You are here
Tragedi Mahasiswa ITN OPINI 

Tragedi Mahasiswa ITN

Garut News ( Jum’at, 13/12 ).

Ilustrasi, Model Perpeloncoan. (Foto : John).
Ilustrasi, Model Perpeloncoan. (Foto : John).

Tragedi Fikri Dolasmantya Surya menambah panjang daftar korban perpeloncoan.

Mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini diduga disiksa seniornya hingga meninggal.

Pemerintah, telah lama menghapus kegiatan perpeloncoan, semestinya bertindak tegas terhadap perguruan melanggar.

Kematian mahasiswa 20 tahun itu baru mencuat belakangan setelah foto penyiksaan tersebut beredar di Twitter dan Facebook.

Fikri meninggal saat menjalani perpeloncoan di Gua Cina, Kabupaten Malang, pada 9 hingga 13 Oktober lalu.

Kondisi tubuh korban amat mengenaskan.

Matanya penuh darah dan lidahnya tergigit.

Menurut versi para seniornya, Fikri kelelahan.

Katanya, ia ambruk saat menanam bakau dan meninggal ketika dibawa ke puskesmas.

Penjelasan itu beda dengan pengakuan rekan-rekan Fikri.

Menurut mereka, korban meninggal setelah disiksa secara maraton.

Bersama rekan-rekannya, ia diinjak-injak saat push-up dan diwajibkan makan dengan tangan penuh debu, dan berbagi sebotol air minum untuk sekitar 100 mahasiswa.

Mereka juga dipaksa seniornya menirukan adegan film-film syur.

Pengelola ITN Malang seakan tak mengambil pelajaran dari sederet kasus serupa sebelumnya.

Sepanjang tahun ini, beberapa anak muda meninggal lantaran perpeloncoan.

Di antaranya Anindya Ayu Puspita, siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Bantul; dan David Richard Djumaati, mahasiswa Akademi Ilmu Pelayaran Djadajat.

Pemerintah semestinya bertindak lebih tegas memberangus kegiatan perpeloncoan.

Keputusan Dirjen Dikti Nomor 38/2000 melarang perpeloncoan terbukti tak manjur.

Aturan itu seperti senapan tanpa peluru lantaran tak mencantumkan sanksi.

Walhasil, kegiatan penuh mudarat itu masih menjamur.

Program orientasi atawa pengenalan cara belajar di kampus sebenarnya wajar saja dilakukan.

Mahasiswa baru butuh beradaptasi terhadap cara belajar baru, bagaimana berinteraksi dengan dosen pengajar, atawa mencari bahan di perpustakaan.

Masalahnya, program orientasi ini sering dijadikan ajang balas dendam para seniornya.

Mahasiswa senior juga kerap memerlakukan mahasiswa baru sebagai obyek penderita.

Mereka mencekoki mahasiswa baru dengan kegiatan tak berkaitan dengan proses belajar.

Menirukan adegan film porno, misalnya, jelas bukan aktivitas mendidik.

Program orientasi model inilah semestinya dilarang total.

Pemerintah kudu merevisi aturan tersebut, dan mencantumkan sanksi keras.

Jika melakukan kegiatan pengenalan kampus menyimpang, perguruan tinggi mesti diberi sanksi administratif.

Misalnya, status akreditasi perguruan tinggi itu diturunkan peringkatnya.

Dengan cara ini, rektor lebih serius mengawasi program pengenalan kampus.

Jangan lupa, hukum kudu ditegakkan.

Polisi kudu mengusut tuntas tragedi Fikri.

Siapa pun bersalah semestinya mendapat ganjaran setimpal.

***** Opini Tempo.co

Related posts

Leave a Comment