Sekolah Aman bagi Anak

Garut News ( Rabu, 16/04 – 2014 ).

Ilustrasi. Seorang Ibu Mengantar dan Melindungi Anak ke Sekolah. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Seorang Ibu Mengantar dan Melindungi Anak ke Sekolah. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kasus kekerasan seksual terhadap anak, sangat mengkhawatirkan.

Baru saja kembali terungkap kasus kejahatan seksual terhadap seorang bocah laki-laki berusia enam tahun.

Si anak didiagnosis juga terkena herpes akibat perbuatan keji itu.

Sungguh menyedihkan, kekejian itu terjadi di toilet sebuah sekolah internasional di Jakarta.

Pelakunya bukan hanya satu orang, melainkan juga sejumlah petugas kebersihan di sekolah tersebut.

Kejadian ini diduga juga berkali-kali dilakukan, dan korbannya bisa saja bukan cuma satu.

Selain rumah, sekolah seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak.

Tempat di mana para orang tua memercayakan pendidikan, sekaligus masa depan anak-anak mereka.

Termasuk di dalamnya menjaga anak-anak itu, dari bahaya apa pun dan dari mana pun, terutama di lingkungan sekolah.

Angka kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia cukup tinggi.

Demikian pula kejahatan seksual terhadap anak di lingkungan sekolah.

Angka disodorkan Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia sungguh mencengangkan sekaligus membuat kita takut.

Selama semester pertama 2013, ada 535 laporan kasus kejahatan seksual terhadap anak.

Kejahatan seksual terhadap anak paling banyak dilakukan di lingkungan sosial, yakni 54 persen.

Kemudian lingkungan keluarga 27 persen, dan di sekolah tercatat 17 persen.

Kejahatan di sekolah internasional ini kudu ditangani keras.

Dampak kejahatan seksual terhadap anak sangat besar.

Trauma kudu dihadapi si bocah setiap hari menyebabkan psikologi si anak terganggu.

Dan trauma ini bisa terbawa hingga mereka dewasa.

Pelaku kudu dihukum berat dengan ancaman hukuman maksimal.

Undang-Undang Perlindungan Anak mengatur, pelaku kejahatan bisa diancam hukuman paling lama 15 tahun penjara, serta denda maksimal Rp300 juta.

Apalagi kejahatan ini diduga dilakukan terencana, dan berulang kali.

Pengelola sekolah juga mesti bertanggung jawab lantaran pelakunya komplotan melibatkan orang-orang bekerja di sekolah itu.

Kudu terdapat sanksi terhadap sekolah, agar mereka lebih awas terhadap anak didik, dan lingkungan sekolah.

Sekolah internasional ini memang bukan tempat terbuka, dan dilengkapi kamera pengawas (CCTV).

Tetapi adanya insiden ini menunjukkan ada masalah pengawasan “bolong”.

Dan hal ini, tentu saja, tak melulu soal peralatan, tapi juga sistem atawa mekanisme pengawasan terhadap anak-anak selama di sekolah.

Sekolah juga kudu bertanggung jawab atas proses pemulihan si anak, baik kesehatan fisik maupun trauma psikologisnya.

Proses ini bisa jadi berlangsung sangat panjang, tetapi sekolah kudu menanggung semua pembiayaannya, berapa pun jumlahnya.

Ke depan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu membuat sistem atawa mekanisme pengawasan standar di sekolah pada semua tingkatan.

Ini perlu dilakukan, menjaga keamanan dan kenyamanan belajar anak-anak, terutama di lingkungan sekolah.

Anak-anak itu bersekolah untuk mendapatkan berbagai ilmu, bukan bahaya, atawa bahkan bencana merusak hidupnya.

******

Opini/ Tempo.co

Related posts