You are here
Secangkir Teh Mandela ARTIKEL 

Secangkir Teh Mandela

Purwanto Setiadi, @pwtsetiadi

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 13/12 ).

Ilustrasi. (Foto: John).
Ilustrasi. (Foto: John).

Setelah menuangkan secangkir teh untuk tamunya, Nelson Mandela bertanya, “Bagaimana kau mengilhami timmu untuk melakukan yang terbaik?”

François Pienaar, kapten tim nasional rugbi yang tak punya sedikit pun tebakan kenapa diundang ke kantor presiden baru Afrika Selatan itu, menjawab, “Dengan contoh. Saya selalu berpikir memimpin dengan contoh, Pak.”

Kelihatannya memang tak ada jawaban lain yang pas.

Tapi Mandela tahu lebih dari itu pun bukan mustahil. Katanya, “Well, itu benar. Itu sangat tepat. Tapi bagaimana kita membuat mereka menjadi lebih baik ketimbang anggapan mereka? Itu sangat sulit, menurutku. Inspirasi, barangkali. Bagaimana kita mengilhami diri kita dengan kejayaan manakala tak ada hal lain yang bisa? Aku kadang-kadang berpikir itu bisa dilakukan dengan memanfaatkan karya orang lain.”

Kita tak tahu apakah persis seperti itu dialog di antara mereka.

Buku Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Made a Nation, yang menceritakannya kembali juga semata merekonstruksi dari ingatan para pelakunya.

Meski demikian, dari adegan film Invictus garapan Clint Eastwood berdasarkan buku itu, kita paham kenapa François mengaku terkesan bersua dengan pribadi yang tak seperti orang-orang yang pernah dia temui: bahwa Mandela telah membuatnya merenungi tujuan-tujuan hidupnya, sekaligus membukakan cakrawala baru dalam melihat Afrika Selatan.

Mandela menyebut puisi sebagai sumber ilham.

Dia bahkan kemudian, dalam kesempatan lain, menyerahkan selembar kertas berisi sajak Invictus karya William Ernest Henley yang ditulisnya dengan tangan-sebuah susunan kata-kata yang meneguhkan tekad perjuangannya ketika masih meringkuk di penjara penguasa apartheid.

Di antara larik-lariknya, ada bagian yang sulit untuk tak menabuhkan genderang di dalam diri pembacanya: I am the master of my fate/ I am the captain of my soul.

Tapi sebenarnya karya hanyalah wujud, sesuatu yang bisa dilihat dan dirasakan.

Kita tahu ada hal lain yang memungkinkan wujud itu dicapai.

Orang mungkin menyebutnya proses kreatif, atau “pengerahan kemampuan” jika wujud itu merupakan hasil dari satu usaha spontan, sekurang-kurangnya performa langsung.

Bagaimana proses/pengerahan kemampuan ini dilalui/dilakukan, itulah yang menentukan kualitas “ekspresi diri” atau “dedikasi” penciptanya.

Dalam hal itu ada cerita tentang penyanyi Judy Garland, yang diriwayatkan oleh Nelle Harper Lee.

Dalam adegan penutup film Infamous, penulis To Kill a Mockingbird ini bertutur, “Aku membaca wawancara Frank Sinatra yang berkata tentang Judy Garland, ‘Setiap kali dia menyanyi, nyawanya berkurang sedikit. Sebesar itulah yang dia berikan.'”

Menurut Lee, begitulah pula penulis, yang berharap bisa menciptakan sesuatu yang lestari.

“Nyawa mereka berkurang sedikit demi sebuah karya yang benar,” katanya.

Rasanya sulit dibantah ilham yang disebut Mandela adalah paduan antara karya yang “benar” dan cara menghasilkannya yang tergolong “mengurangi nyawa” itu.

Yang juga pasti, dalam kaitan ini: Mandela secara sadar kemudian menjadikan dirinya sebagai teladan.

Sepanjang hidupnya, terutama setelah dibebaskan dari penjara, dia berusaha menegakkan sebuah “negara pelangi”-yang menyatukan dalam damai berbagai suku, ras, dan golongan-dengan sepenuh jiwa, sebagaimana Judy Garland menyanyikan lagunya.

Dia berhasil mencapai tujuan tersebut.

Afrika Selatan bisa memaafkan masa lalu yang getir.

Pencapaiannya ini adalah karya yang terlalu berharga untuk diabaikan, yang mestinya menggerakkan orang lain, siapa saja, termasuk para politikus, untuk mengikuti jejaknya.

***** Kolom/artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment