suara keras dan mata tajam menatap kami. “Yang kami jaga adalah Masjidil Aqsa, kiblat pertama umat Islam. Adakah kehormatan yang lebih tinggi dalam kehidupan seorang Muslim daripada mempertahankan masjid, dan tempat suci berdasarkan sabda Nabi?”

Nun jauh di sana, juga saya dengar di negeri antum, orang sedang ramai berjuang mendirikan negara khilafah. Hahaha, kami di sini tertawa. Di sini tak ada orang percaya negara khilafah. Bagaimana khilafah, daulah Islamiyah akan berdiri, lha wong kebersatuan tekad membebaskan Masjidil Aqsa dari tangan zionis saja tidak mampu?

Jangankan itu satu pemerintahan khilafah. Anda tahu, faksi Hamas dan Fattah rasanya tak mungkin bersatu.
Mereka terus bertengkar, tak jelas apa yang diperebutkan. Hamas dan Fatah lupa, bahwa Palestine bercita-cita menjadikan Jerusalem sebagai ibukota negara. Tapi kapan tersampai jika hidup berdamai di antara mereka saja tidak mampu?

Maka, daripada mendongeng tentang khilafah, mending menekan pemerintah untuk mengambil peran konkret untuk membebaskan Masjid Al-Aqsa.

Saya tercenung dan termenung. Seluruh tubuh yang hampir basah kuyup oleh air hujan nyaris tak terasa saat mendengarkan kisah derita warga Palestina sebagaimana disampaikan Jamal yang seperti mewakili suara warga Palestine.

Senja hampir berlalu saat saya menginjakkan pelataran masjidil Aqsha seluas 5 ha. Hem, rupanya itu yang menjadi akar bentrokan abadi di Jerusalem, kompleks Masjidil Aqsa.

Langkah konkret

Kalimat Jamal terus terngiang: yang dibutuhkan perjuangan Palestine bukan kecaman dan kutukan, juga bukan mimpi indah tentang negeri khilafah. Bangsa Palestine butuh langkah konkret sesama negara Muslim, solidaritas nyata, mempertahankan dan membangun pemukiman Jerusalem Timur.

Juga membantu menjadikan Jerusalem sebagai ibukota negara Palestine. Jika tidak, cepat atau lambat kaum zionis akan terus merangsek menguasai kompleks Masjidil Aqsa. Juga, bukankah Israel ingin memindahkan ibukota dari Tel Aviv ke Jerusalem?!

Lalu, kehormatan apalagi yang bisa dibanggakan umat Islam jika menjaga tempat sucinya pun tidak mampu?

*) Seorang freelance, tinggal di Banjarnegara, Jawa Tengah

**********

Republika.co.id