Sarung di Pinggiran Jaman

0
71 views
Harri Ash Shiddiqie. (Foto: dok.Istimewa).

Sabtu 03 March 2018 04:05 WIB
Red: Agus Yulianto

Kehilangan sebuah ciri tidak berarti kehilangan identitas.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Harri Ash Shiddiqie *)

Harri Ash Shiddiqie. (Foto: dok.Istimewa).

Ia hanya kain yang ujungnya rekat dengan ujung lainnya. Praktis, selalu pas, untuk si gemuk atau kurus. Multi purpose, untuk shalat Jumat di masjid atau khitanan. Bisa untuk selimut bayi atau tubuh tua tipis dan dirayapi dingin. Saat darurat, ujungnya bisa dibundel lalu diisi barang dapur untuk pindahan, sesampai di kemah bisa dikibarkan di ujung bambu, jadi bendera identitas.

Meski naik pangkat sebagai atribut kesopanan di saat akad nikah dan lebaran, nasib sarung tak lebih baik dibanding baju batik yang berani ke tengah gelanggang di acara apapun. Bahkan ketika banyak orang prihatin karena bahasa daerah yang semakin tergerus, atau dolanan anak-anak tradisional yang kalah dengan smartphone, tidak pernah kita dengar orang yang prihatin dengan sarung yang selalu meniti di pinggiran jaman.

***

Seratus tahun lalu, guru dan murid di negeri ini pakai sarung, tenun batik tentunya, bukan sarung plekat kotak-kotak yang berkembang dari Garut, produk cap Padi di tahun 40-an, juga bukan sarung goyor yang lemas bermotif bunga. Di ujung hari ini tak ada sekolah yang berseragam sarung.

Apakah itu berarti sarung akan hilang ditelan jaman, diganti pantalon, jeans sampai celana cargo? Boleh saja kita khawatir, karena sarung adalah identitas muslim di Nusantara. Tetapi khawatir itu tak perlu tumpah sampai mengalir-alir.

Toh, kehilangan sebuah ciri tidak berarti kehilangan identitas. Muslim di negeri ini tak punya kebun kurma, juga tak punya unta, keyakinannya teguh: Allahu akbar.

Berbeda dengan orang Eropa, bila hari ini kita khawatir satu persatu ciri digusur budaya Eropa, orang Eropa lebih khawatir bahwa semuanya akan digusur orang—orang Muslim. Rasa khawatirnya bahkan telah mengkilap, runcing dan pahit.

Fakta dasarnya sangat nyata. PEW Research Centre menunjukkan bahwa dalam lima tahun dari 2010 sampai 2015, kematian yang terjadi melebihi jumlah kelahiran di 24 dari 42 negara Eropa, pola ini akan terus berlanjut. Di Jerman saja diperkirakan ada 1,4 juta kematian orang Nasrani daripada kelahiran.

Di Belanda ada partai yang jelas-jelas memusuhi islam. Tapi Arnoud van Doorn, petinggi mereka menjadi mualaf. Di Jerman ada Arthur Wagner, dan di Prancis ada Maxence Buttey, menjadi mualaf 2014.

Ketakutan, islamofobia itu nyata.

Banyak artikel berbagai pakar yang menyatakan tidak mungkin Muslim menguasai Eropa, bila karena imigrasi, itu bisa di-setop. Toh, sampai hari ini jumlah muslim tetap kecil. Prancis, yang umat islam terbanyak, hanya 7,5 persen dan hanya 10,3 persen di tahun 2030.

Atau karena tingkat kelahiran yang besar? Itu pun tak perlu ditakuti, semua negara Islam baik di Timur Tengah sampai Asia Tenggara angka kelahirannya menurun, itu karena tingkat pendidikan, kesejahteraan hidup dan mudahnya akses informasi, apalagi muslim yang berada di Eropa.

Tetap saja, islamofobia menjalar, menggigit lalu menular. Video Muslim Demographics di Youtube yang diunggah Maret 2009, telah dilihat 16.180.255 kali. Entahlah, apakah unggahan dengan data statistik dan ekstrapolasinya itu sekedar hiburan, atau untuk menggumpalkan islamofobia agar semakin tajam dan waspada. Sehingga ada yang berkata: “Kaum Bolshevik semula juga tak banyak, tapi Rusia digenggamnya.”

Para pengidap islamofobia di Eropa sana menyatakan, “Islam tidak hanya budaya, bukan tetangga sebelah yang hanya menolak alkohol, Islam itu ideologi, politik, mereka akan menguasai kita.”

Padahal, Dr. Andrew Hinde, seorang demografer di Universitas Southampton menyatakan, sangat sulit menebak masa depan hanya karena jumlah penduduk.

***

Kembali, tentang sarung tadi, apakah ia akan hilang tergerus modernitas?

Teman sang sarung, bernama songkok (beludru, warna hitam) malah lebih dulu ditinggalkan. Ia digeser kopiah kecil putih (peci) yang umumnya dipakai pak haji. Kerudung panjang muslimah yang dulu banyak dipakai juga sudah berubah menjadi jilbab.

Sulit menebak masa depan sarung, seperti sulit menebak masa depan diri kita sendiri. Yang, sebagai muslim, kita hanya bisa berdoa sambil ikhtiar, berjuang: Memanfaatkan secara maksimum seluruh anugerah Allah dengan seluruh kekuatan, sejauh kemampuan, agar kita lebih baik dari waktu ke waktu. Lebih beriman, lebih berislam, lebih berikhsan, bertauhid, berikhlas dan bertakwa. Amin.

*) Penulis, dosen di Jember.

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here