Sengkuni

0
9 views

Senin, 27 Oktober 2014

Garut News ( Ahad, 26/10 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Agaknya kita harus selalu bersiap di perbatasan antara terlibat dan tak terlibat dalam kekuasaan. Atau kita akan terjerat.

Siapa pun yang berada dalam kekuasaan tak boleh diharapkan selamanya jadi pelaku kebajikan. Seorang raja, demikian petuah Machiavelli, “Mesti memperoleh kekuatan untuk bertindak tidak baik.”

Nasihat seperti itu dibaca orang Italia sejak Il Principe beredar di abad ke-16. Buku itu membuat Machiavelli dikenal sebagai penasihat yang keji bagi para raja.

Dalam imajinasi mereka yang mengenal Mahabharata, pemikir politik Italia itu seorang Sengkuni.

Dalam wayang, tokoh ini perdana menteri para Kurawa yang berhasil merancang tipu muslihat untuk menyingkirkan para Pandawa, musuh mereka, dari kerajaan.

Ia dibenci siapa saja—dalang, penonton, para komentator. Pernah, pada tahun 1970-an, sebuah pertunjukan wayang kulit besar-besaran yang membawakan lakon Bharatayudha diakhiri dengan membuang tokoh wayang ini ke Laut Selatan.

Agar tak “kembali”.

Tapi Machiavelli bukan sepenuhnya seorang Sengkuni yang dibenci. Jika kita menilik tempat dan masanya, kita akan bisa lebih paham mengapa ia bisa dibenarkan.

Penggagas “teori politik” ini hidup di Italia abad ke-16 yang diguncang perang antarkota dan antar-penguasa wilayah.

Machiavelli mencitakan sebuah republik yang kukuh seperti di zaman Romawi. Tapi ia lihat tak semua pangeran sanggup membangun sebuah tata.

Dalam pandangannya, tak semua pemimpin siap berbuat keras, kejam, bengis.

Ia menjadikan temannya, Piero Soderini, sebagai contoh. Soderini memimpin Republik Firenze pada tahun 1502-1512.

Pemimpin ini bersikap “baik hati, alim, dan penuh belas”. Sikap itu justru membuat diri dan rakyatnya celaka.

Soderini sebenarnya bisa menyelamatkan republiknya andai ia membunuh para bangsawan utama di wilayahnya.

Seorang raja yang arif, tulis Machiavelli, “Tak akan risau jika dikecam karena berbuat kejam yang menyebabkan rakyatnya bersatu dan setia.”

Dengan menampakkan kebengisan, “Ia sebenarnya jauh lebih berbelas-hati ketimbang mereka yang dengan sikap yang sangat pemaaf membiarkan kekejian berkecamuk.”

Dalam petuah seperti ini, Machiavelli bukan orang pertama.

Sekitar 300 tahun sebelum tarikh Masehi, di India seorang pangeran muda berhasil memperbesar kekuasaannya, merebut takhta dinasti Magadha, bahkan kemudian mengalahkan pasukan Iskandar yang Agung dari Makedonia yang menduduki wilayah itu.

Tapi ia, Chandragupta, tak sendirian. Di dekatnya ada seorang penasihat yang petuahnya bisa lebih culas dan kejam ketimbang Machiavelli atau bahkan Sengkuni: Kautilya Chanakya.

Dalam kitab Arthashastra, Chanakya membanggakan apa yang disebutnya sebagai “ilmu politik”. Bukan agama, bukan takhayul, melainkan “ilmu” itu yang memperkuat kekuasaan seorang raja, ujar Chanakya hampir 2.500 tahun yang lalu, mendahului para penganjur realisme politik di abad modern.

Adapun “ilmu” Chanakya terdiri atas petunjuk yang rinci tentang cara berbuat licik dan kejam (satu hal yang tak kita dapatkan dalam risalah Machiavelli).

Seorang raja harus menguji para menterinya dengan informasi palsu agar memberontak, misalnya dengan ditipu bahwa permaisuri jatuh cinta kepadanya.

Bila terjebak, sang menteri harus dibuang ke hutan atau ke tambang-tambang.

Selain teknik disinformasi seperti itu, Arthashastra punya daftar cara menyiksa dan membunuh. Salah satunya dengan visha-kanya, perempuan yang tubuhnya disiapkan dengan bisa hingga siapa pun yang bersentuhan dengannya akan mati.

Dengan cara itulah Chandragupta membunuh Raja Parvatak. Dengan racun pula ia menghabisi Raja Nanda dan kedelapan putranya sekaligus.

Seraya musuh politik dilenyapkan, mata-mata dipasang di mana-mana. Semua penduduk harus diawasi agen-agen rahasia yang menyamar sebagai “pertapa suci, rahib pengelana… pengamen, tukang sulap, gelandangan, penujum, ahli astrologi, juga pedagang roti, nasi, dan daging masak”.

Chanakya tentu tak mempersoalkan kebajikan di bagian kitab ini. Ia berfokus pada logika kekuasaan: efektivitas.

Syahdan, di bawah Chandragupta, kerajaan memang tumbuh dan kaya. Para duta besar asing mencatat bagaimana Pataliputra, ibu kota, dibangun seluas 12 x 4 kilometer dan menampilkan istana kayu jati yang berhiaskan mutu manikam.

Salah satu kota kerajaan itu, Taxila, sekitar 30 kilometer dari Rawalpindi sekarang, jadi kota universitas. Sederet perguruan tinggi tampak, yang antara lain mengajarkan ilmu kedokteran.

Tapi, tentu saja, tak semua hal dapat ditegakkan dan dikendalikan. Dalam otokrasi itu, Chanakya, sang Sengkuni, telah melembagakan paranoia.

Chandragupta harus terus-menerus merasa terancam. Tiap malam ia berpindah-pindah kamar tidur yang dikelilingi penjaga bersenjata.

Ia harus secara kontinu memanjangkan mata, telinga, dan kuasa.

Tak terelakkan, ia ketabrak pada batas. Pada suatu masa, kerajaan itu diserang bencana lapar yang panjang hingga baginda merasa tak mampu mengatasinya.

Ia pun meninggalkan istana dan hidup mengembara sebagai pertapa agama Jain selama 12 tahun. Ia mangkat dalam ketiadaan makan.

Chandragupta habis. Ia gagal menempatkan diri di perbatasan antara terlibat dan tak terlibat logika kekuasaan.

Ia sepenuhnya terjerat.

Di zamannya, Machiavelli punya nasihat sederhana agar seorang raja tak terjerat: baginda tidak hanya harus kenal kelicikan dan kekejaman, tapi juga harus tahu kapan itu tak harus dipakai.

Goenawan Mohamad/Tempo.co

SHARE
Previous articlePresiden
Next articleSendiri Berimajinasi