Ruang Pribadi dan Jebakan Teknologi

0
20 views

– Dianing Widya, Novelis, pegiat sosial di Spirit Kita

Jakarta, Garut News ( Kamis, 16/04 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Adam Smith, dengan istilah homo homini socius, mengatakan manusia merupakan sahabat bagi manusia lainnya. Pergaulan antar-manusia dari waktu ke waktu mengalami berbagai perubahan. Begitu pula dalam cara berkomunikasi.

Kini, kita tak membutuhkan kentongan untuk berkomunikasi. Bahkan, orang bisa bertemu dengan orang lain secara lebih mudah dan efisien, yakni lewat pesan pendek, telepon, chatting, serta media sosial.

Saat ini, media sosial merupakan sarana ampuh untuk melakukan berbagai hal, dari bersosialisasi, silaturahmi, berdagang, hingga memberi dukungan politik. Media sosial memberi manfaat besar jika setiap orang bisa menggunakannya secara wajar.

Namun, dalam perkembangannya, sebagian dari kita tak bisa mengendalikan diri dalam bermedia sosial. Kita terseret, bahkan tersesat di dalamnya seolah segala hal harus diungkapkan di media sosial, sampai kita benar-benar telanjang.

Tidak semua orang bisa memilah mana peristiwa “publik” yang boleh diungkapkan dan mana peristiwa pribadi, bahkan sangat pribadi, yang seharusnya hanya untuk konsumsi sendiri. Sebab, media sosial bukanlah ruang pribadi, melainkan ruang publik.

Ia merupakan bentuk lain dari public space di tengah kota atau kampung yang harus kita jaga. Mulai dari “jangan buang sampah sembarangan” hingga “jangan pipis sembarangan” di ruang publik.

Sebagaimana ruang publik lainnya, ia mesti tetap tampak indah dan tertata. Kita pun harus menjaga etika dan perilaku, dari sikap hingga cara bertutur serta berkomunikasi. Pergaulan di dunia maya tak berbeda dengan pergaulan di dunia nyata.

Tetap ada sopan-santun dan tata cara dalam bergaul. Jika dalam dunia nyata bergunjing dan mengungkap aib orang lain merupakan perbuatan tak terpuji, bobot yang sama berlaku di media sosial. Jika di dunia nyata urusan rumah tangga tabu untuk diumbar, di media sosial pun sama.

Apalagi, semua itu merupakan citra diri kita yang langsung mendapat respons dari orang lain. Sebagaimana di dunia nyata, sikap dan perilaku kita menunjukkan siapa kita sebenarnya.

Pakar psikologi Amerika Serikat, Irwin Altman, mengatakan privasi memiliki peran penting dalam mengembangkan identitas pribadi. Dengan menjaga privasi, seseorang dengan mudah mengevaluasi diri, mengembangkan, dan mengelola perasaan otonomi diri.

Perasaan otonomi tersebut meliputi perasaan bebas, kesadaran dalam memilih, dan tak terpengaruh oleh orang lain.

Sebaliknya, mereka yang tak pandai menyimpan privasinya akan tertelanjangi dalam kehidupan sosialnya dan terseret dalam proses deindividuasi. Karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk menyortir peristiwa yang bisa dikabarkan ke media sosial (ranah publik) dan yang hanya untuk konsumsi pribadi.

Sayangnya, pergaulan di media sosial justru menggeser tata krama dalam bergaul. Manusia seolah bukan hanya menjadi sahabat bagi manusia lain, sebagaimana digambarkan Adam Smith, tapi juga menjadikan manusia sebagai “budak” teknologi.

Kita seolah menjadi tak berdaya menghadapinya. Dari hari ke hari, kehidupan dan ruang pribadi kita semakin tergerogoti, bahkan tertelanjangi.

Padahal, menurut Don Ihde (Technology and the Lifeworld, 1990:140), teknologi bukanlah monster yang bisa mengendalikan manusia. Manusialah yang harus mengendalikannya. 

**********

Artikel/ Kolom : Tempo.co