Ruang Kreatif di Mana Saja

0
90 views

Mustafa Ismail, @musismail, bergiat di Teroka Indonesia

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Jum’at, 13/12 – 2015 ).

Produk Modivikasi Bebas Berekspresi.
Produk Modivikasi Bebas Berekspresi.

Belum lama ini saya menggagas diskusi kecil tentang kepenulisan #Ngobrol ProsesKreatif saat car-free day di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Saya mengajak cerpenis dan novelis, Ni Komang Ariani, menjadi narasumber dalam diskusi itu. Penulis sejumlah novel dan buku cerita pendek ini berbagi pengalaman tentang bagaimana menulis fiksi.

Poster pengumuman acara disebar lewat media sosial. Seorang blogger, Indria Salim, turut membantu menyebarkan informasi itu. Responsnya lumayan. Duduk di trotoar di salah satu sudut di Bundaran HI, para peserta ataupun narasumber tampak bersemangat. Mereka merasakan pengalaman baru berdiskusi di sana.

Ruang kreatif memang bisa di mana saja. Ini sebuah perlawanan terhadap persepsi umum bahwa ruang kreatif itu diikat oleh aturan-aturan dan mekanisme yang rumit. Ada tata cahaya, mikrofon, MC, penata pentas, manajer panggung, kostum, hingga sewa gedung dan biaya keamanan.

Akibatnya, kreator-kreator kebudayaan terperosok pada anggapan bahwa “tanpa uang, tidak mungkin membuat kegiatan”. Padahal, jika mereka membebaskan diri dari persepsi itu, mereka dapat berekspresi bebas di mana saja.

Ruang hanya medium, bukan gagasan. Gagasanlah yang membentuk ruang, bukan ruang yang membentuk gagasan. Ruang akan lebur dalam gagasan, bukan gagasan lebur dalam ruang. Maka ruang kreatif begitu tak berbatas. Batasnya adalah gagasan itu sendiri.

Pada akhirnya, uang pun bukan hal penting dalam berkarya atau menerapkan gagasan. Ketidakterbatasan ruang itu bukan hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya, dari Twitter hingga Instagram. Orang tak perlu mencetak buku, cukup e-book. Tak perlu berpameran di galeri, bisa memajang foto karyanya di media sosial.

Namun belum semua orang merasa nyaman dengan ruang digital. Ada banyak alasan, termasuk “romantisme kertas” atau “romantisme bau cat”. Padahal itu semua berkutat hanya pada masalah kebiasaan, bukan gagasan.

Begitu pula ruang publik. Sebagian besar orang masih menganggap ruang publik itu sebagai tempat untuk kongko, menunggu bus, tempat parkir, rapat RT, tempat pelesir, dan seterusnya. Padahal itu semua itu adalah ruang kreatif, ruang kebudayaan.

Sesungguhnya ada hal lain yang bisa dicapai dengan menjadikan semua tempat, termasuk kantor dan pos ronda, sebagai ruang kreatif, yang mendekatkan kesenian dengan masyarakat. Mereka bisa diajak serta membaca puisi, berteater, melukis, juga seminar di sana. Ini membuat kesenian tidak berada di menara gading, apalagi menjadi makhluk asing.

*******

Kolom/Artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here