Rumah di Atas Kuburan

0
26 views

Dianing Widya, novelis dan pegiat sosial, @dianingwy  

Jakarta, Garut News ( Rabu, 18/03 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Ada  puisi termasyhur yang menggunakan makam sebagai simbol kuat untuk menyatakan duka, yakni puisi berjudul Malam Lebaran karya Sitor Situmorang.

Puisi tersebut hanya terdiri atas satu baris frasa: bulan di atas kuburan. Dalam puisi itu, secara konotatif makam digambarkan sebagai dunia “lain” yang menyajikan kemuraman dan aroma kematian yang membetot saraf-saraf kita serta ketidakberdayaan manusia sekaligus kekuasaan Tuhan.

Namun kuburan belakangan ini tidak hanya bermakna demikian. Ia bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Lebih dari itu, makam merupakan cara keluarga berkomunikasi dengan orang lain.

Keluarga kaya tentu berbeda dengan keluarga miskin dalam urusan makam. Keluarga miskin cukup memakamkan saudaranya dengan cara sekadarnya, yakni dua nisan sederhana dari kayu dengan nama yang ditulis dengan peranti sederhana.

Urusan makam menjadi serius bagi keluarga kaya. Mereka tak akan memberikan nisan sederhana untuk orang yang mereka sayangi.

Nisan akan dipesan khusus dari tukang pembuat nisan, tentu dengan ornamen yang terkesan mewah. Bahkan, sebagian di antara mereka membeli khusus kaveling makam yang kini banyak muncul di sejumlah tempat, yang tentu saja, mewah, berkelas, hijau, dan nyaman bagi para peziarah alias lebih mirip taman rekreasi.

Di sinilah status sosial seseorang tetap terbaca, meski sudah meninggal.

Makam juga bisa menceritakan kepada publik siapa sosok yang terbenam di dalamnya. Taj Mahal hanyalah satu contoh. Makam ini dibangun sebagai ungkapan rasa cinta yang mendalam dari Kaisar Shah Jehan kepada istrinya, Mumtaz Mahal.

Dalam perkembangannya, makam ini menjadi salah satu tujuan wisata yang terkenal di seluruh dunia. Selain menjadi lambang cinta abadi, makam ini termasuk satu dari tujuh keajaiban dunia.

Makam juga menjadi penanda bagi almarhum: seberapa besar namanya ketika hidup, sejauh mana pengaruhnya dalam masyarakat, hingga sekuat apa kharisma dan ilmu agamanya.

Karena itu, makam orang biasa hanya dikunjungi keluarganya, sedangkan makam tokoh atau orang-orang besar diziarahi orang-orang dari berbagai kalangan.

Ada yang datang demi kepentingan politik (termasuk politik pencitraan), ada pula yang berdoa untuk almarhum, meminta restu, dukungan, hingga berkah.

Sikap masyarakat dalam memperlakukan makam juga berubah. Pada masa lampau, makam selalu dekat dengan suasana sepi, sintru, dan menyeramkan. Ia disikapi sebagai dunia “terasing”, seperti tergambar dalam puisi Malam Lebaran karya Sitor Situmorang di atas.

Tak aneh, ketika mendengar kata makam, bulu kuduk orang selalu bergidik. Anak-anak tak bisa dengan santai melenggang di depan makam dan cenderung memilih jalan lain untuk menghindar.

Orang pun tidak sembarangan melangkah di atas gundukan “rumah-rumah” orang yang terbaring di sana. Sebab, selain harus menjaga kesopanan, pengunjung harus menghormati orang-orang yang telah tiada.

Karena itu, sangat jarang, misalnya, makam digusur untuk kepentingan tertentu.

Hal itu berbeda dengan saat ini, ketika makam kehilangan “kekuasaan” magisnya. Makam tak lagi angker, sehingga tak lagi dihormati.

Karena itu, makam bisa dengan mudah berubah menjadi perumahan, mal, apartemen, dan proyek-proyek modern lainnya.

Makam dengan mudah digusur, sedangkan jasad di dalamnya dipindahkan ke tempat lain yang sangat jauh.

Ia semakin kehilangan nilai-nilainya sebagai pengingat kematian. Ia tidak lagi menyeramkan.

********

Kolom/Arikel Tempo.co