Sarung

Ahmad Wayang, aktivis literasi

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 24/01 – 2014 ).

Ilustrasi. Dunia Sarat Ceritera Pewayangan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Dunia Sarat Ceritera Pewayangan, Wayang Ini Pun Memakai Sarung. (Foto: John Doddy Hidayat).

Sarung memang bukan barang mewah, tapi tidak juga saya menyebutnya sebagai barang murahan.

Sarung sudah menjadi simbol umat Islam yang mengusung cinta damai.

Kita semua tahu bahwa sarung multifungsi.

Sarung dengan corak dan bentuk beragam, yang kedua tepi dijahit bertemu.

Sarung, selain bisa kita pakai untuk bersantai, dijadikan selimut di kala dingin, topeng-topengan, sampai untuk acara pernikahan.

Dan sarung sudah menjadi simbol Islam.

Sebab, sarung sudah menjadi seragam wajib dalam urusan ibadah, saat shalat misalnya.

Sarung terkadang menjadi bahan yang luput dari perhatian kita, tapi pada hari-hari tertentu sarung bisa naik daun, semisal pada saat hari raya tiba.

Entah siapa penemu sarung.

Goenawan Mohamad dalam “Catatan Pinggir”-nya (Grafiti, 1989) pernah menulis bahwa penemu sarung adalah seorang jenius!

Jika kita merujuk pada sejarah, sarung berasal dari Yaman dengan sebutan futah.

Atau banyak sebutan lain untuk sarung, seperti izaar, wazaar, atau ma’awis.

Dan pada abad ke-14 sarung sudah masuk ke Indonesia.

Sarung juga tidak hanya tersebar di Arab dan Indonesia, tapi sudah ke berbagai negara.

Jadilah sarung, setelah sekian lama masuk Indonesia, menjadi simbol kebudayaan dan agama.

Di tanah kelahiran saya di sebuah Kampung Kepondoan, Serang-Banten-yang tak pernah tertulis dalam peta dunia-sarung sudah menjadi simbol agama.

Jika kalian hendak pergi shalat berjemaah di langgar (surau) atau di mushala, para anggota jemaah kompak mengenakan sarung.

Ketika kalian shalat berjemaah menggunakan celana jins panjang, jangan heran jika misalnya banyak pasang mata para jemaah kampung memperhatikanmu.

Suatu hari saya pernah mengalaminya.

Waktu itu saya baru pulang dari kampus dan masih mengenakan celana jins.

Tiba-tiba banyak pasang mata yang memandang aneh.

Selepas shalat, saya ditegur oleh seorang jemaah yang juga tetangga saya.

“Orang Jakarta ya, Mas?” saya hanya tersenyum.

Sebenarnya saya tak ambil pusing dengan sindiran tadi.

Sebab, selama jins yang saya kenakan untuk shalat masih bersih, saya pikir tak jadi soal.

Tapi ternyata tidak di mata orang-orang kampung.

Seolah saya dianggap tidak mengikuti aturan-aturan Islam dalam beribadah shalat.

Jika memang alasannya demikian, bukankah di zaman Nabi belum ada sarung?

Tapi begitulah keadaan di kampung saya, sarung sudah menjadi simbol Islam.

Lewat sarung kita juga bisa melihat status sosial masyarakat.

Antara si kaya dan si miskin.

Ingatan saya masih pada “Catatan Pinggir” Goenawan.

GM menulis, Hadisubeno, seorang tokoh Partai Indonesia pada 1970, pernah memperingatkan kita pada kaum sarungan.

Yang dimaksud Hadisubeno adalah perihal ketegangan yang terjadi di masyarakat Jawa.

Ketegangan yang terasa, tapi jarang diucapkan; antara kaum ni­ngrat dan priayi yang abangan, dan kaum santri di lain pihak.

Pada waktu itu, kaum santri yang berpakaian sarung bukanlah orang-orang yang didengar dalam percaturan kebudayaan dan disebut udik.

Tapi sekarang, yang terjadi di kampung saya, jika ada orang yang selalu bersarung pada kesehariannya, sedangkan orang lain sibuk bekerja, ada sebutan baru untuk orang ini.

Mereka disebut pemalas!

Tapi itu semacam stigma yang berkembang di kampung saya.

Entah di kampung lain.

*****

Kolom/artikel Tempo.co

Related posts