Sekelompok Ikan Hiu Terdampar Di Perairan Bagendit

0
60 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Ahad, 11/10 – 2015 ).

Terdampar.
Terdampar.

Sekelompok Ikan Hiu atawa superordo Selachimorpha yakni ikan dengan kerangka tulang rawan yang lengkap, sejak beberapa pekan terakhir terdampar pada perairan situ maupun Danau Bagendit di Kecamatan Banyuresmi, Garut, Jawa Barat.

Namun sejumlah Ikan Hiu yang kandas tersebut, “bukan” jenis satwa bernapas menggunakan lima liang insang, juga kadang-kadang enam atau tujuh, tergantung pada spesiesnya, melainkan miniatur Ikan Hiu terbuat dari fiberglas untuk bermain anak-anak seperti berperahu.

Bahkan selama ini menjadi teronggok bisu, lantaran dramatisnya penyusutan permukaan air situ akibat dilanda kemarau panjang, sehingga kian terancam menjadi daratan.

Kandas.
Kandas.

Kondisi kekeringan itu, diperparah pula banyak lahan pertanian kekeringan, juga debit air sungai serta sumber mata air lainnya menyusut, lantaran kemarau panjang selama ini. Termasuk Situ Bagendit, salah satu obyek tujuan wisata, tak luput dari dampak kemarau ini.

Kini kondisi debit air pada areal situ atawa danau itu, rata-rata hanya berkedalaman kurang dari setengah meter. Itu pun hanya pada beberapa titik lokasi sekitar bibir situ sebelah timur. Selebihnya, situ memiliki total luas sekitar 124 hektare tersebut merupakan daratan dipenuhi hamparan tanaman eceng gondok.

Maka tak pelak, banyak moda angkutan air khas Situ Bagendit berupa rakit bambu tak bisa beroperasi, sehingga terpaksa hanya diparkir di pinggiran. Demikian pula wahana permainan sepeda air atawa angsa-angsaan tak bisa leluasa bergerak di perairan.

Terancam Menjadi Daratan.
Terancam Menjadi Daratan.

Akibatnya hasrat para pengunjung bisa menikmati wisata bahari tak maksimal terpenuhi. Mereka sekadar hendak menikmati indahnya panorama perairanpunj hanya bisa menelan kekecewaan.

Sebab areal perairan situ kian menyempit dirangsek tanaman eceng gondok, dan tanaman liar air lainnya berkembang relatif cepat. Ragam upaya pembersihan tanaman eceng gondok dilakukan nyaris tak berbekas.

“Berdasar pengamatan visual, kedalaman air kini rata-rata kurang dari 0,5 meter dari normalnya sekitar tiga meter, malahan bisa kering jika hingga dua bulan ke depan tak turun hujan,” ungkap Kepala UPTD Bagendit pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut Heri Restu Heryanto.

Nyaris Hentikan Denyut Kehidupan.
Nyaris Hentikan Denyut Kehidupan.

Sehingga menjadi salah satu penyebab menurunnya tingkat kunjungan wisata pada musim liburan Lebaran/Idul Fitri 1436 H/2015 pun.

Penurunan kunjungan wisata pada salah satu objek wisata favorit legendaries di Kabupaten Garut itu mencapai sekitar 20 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Sedangkan kekeringan selain lantaran hujan tak turun, juga pasokan aliran air irigasi Ciojar bersumber kawasan wisata Cipanas Tarogong Kaler berkurang digunakan mengairi areal persawahan, dan pertanian lain di sepanjang aliran irigasi.

Kecewakan Pengunjung Wisata.
Kecewakan Pengunjung Wisata.

Sumber mata air Cikabuyutan Banyuresmi selama ini memasok air Situ Bagendit lama tertutup. Diperparah terjadinya pengendapan lumpur, serta tanaman air membusuk di kawasan Situ Bagendit semakin parah.

Dalam pada itu, jaringan irigasi megaproyek Bendung Copong selama ini kerap digadang-gadang bisa memasok kebutuhan air Situ Bagendit pun, hingga sekarang masih dikerjakan.

Tak heran jika pada musim kemarau, apalagi kemarau panjang, debit air Situ Bagendit melorot cepat. Gundukan tanah atau lumpur kering situ pun terlihat seakan muncul menjadi gugusan pulau menerabas permukaan air.

Pada musim hujan, kawasan Situ tergenangi air hanya sekitar 80 hektare dari total luas sekitar 124 hektare.

Selain dirasakan para pelaku dan pengunjung wisata, dirasakan pula para penduduk setempat bermata pencaharian penarik rakit maupun pencari ikan di kawasan situ.

Menjadi Hamparan Rawa.
Menjadi Hamparan Rawa.

Nelayan setempat kesulitan mendapatkan ikan sebab ragam jenis ikan seakan menghilang bersamaan merosotnya debit air situ. Kalaupun ada, kebanyakan ikan-ikan berukuran kecil cukup sulit dipancing. Termasuk ikan deleg atau gabus, salah satu ikon jenis ikan berkembang di kawasan Situ Bagendit.

“Dalam dua puluh tahun terakhir, banyak sekali perubahan alam lingkungan Situ Bagendit,” kata penduduk Kampung/Desa Cianten Banyuresmi Harun (35).

Dia mengaku, dulu airnya berlimpah-ruah dan bening bersih. Kedalamannya bisa mencapai seukuran panjang sebatang pohon bambu berbiota air khas, serta beraneka ragam.

Tanaman eceng gondok sangat sedikit. Yang ada justru tanaman teratai merah, teratai putih, rumput air khas daerah rawa, serta tanaman Walini berpopulasi terkendali, menambah daya eksotik.

Ikan berkembang pun beragam jenis. Di antaranya ikan gabus, jongjolong, nilem, beunteur, betok, paray, dan udang.

Miris.
Miris.

Tetapi seluruh biota khas Situ Bagendit itu nyaris tinggal cerita. Apalagi ikan jongjolong, dan tanaman Walini bisa dikatakan lama menghilang.

“Dulu, istilahnya, kalau ingin lauk pauk, kita tinggal berangkat cari ikan di situ, dan tak perlu waktu lama. Tapi sekarang, kita mancing setengah harian, belum tentu dapat seekor pun,” katanya.

Harun yakin, berubahnya lingkungan alam tak hanya faktor fisik alam semisal banyaknya penggunaan bahan kimia pada kawasan pertanian di arah hulu, atau banyaknya penduduk berebutan mendapatkan sumber daya alam situ.

Melainkan karena adanya praktik-praktik berbau maksiat dilakukan terutama para pengunjung.

Kereta Mini Situ Bagendit.
Kereta Mini Situ Bagendit.

Karena itu, kendati Situ Bagendit diberdayakan maksimal sebagai kawasan objek wisata namun Harun berharap perilaku para pelaku wisata terutama pengunjung tetap dijaga agar tak menabrak etika, dan norma-norma sosial yang ada, imbuhnya menyerukan.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan kabupaten setempat, Uu Saepudin mengemukakan justru kini terdapat sekitar tiga lokasi jaringan irigasi teknis mengalami kekeringan, termasuk di wilayah Kecamatan Cibatu.

Berakibat sedikitnya 700 hektare bersumber pengairan irigasi itu, menjadi kering kerontang. Sedangkan persawahan sekitar 40 ribu hektar selama ini bersumber irigasi desa, bukan merupakan ranah kewenangan menganggulanginya.

“Saya besok melakukan peninjauan lapangan,” katanya ketika didesak pertanyaan Garut News, Senin (03/08-2015) lalu.

******

Noel, Jdh.