Sangkuni Tidak Dibantu Dewa

Seno Gumira Adjidarma,
Wartawan

Garut News ( Senin, 27/01 – 2014 ).

Ilustrasi. Wayang. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Wayang. (Foto: John Doddy Hidayat).

Ada danau buatan, ada hidung buatan, ada juga kecerdasan buatan-itulah artificial intelligent.

Namanya juga zaman baru, yang disebut riset pada masa kini adalah “main klik”.

Nah, nebeng “main klik” pada Indonesia Indicator, saya dapatkan angka-angka hasil pencarian terhadap keberadaan tokoh wayang dalam dunia politik Indonesia kontemporer.

Berdasarkan pelacakan terhadap 337 media daring (online) selama 2013, nama Sangkuni ternyata mencapai angka tertinggi dibanding tokoh wayang lain yang sering dianggap “bergerak dalam bidang politik”, seperti Durna, Widura, dan Kresna.

Angka itu menyodok pada Januari sampai Februari, yakni termuat dalam 140-an berita dari 52 media, sehubungan dengan pemberitaan pelaku politik tertentu.

Ketika menurun pun, sampai bulan Desember, tokoh Sangkuni tetap paling banyak disebut.

Januari 2014, dalam perunutan dari hari ke hari sampai tanggal 25 kemarin, Sangkuni tetap terdepan (leading), meski dengan pencapaian tertinggi dimuat 10 berita saja, dibanding Durna yang cuma dimuat 4 berita.

Widura, yang rupanya hanya populer melalui komik R.A. Kosasih, tapi jarang tampil dalam pergelaran wayang kulit, wajar jika tak pernah disebut sama sekali; tetapi untuk Kresna yang sangat dikenal ternyata setali tiga uang.

Kaum politikus cepat menyebut nama Sangkuni.

Referensi terhadap wayang ini menunjukkan bahwa dunia politik Indonesia di zaman baru tetap berorientasi pada dunia lama.

Dalam hal ini, Sangkuni akan selalu dirujuk sebagai representasi kelicikan, dengan ucapan-ucapan tak jujur yang mempunyai tujuan tertentu, yang sepenuhnya mengandalkan tipu daya jahat-serta tidak segan menumpahkan darah.

Seperti gagasannya tentang Bale Sigalagala yang bermaksud membakar para Pandawa hidup-hidup.

Sebagian besar rencana jahat Sangkuni, kecuali perjudian dengan taruhan negara yang menjerumuskan para satria itu dalam lakon Pandawa Dadu, sebetulnya lebih banyak gagal.

Padahal, apa yang disebut sebagai kelicikannya, dengan kacamata berbeda dapat disebut sebagai kecerdasan.

Mengapa kecerdasan Sangkuni selalu dapat dikalahkan?

Demikianlah disebutkan oleh “yang empunya cerita”, karena para dewa berpihak kepada Pandawa.

Benarkah ini karena Pandawa itu berbudi baik, berakhlak tinggi, dan selalu membela “kebenaran”?

Ternyata bukan, melainkan karena sudah ditakdirkan!

Skenario takdir ini sudah diketahui oleh Kresna, bentuk lain dari Batara Wisnu, yang dalam Bhagavad-Gita berkata kepada Arjuna, “Engkau hanyalah alatku.”

Bharata-Yudha adalah skenario yang ilahiah sifatnya, tempat Kresna menjadi pawang yang harus menjaga kodrat setiap orang.

Maka Arjuna pun dihidupkan kembali, untuk dengan licik membunuh Ekalaya, yang telah mengalahkan Arjuna dalam pertarungan yang adil, karena Arjuna lebih dibutuhkan untuk menghadapi Karna.

Tokoh-tokoh tak terkalahkan seperti Wisanggeni, Antasena, dan Antareja dengan berbagai alasan juga harus mati demi skenario Bharata-Yudha seutuhnya.

Dengan kata lain, politik Sangkuni yang sepenuhnya mengandalkan otak sendiri, jelas tidak akan pernah lebih unggul melawan “politik ilahi”.

Jadi, yang berlangsung sebetulnya adalah suatu pertarungan yang tidak adil.

Di titik ini, empati terhadap ketidaksetaraan bisa membalikkan posisi keberpihakan, bukan lagi Sangkuni melawan Kebenaran & Co., melainkan kreativitas manusia melawan ketiadasemenaan kodrat, atau dalam bahasa yang berbeda tentunya wacana kelompok terbawahkan (sub-ordinated groups) melawan wacana kelompok dominan.

Adapun kekhawatiran saya, dengan keberadaan budaya politik ala wayang yang-kenal maupun tak kenal wayang-tetap merupakan referensi dalam politik Indonesia kontemporer, adalah justru bekerjanya proses hegemonisasi “politik ilahi” ini, yang akan memaksakan keberlangsungan kodrat dengan cara apa pun, termasuk secara koersif.

Dalam posisi merasa pihaknya paling benar, lawan-lawan politiknya akan diperlakukan sebagai Sangkuni maupun Wisanggeni.

Dalam wayang kulit, Sangkuni ada di sisi kiri, yakni golongan “salah”, dan Wisanggeni di sisi kanan, yakni golongan “benar”; dalam “politik ilahi” yang dioper kelompok dominan, dua-duanya tak terbenarkan: seorang Sangkuni adalah representasi kreativitas manusiawi yang tidak terbenarkan melampaui suratan takdir, dan Wisanggeni adalah representasi “di luar suratan” yang tidak terbenarkan mengubah skenario kodrat.

Takdir dan kodrat sama dan sebangun: pemaksaan kehendak kelompok dominan.

Demikianlah cara saya membaca data angka dari Indonesia Indicator: pembermaknaan bisa dilakukan dengan melibatkan sisa angka dari jumlah media, yang dihibahkan kepada tokoh lawan dalam wacana Sangkuni, sehingga keberpihakan dimungkinkan berbalik dalam konteks oposisi baru: Politik Manusiawi Versus Politik Ilahi.

*** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment