Rumah tanpa Tangga

0
105 views
Kekerasan Dalam Rumah Tangga/KDRT (ilustrasi). www.news.com.au.

Red: Agung Sasongko

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasan Basri Tanjung

Kekerasan Dalam Rumah Tangga/KDRT (ilustrasi). www.news.com.au.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga/KDRT (ilustrasi). www.news.com.au.

Dalam Kitab Suci Alquran al-Karim dijumpai profil keluarga untuk menjadi ibrah (pelajaran). Pertama, suami yang kufur tapi istri dan ‘anaknya’ taat kepada Allah SWT, yakni keluarga Firaun (QS [26]:18-19, [28]:8).

Kedua, suami yang taat, tapi istri dan anaknya durhaka, yakni keluarga Nabi Nuh AS (QS [11]:42-46, [66]:10). Ketiga, suami dan anak yang taat tapi istri berkhianat, yakni keluarga Nabi Luth AS (QS [11]:81, [66]:10). Keempat, suami, istri, dan anak-anaknya saleh, yakni keluarga Nabi Ibrahim AS. Beliaulah moyang para Nabi dan Rasul, termasuk Nabi Muhammad SAW (QS [3]:33, [37]:102, [60]:6).

Beberapa waktu lalu, saya memangkas rambut di kawasan Jalan Baru Bogor. Seorang anak perempuan berumur empat tahun tampak sedang duduk ditemani ayahnya, yang bekerja sebagai tukang pangkas. Karena penasaran, saya bertanya ke mana ibunya hingga si kecil harus berada di lingkungan kurang cocok untuk seorang anak? Dengan lirih, dia menceritakan kepiluan sejak digugat cerai istrinya.

Kepedihannya bertambah ketika si istri tidak mau mengasuh anaknya, sementara dia harus mencari nafkah di Kota Bogor. Karena tidak ada kerabat yang bisa menjaga di kampung, akhirnya terpaksalah dia membawa anaknya dan tinggal berdua di kontrakan kecil yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Si kecil nan lugu ini pun kehilangan belai kasih sayang ibu dan kesempatan bermain dengan teman sebayanya.

Inilah Rumah tanpa Tangga, rumah tangga yang rapuh dan goyah. Kita harus menarik napas dalam-dalam ketika melihat fakta tentang rapuhnya keluarga Muslim, dengan meningkatnya kasus perceraian di berbagai daerah di Indonesia.

Padahal, keluarga adalah fondasi sebuah bangsa dan negara. Jika keluarga itu kuat, negara pun akan berjaya. Namun, jika keluarga itu rapuh, bangsa pun akan runtuh. Jika anak lahir dari keluarga yang rapuh, anak yang lahir pun lemah (dzurriyatan dhia’aafan), baik akidah, akhlak, ilmu pengetahuan, teknologi, maupun ekonominya (QS [4]:9).

Cukuplah menjadi renungan, laporan Republika (4/10/2016). Perceraian paling tinggi tahun 2015 terjadi di Indramayu, Malang, Banyuwangi, dan Surabaya. Di Indramayu, gugatan cerai sebanyak 6.804 dan talak 2.629 kasus. Di Malang, ada sebanyak 5.732 dan talak 2.842 kasus, Banyuwangi ada 5.361 dan talak 2.930 kasus, dan Surabaya sebanyak 5.172 dan talak 2.529 kasus.

Dampak setiap perceraian atau konflik keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan dan pendidikan seorang anak. Mereka sangat rentan menjadi korban eksploitasi, seperti perebutan hak asuh, pelarangan akses bertemu orang tua, penelantaran nafkah, dan korban penculikan keluarga.

Sejatinya, tanggung jawab ada di pundak orang tua (terutama ayah) sebagai pemimpin dan guru utama keluarga (QS [66]:6), lalu pemerintah sebagai ulil amri membuat regulasi yang melindungi warga negara agar hidup sejahtera dan bermartabat (QS [4]:59).

Mengutip nasihat Guru Besar saya, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin, yang mengingatkan bahwa jika hendak menghancurkan sebuah bangsa, cukup melemahkan tiga pilar penyangganya, yakni pertama, merusak sistem pendidikan dengan melemahkan posisi gurunya.

Kedua, melemahkan institusi keluarga dengan menyibukkan ibu rumah tangga di luar rumah hingga tak sempat lagi mengurus anak-anaknya. Ketiga, menjauhkan umat dari para ulama dengan menimbulkan konflik sosial keagamaan.

Ketiganya sedang terjadi dan melanda masyarakat Indonesia, disadari ataupun tidak, telah menggerus kekuatan bangsa ini secara perlahan tapi pasti.

Pendidikan tauhid (QS [2]:130-133, [31];12-13), syariat, dan akhlak (QS [31]:14-19) menjadi penopang utama lahirnya generasi beriman dan beramal saleh (dzurriyahthayyibah). Sebagai orang tua, kita wajib menghantarkan buah hati membangun keluarga yang baik(khair al-usrah) yang samara (sakinah mawaddah wa rahmah).

Semoga kita sempat melihat mereka menikah dengan pasangan yang saleh, berilmu dan beradab, lalu menimang cucu pada ujung usia sebelum tiba saatnya menghadap Ilahi Rabi, Allah SWT. Amin. Allahu a’lam bish-shawab.

********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here