Sa’aman

by

Garut News ( Ahad, 29/06 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John DH).
Ilustrasi. (Foto : John DH).

Sa’aman membunuh Kopral Paijan. Ia membunuh ayahnya sendiri.

Novel Keluarga Gerilya Pramoedya Ananta Toer menuturkan kisah dramatis itu: seorang gerilyawan dalam perang revolusi tertangkap pasukan Belanda dan menunggu hukuman matinya.

Dengan ikhlas. Ia begitu yakin tujuan perjuangannya hingga ia anggap adil menghukum mati ayahnya sendiri: Kopral Paijan bekerja untuk tentara pendudukan.

“Revolusi menghendaki segala-galanya,” katanya.

Demikian hebatnya revolusi. Kemanusiaanku kukorbankan. Kupaksa diriku menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang kuinjak ini tak perlu lagi berbuat seperti itu.

Bisakah ia dikutuk? Bisakah ia dimaafkan?

Dalam konfrontasi manusia dengan dunia yang dirundung mala dan cita-cita, tiap agenda besar-revolusi, perjuangan pembebasan, atau penegakan keadilan-akan kepergok pilihan yang sulit ini: jika untuk membuat hidup lebih bersih kau harus menggunakan cara yang kotor, apa yang harus kaulakukan?

Pertanyaan ini datang tiap kali, dalam situasi yang berbeda, kepada tokoh yang berbeda.

Dalam Mahabharata, Yudhistira, kesatria yang menjaga kejujuran itu, pada satu saat dalam perang di Kurusetra harus memilih: berbohong agar Durna bisa teperdaya dan dibunuh, atau jujur dengan akibat Durna selamat dan jadi panglima perang yang ulung di kubu musuh.

Dalam konteks yang lain, Hamlet, sang Pangeran Denmark dalam lakon Shakespeare, mengucapkan dilema itu dengan gemetar: “I must be cruel only to be kind.”

Pilihan bersikap “kejam” (cruel) lebih dulu agar bisa “baik hati” (kind) nanti, “berbohong” lebih dulu agar kejahatan kalah kelak, adalah sebuah dilema buah simalakama-setidaknya bagi orang yang tak sanggup mengabaikan hukum moral dalam dirinya.

Buah terkutuk itu jadi seluruh ruang hidup ketika orang itu memasuki arena tindakan dan harapan politik.

Sa’aman menghuninya, dan ia memilih “kejam”.

Ia biarkan tangannya kotor untuk sebuah negeri yang bersih.

Kekejaman dihalalkannya demi sebuah manfaat.

“Guna” dan “hasil” dijadikannya nilai yang utama.

Orang bisa memahami itu, mungkin sebagai penjelasan, mungkin sebagai dalih agar dimaafkan.

Tapi sampai kapan?

Dalam lakon Sartre, Les Mains Sales (“Tangan-tangan Kotor”), seorang pemimpin partai komunis direncanakan dibunuh.

Ia dianggap menyimpang dari garis partai.

Ia membuat aliansi dengan partai lawan ketika sama-sama menghadapi rezim fasis yang menindas.

Hoederer, sang pemimpin, membela diri di depan pemuda yang akan membunuhnya dengan mengaku ia memang telah membuat langkah yang tercela.

Tapi tak ada alternatif. “Tanganku memang kotor sampai ke siku. Aku telah mencelupkannya dalam darah dan tahi,” katanya.

Tapi, tanyanya, bisakah orang berkuasa tanpa berkubang najis?

Bagi Hoederer, jawabnya “tak bisa”.

Baginya, keadaan “tanpa berkubang najis”, tanpa dosa (innocemment), berada di luar arena orang “berkuasa” (terjemahan bebas untuk gouverner).

Dengan kata lain, “tangan kotor” dilihat sebagai hakikat politik dan kekuasaan-hakikat yang tak pernah lapuk dan lekang.

Tokoh Sengkuni dalam Bharatayudha adalah personifikasinya.

Perdana menteri itu licik untuk menang.

Baginya, kemenangan tak akan diraih jika orang sibuk menjadi “baik”.

Di abad ke-15, Machiavelli menyambut sengkuni-isme itu dalam Il Principe. “Seorang raja yang ingin mempertahankan kuasanya harus belajar bagaimana bersikap tak baik,” tulisnya.

Tapi sikap “tak baik”, “tangan kotor”, mustahil dilihat sebagai hakikat, sebagaimana juga sikap yang “baik”.

Sebuah hakikat, atau esensi, berada di luar situasi eksistensial yang berubah-ubah.

Machiavelli sendiri mengajarkan, memang perlu seorang pelaku kekuasaan menerapkan ilmu “bersikap tak baik”, tapi tak selalu.

Tak ada formula, tak ada yang tetap.

Lagi pula, masa depan selamanya sebuah teka-teki.

Kita tak pernah tahu “tangan kotor” akan selalu melahirkan bumi yang bersih.

Maka dari luka dan kekecewaan, tak semua orang merayakan politik, dalam arti politik sebagai Beruf.

Kata ini dari Max Weber: politik sebagai karier khusus.

Tak semua orang siap berkecimpung terus dalam darah dan tahi.

Sewaktu-waktu krisis bisa mengoyak diri dan masyarakat.

Sewaktu-waktu Sengkuni dituntut melihat yang busuk dalam lakunya.

Saat-saat itulah yang menyebabkan sejarah bukan hanya satu cerita, tapi pelbagai cerita: ada kekotoran dan anti-kekotoran, ada kebengisan dan anti-kebengisan.

Sa’aman adalah pahlawan dalam tragedi modern yang bernama “politik-sebagai-pertarungan”: ia sadar ia harus berdosa tapi ia merasa pantas dituntut mengunyah najisnya sendiri.

“Dosaku banyak,” katanya sebelum dibawa ke depan regu tembak. “Lebih dari 50 orang kubunuh.”

Pengakuan itu penting, juga bagi yang tak hadir di sana: tiap kali kekejaman sendiri diakui dengan pedih di depan sesama, manusia merintis kembali jalan ke bumi yang tak tepermanai.

Goenawan Mohamad/ Tempo.co