Sekelumit Kisah Jobs

by

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 08/11 ).

Sebuah biopik yang mencoba mengangkat sebagian kisah Jobs, tanpa masa kecil dan tanpa perjuangannya melawan kanker.
Sebuah biopik yang mencoba mengangkat sebagian kisah Jobs, tanpa masa kecil dan tanpa perjuangannya melawan kanker.
*** Apple Town Hall, 2001

“ Aku ingin menunjukkan sesuatu yg belum pernah ditemukan di dunia ini. Alat yang akan saya sajikan di hadapan kalian ini akan menjadi sebuah revolusi.”

Steve Jobs, yang mengenakan celana jins dan kaos turtleneck hitam itu merogoh sesuatu dari saku celananya, “inilah alat dengan 1000 lagu di dalam saku celanamu…memperkenalkan The iPod…..”

Jobs mengeluarkan iPod berwarna perak, berkilat dan mengacungkannya di atas panggung.

Seluruh staf Apple terperangah, kagum dan segera saja menyambut dengan tepuk tangan dan berdiri.

“Proyek kecil rahasia’ yang terdiri dari tim kecil termasuk Steve Jobs sebagai penggagasnya memang sengaja menyimpan pembuatan proyek ini dan ingin mengejutkan dunia dengan temuannya yang kelak memang membuat revolusi.

Senyum Jobs terpancar dari pantulan keping iPod yang digenggamnya.

Itulah pembukaan film Jobs yang seolah membuat ‘rekonstruksi’ gaya Steve Jobs yang selalu tampil dengan ‘seragam khas’nya itu saat memperkenalkan produk terbarunya di hadapan staffnya; yang kelak dinikmati dunia.

Rekonstruksi itu dilakukan oleh aktor Ashton Kutcher, sebuah nama yang semula membuat para calon penonton ragu.

Ketika nama ini diumumkan untuk memerankan Jobs, sang jenius penemu Apple dan visioner terkemuka dunia itu, baik penggemar fanatik Mac maupun penggemar film khawatir dan protes.

Tak mengapa wajah dan potongan tubuh Kutcher yang mirip dengan Jobs muda.

Yang penting apakah komedian yang selama ini dikenal dari serial televisi That 70s Show dan Two and a Half Men serta beberapa film komedi lainnya mampu menjadi Steve Jobs?

Siapa yang akan rela membiarkan aktor pecicilan ini beralih wujud menjadi Steve Jobs yang dipuja dunia itu?

Ternyata Kutcher tidak pecicilan.

Dia menggarap seluruh pekerjaan rumahnya sebagai aktor yang ditugaskan masuk ke dalam tujuh salah satu tokoh terkemuka abad ini.

Bukan hanya wajah, tapi gerak-gerik, caranya berjalan telanjang kaki hingga saat dia begitu larut dalam proyeknya hingga apapun tak boleh menghalanginya; tak juga berita kekasihnya yang hamil.

Film ini kemudian berlayar kembali ke tahun 1974 ketika Jobs sudah keluar dari Reed College karena tak mampu membayar uang kuliah yang mahal.

Tetapi Dekan Jack Dudman (James Wood) yang menyadari betapa jeniusnya mahasiswa ini dan membiarkan dia tetap ikut kuliah.

Perkenalan Jobs dengan Steve “The Woz” Wozniak (Josh Gad) yang kelak menjadi partnernya melahirkan Apple dan membuat sebuah revolusi teknologi.

Pada titik inilah, sutradara Joshua Michael Stern diuji dengan ketat.

Sejarah berdirinya Apple sungguh panjang, berliku,kompleks penuh dengan intrik dan pengkhianatan bisnis di samping puluhan inovasi yang mencerahkan dunia.

Di samping itu, kehidupan pribadi Steve Jobs juga sebuah perjalanan mahaberat untuk divisualkan.

Jobs adalah anak angkat dari Paul dan Clara Jobs, dan baru mengetahui belakangan bahwa dia anak biologis dari Abdulfattah Jandali dan Joanne Carole Schieble yang melepas Jobs sejak bayi karena hubungan mereka tidak disetujui orangtua Schieble.

Di kemudian hari, Jobs yang memiliki anak di luar nikah dari kekasihnya dan dia baru mengakui anaknya di kemudian hari, salah satunya karena sejarah dirinya.

Hidup Jobs hampir mirip seorang tokoh dari opera yang sungguh melodramatik.

Memberikan penulisan skenario biopik ini kepada seorang penulis skenario yang relatif baru Matt Whiteley tentu bukan sesuatu yang haram.

Namun sebelumnya film Social Network (David Fincher dan penulis skenario Aaron Sorkin), sebuah film tentang dunia digital yang juga menampilkan seorang penemu jenius, lengkap dengan intrik dan pengkhianatan bisnis sudah memasang standard yang tinggi.

Dengan segala kelemahannya, film Social Network tetap sebuah film yang menegangkan dan berhasil menyedot perhatian penonton.

Paling tidak, sineas dan produser Jobs harus bisa menyamai atau bahkan melebihi film ini.

Pertama, sutradara dan produser film Jobs harus memutuskan apakah mereka ingin menampilkan Jobs, sang jenius, atau Jobs yang penuh dengan persoalan psikologis identitas.

Nampaknya mereka memutuskan kehidupan personal harus dibuat seminim mungkin.

Itu memang bagian yang ruwet, dramatik dan bakal membuat Jobs tampil tidak simpatik.

Film ini cukup ambisius.

Semua persoalan ingin dimasukkan dalam proporsi yang serba sedikit dan serba tanggung.

Mereka memasukkan persoalan revolusi teknologi hingga soal kegalauan Jobs yang membangun pagar defensif untuk menghalangi masuknya problem pribadi ke dalam ruang kerjanya (hanya ada satu adegan personal di mana Jobs mengusir kekasihnya dan tak mau pusing dengan anak yang dikandungnya).

Seharusnya dengan kepribadian Jobs yang magnetik dan unik; tentang kegemarannya pada musik dan caranya bekerja yang sangat intens bisa divisualkan dengan gaya yang sangat “Apple”: minim tetek-bengek, klasik dan sangat berkelas.

Film Jobs malah menjadi datar dan membosankan.

Tak cukup Kutcher yang berupaya keras menghidupkan tokohnya dan Josh Gad sebagai the Woz yang menyajikan duo yang meyakinkan.

Permasalahn film ini bukan pada seni peran, melainkan pada pemilihan cerita.

Jobs yang memiliki begitu banyak drama dan episode menarik dalam hidupnya, tapi sutradara Stern malah memilih sekelumit dari bagian yang meledak itu (sedikit ledakan pada Bill Gates, sedikit ledakan pada sang pacar dan sedikit ribut-ribut dengan para pemilik saham Apple).

Hubungan Jobs dengan dunia teknologi dan kegairahannya pada sesuatu yang baru; keinginan untuk selalu melahirkan sesuatu yang klasik, sederhana sekaligus berkelas juga tak disajikan dengan intens.

Segalanya serba permukaan, serba lekas dan sangat tidak Steve Jobs.

Tetap layak untuk disaksikan, dengan catatan bahwa pembuat film ini mungkin bukan seseorang yang sangat fanatik pada kekuatan film dan tidak fanatik pada subyeknya.

Leila S.Chudori

JOBS
Sutradara : Joshua Michael Stern
Skenario : Matt Whiteley
Pemain : Ashton Kutcher, Josh Gad, Dermot Mulroney, Matthew Modine, JK Simmons.

***** Tempo.co