Sekum DPD IPI Jabar : Dirgahayu 205 Tahun Garut

0
29 views
Wujudkan Sampah Menjadi Berkah.
Wujudkan Sampah Menjadi Berkah.

‘Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Pemulung Indonesia (Sekum DPD IPI) Provinsi Jawa Barat, Tatang Sadarusman beserta keluarga dan seluruh pemulung di provinsi setempat,

Mengucapkan :

Selamat dan Dirgahayu Hari Jadi ke-205 Kabupaten Garut

(16 Februari 1813 – 16 Februari 2018).

“Gawe Rancage Mawa Raharja”

(Kerja Bersama Menuju Kesejahteraan).

 

Tatang Sadarusman menyatakan selama ini ‘concern’ maksimal berkreativitas guna menjadikan ragam jenis rongsokan sebagai “Is The Art” Garut, Jawa Barat.

.
Tatang Sadarusman, Sekum DPD IPI Provinsi Jawa Barat.

Sehingga ayah dua anak kelahiran 1968 tersebut, sejak tujuh tahun terakhir semakin konsisten tetap berkomitmen menggeluti usaha bidang rongsokan, berupa barang – barang bekas yang tak layak pakai.

Meski sejak 2015 silam omset usahanya mengalami penyusutan, dari semula setiap bulannya bisa mencapai 120 ton namun kini menjadi 50 ton dus bekas.

Persaingan usaha tak sehat, serta belum terdapatnya komunitas yang baik dari pengelola rongsokan, juga menjadikan omset usaha acap melorot drastis bahkan ‘terjun bebas’.

Lantaran selain nilai harga jual terus-menerus mengalami fluktuatif, juga kian diperparah kerap melorotnya nilai jual akibat adanya import sampah luar negeri.

Karena itu, selama ini pun lebih banyak mengandalkan pasokan rongsokan dari tiga lapak besar, padahal sebelumnya bersumber dari 12 lapak.

Jadikan Barang Bekas yang Terbuang Bermanfaat.

Meski demikian ungkap Tatang Sadarusman, pengelolaan rongsokan yang dilakukannya paling tidak bisa melibatkan produktivitas 306 tenaga kerja pemulung, yang dipastikan mereka pun bisa tersejahterakan.

Sedangkan karyawan tetap PD. Godah Jaya yang dikelolanya menyerap enam tenaga kerja, yang setiap bulan masing-masing mendapatkan upah pada kisaran Rp1,8 juta, atau masih jauh di atas UMK Garut, apalagi jika dibandingkan honorarium setiap pegawai non PNS Pemkab setempat yang hanya Rp400 ribu per bulan.

Maka kini saatnya bersama menepis opini maupun “image” orang yang bekerja memungut serta mengelola sampah ini, bukanlah pekerjaan kotor, berbau, juga bukanlah pekerjaan hina.

Ilustrasi.

Melainkan menggeluti usaha rongsokan, ternyata banyak ditemukan ragam nilai bernuansakan baik, dan ramah. Bahkan usaha mengelola sampah ini sarat kegotong-royongan, kental dengan rasa setia kawan, serta tingginya soliditas.

Melainkan memiliki nilai edukatif dalam menata kelola barang, keuangan, serta menata kelola lingkungan sekaligus sebagai usaha bermanagemen, kendati pada tataran masih di bawah.

Selain itu pula, bakal kerap mengundang pihak pabrikan daur ulang, institusi perbankan, dan penyelenggaraan ragam pelatihan bekerja sama dengan “Balai Latihan Kerja”  (BLK) Kabupaten Garut.

Sehingga diagendakan paling lama mulai 2020/2021 mendatang, bakal sering ditampilkan pameran produk teknologi tepat guna pengelolaan sampah secara terencana, dan terukur.

“Bahkan tetap mengagendakan mewujudkan banyak pengrajin industri kreatif berbahan baku rongsokan, maupun sampah,” imbuh Tatang Sadarusman.

Di Kabupaten Garut ada sedikitnya 15.000 pemulung, mereka pun aset daerah juga aset bangsa yang kini semakin mendesak perlu segera diberdayakan termasuk bisa mendapatkan keterampilan.

Sebab selama ini, mereka memiliki andil maupun jasa besar ikut serta mewujudkan kebersihan sekaligus sebagai ladang mengais rejeki dari barang yang dianggap tak berguna, berbau, dan dinilai menjijikan, ‘sampah’.

Padahal dibalik sampah tersebut, dipastikan ada nilai manfaat bahkan berkah jika dikelola dengan baik, serta bijak, maka kepada masyarakat luas ‘buanglah sampah pada tempatnya’.

“Saatnya pula, kita bersama-sama memanusiakan para pemulung,” ungkap Tatang Sadarusman, mengingatkan.

********