S e d i h

by
  • Putu Setia

Garut News, ( Ahad, 20/10 ).

Ilustrasi. (Ist).
Ilustrasi. (Ist).

Setiap kali ada tokoh yang dimasukkan ke rumah tahanan, apalagi sampai dibui, saya selalu sedih.

Saya terlalu cengeng.

Padahal sudah jelas secara hukum tokoh itu bersalah, tetap saya bersedih karena hukum bisa dimainkan.

Dulu sedih ketika Ketua KPK Antasari Azhar divonis 18 tahun penjara.

Lalu sedih ketika Ketua MK Akil Mochtar ditangkap tangan KPK.

Sekarang sedih dengan ditahannya mantan Menpora Andi Alifian Mallarangeng.

Contoh lain tak usah disebut, saking banyaknya.

Obyek sedih saya bisa ke tokohnya, bisa non-tokoh.

Dalam kasus Antasari, saya melihat ada bukti-bukti penting yang tidak dipertimbangkan oleh hakim.

Misalnya, baju korban dan sebagainya.

Saya jadi setengah percaya Antasari otak pembunuhan itu.

Bahwa Antasari bersalah, saya setuju, sepanjang itu dikaitkan dengan moral-wong si cantik Rani sampai masuk ke kamar hotelnya.

Artinya, apakah Antasari tak terlalu berat dihukum 18 tahun?

Seperti halnya Antasari, saya tak kenal Andi Mallarangeng secara dekat.

Ya, tahu karena dia selebritas.

Tapi dia pernah menelepon saya langsung-tidak lewat ajudan.

Kami pun ngobrol.

Kesan saya, dia orang cerdas, baik, toleran.

Saya jadi tak percaya dia korup-kecuali nanti dibuktikan.

Saya menduga dia hanya “tak paham betul urusan administrasi” sehingga terjadilah kesalahan “kurang mengawasi” atau “kurang teliti” atau “memberikan wewenang kepada orang lain” atau seterusnya lagi.

Saya sedih pemikir seperti dia harus ditahan karena urusan anggaran.

Ah, sudahlah.

Jika kesedihan saya atas Antasari dan Andi langsung pada tokohnya, berbeda dengan kasus Akil Mochtar atau pejabat korup lainnya, siapa pun dia.

Saya sedih membayangkan istri dan anaknya.

Mereka pasti terpukul berat.

Terbiasa hidup berkecukupan dan berjalan dengan tegak, kini berjalan merunduk-bahkan memakai kerudung-dan ngumpet dari keramaian.

Meski, ya, hidup berkecukupan tetap.

Mana ada koruptor yang dimiskinkan di negeri ini.

Bulan lalu saya diundang cuap-cuap oleh keluarga besar polisi di sebuah kota.

Saya berpesan kepada para istri polisi, kalau suami Ibu suatu saat pulang membawa mobil baru, menangislah keras-keras.

Tanya dari mana dapat uang untuk membeli mobil itu.

Gaji pokok, tunjangan beras dan lauk-pauk, pasti tak bisa untuk membeli mobil.

Jangan berjingkrak senang suami punya mobil.

Kalau suatu saat ketahuan suami korupsi, atau melakukan pemerasan, seluruh keluarga akan menderita.

(“Itu cobaan dari Allah, Pak,” celetuk seorang istri polisi.

Jawab saya: “Itu hukuman, bukan cobaan. Yang bernama cobaan, jika suami Ibu sudah berhati-hati bertugas tapi mengalami kecelakaan.”)

Berapa gaji Akil Mochtar?

Hakim konstitusi gajinya besar, dari Rp50 juta sampai Rp100 juta.

Katakanlah yang maksimal, tetap tak bisa membeli tiga mobil mewah dalam waktu empat atau enam bulan.

Kenapa sang istri tak bertanya, lalu curiga?

Di situ saya sedih.

Jika suami membawa harta yang tak jelas juntrungannya, istri wajib bertanya.

Apalagi tahu harta dari cara tak benar.

Kalau cuek, sang istri “ikut serta membantu kejahatan korupsi”.

Di sekeliling kita terjadi banyak ketidakwajaran.

Mantan kepala kepolisian resor punya rumah pribadi di tempatnya pernah bertugas.

Tidakkah rumah itu diberikan oleh penguasa properti?

Perwira tentara punya mobil mewah, dari mana mereka dapat?

Lalu, calon bupati yang berani obral duit puluhan miliar, bagaimana kalkulasi mengembalikan duit itu setelah jadi bupati?

Moral anak negeri ini runtuh sudah.

Saya sedih, tapi kalau saya ikut menghujat, justru lebih menyedihkan. Duh….

****** Tempo.co