Sedikitnya 78 Ribu Penduduk Garut Putus Sekolah

0
251 views

“Mereka Dari Kalangan Keluarga Miskin”

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Selasa, 02/02 – 2016 ).

Anak Jalanan Garut Menjadi Musisi Jalanan.
Anak Jalanan Garut Menjadi Musisi Jalanan.

Dua pekan jelang peringatan hari jadi ke-203 Garut, kabupaten ini ternyata masih memiliki banyak pekerjaan rumah belum tuntas terselesaikan. Di antaranya terutama akses pendidikan bagi penduduk dari kalangan keluarga miskin.

Berdasar data dihimpun, terdapat sekitar malahan sedikitnya 78 ribu anak usia sekolah, sejak jenjang pendidikan SD hingga SMA. Mereka tak melanjutkan pendidikan formalnya pada jenjang lebih tinggi. Bahkan tak hanya itu, juga banyak anak sekolah putus sekolah atawa “drop out” (DO).

Masa Brsekolah yang Terabaikan.
Masa Bersekolah yang Terabaikan.

“Di lingkungan saya, anak putus sekolah masih banyak, terutama SMP. Jumlah pastinya masih didata. Yang jelas, lebih dari 15. Saya sendiri ditugaskan kepala desa menangani persoalan ini,” ungkap Ketua RW 02 Desa Cintarakyat, Samarang, Hasyim Sulaeman, Selasa (02/02-2016).

Kata dia pula, tak sedikit anak usia sekolah di lingkungan tempat tinggalnya tak bisa melanjutkan pendidikan lantaran terbelenggu persoalan sosial ekonomi keluarga. Mereka lebih memilih mencari uang demi membantu ekonomi orang tuanya.

“Orang tua pun cenderung membiarkan. Sebab lapangan kerja ada, orang tua cenderung lebih suka anak bekerja daripada sekolah. Maka, kasus perkawinan usia muda juga cukup banyak,” beber Hasyim.

Kian Merebak-marak, Anjal Mengamen di atas Moda Angkot.
Kian Merebak-marak, Anjal Mengamen di atas Moda Angkot.

Selain putus sekolah, persentase penduduk usia 10 tahun ke atas tak memiliki ijazah pun pada 2015 cukup tinggi. Mereka tak punya ijazah SD mencapai sekitar 35,70%, disusul memiliki ijazah SD/MI/sederajat sekitar 78,68%, memiliki ijazah SLTP/MTs sekitar 41,18%, memiliki ijazah SMA/MA sekitar 30,06%, memiliki ijazah SMK sekitar 4,82%, serta memiliki ijazah Diploma IV/Sarjana S1 sekitar 9,55%.

Sebelumnya, Bupati Rudy Gunawan katakan, masih terdapat sekitar 30.000 tamatan SD di Garut tak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP.

Bahkan jumlah tamatan SMP tak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA lebih banyak lagi, mencapai sekitar 40.000.

Inilah Fenomena Garut.
Inilah Fenomena Garut.

Fakta tersebut dinilai ironis. Menyusul, Rudy mengklaim anggaran pendidikan pada APBD cukup besar. Malahan jumlahnya mencapai 46% dari total APBD. Padahal dalam undang-undang, alokasi pendidikan hanya 20% dari APBD.

Ironisnya pula, alokasi pendidikan sebesar itu lebih didominasi memenuhi kebutuhan pembayaran gaji guru dan tunjangan sertifikasi.

“Kebanyakan untuk gaji guru dan sertifikasi. Jadi dari nilai APBD Garut Rp3,7 triliun, sekitar Rp1,6 triliun di antaranya untuk guru dan sertifikasi,” kata Rudy.

********

(nz, jdh).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here