RPH Garut Tak Berstandar Potong Sapi Import

Garut News ( Jum’at, 15/08 – 2014 ).

sapiya“Rumah Pemotongan Hewan” (RPH) di Ciawitali Garut, Jawa Barat, hingga kini masih dinilai tak berstandar, atawa belum memenuhi syarat bisa menyelenggarakan pemotongan sapi import.

Sehingga mengakibatkan, banyak pedagang membeli daging sapi import dipotong pada RPH Tasikmalaya, setiap harinya berkisar dua hingga tiga ekor sapi.

Sedangkan pemotongan sapi lokal pada RPH Garut, selama ini berkisar tujuh hingga delapan ekor setiap hari.

Mulai banyaknya pedagang melirik daging sapi import tersebut, lantaran mahalnya harga jual daging sapi lokal di Pasar Ciawitali Guntur, kini berkisar Rp93 ribu per kilogram.

RM Iman Budiman.
RM Iman Budiman.

Sedangkan harga jual daging sapi import pada pasar tradisional itu Rp87 ribu per kilogram.

Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Disnakanla kabupaten setempat, Ir RM Iman Budiman kepada Garut News di ruang kerjanya, Jum’at (15/08-2014), katakan daging sapi import yang dipotong di Garut atawa Tasikmalaya, diperbolehkan diperjualbelikan pada pasar becek maupun pasar tradisional.

Justru yang dilarang, diperjual belikannya daging sapi import di pasar becek atawa pasar tradisional, yang langsung didatangkan dari luar negeri.

Hingga kini, kata dia, masih terdapat sekitar empat pedagang daging sapi import yang langsung di datangkan dari luar negeri, mencapai sekitar empat ton peredaran setiap pekannya.

Diharapkan jajaran Disperindag setempat, bisa melakukan pelarangan penjualan daging sapi import yang langsung didatangkan dari luar negeri tersebut, imbuh Iman Budiman, menyerukan.

“Segera Dibangun RPH Sapi Import”

Pada 2014 ini, diagendakan segera dibangun RPH bisa menyelenggarakan pemotongan sapi import, berkapasitas penampungan sepuluh ekor sapi per hari.

Namun proses pemotongannya bisa berlangsung pada enam hingga delapan ekor sapi per jam, katanya.

Mekanismenya, sapi yang tiba di komplek RPH dengan mobil truk tak dihardik, melainkan di arahkan bisa dengan sendirinya turun memasuki ruang penampungan untuk diistirahatkan atau puasa.

Kemudian masing-masing memasuki “gang way” persiapan proses pemotongan, dilanjutkan masing-masing memasuki kotak.

Kotak inilah, secara hidrolik membalikan posisi sapi, untuk dipotong dengan pisau disertai do’a dari pemotongnya.

Sehingga tak seperti selama ini, setiap sapi kerap menjadi stres berat lantaran dipaksa ditarik dengan tali, ditarik-tarik pula untuk direbahkan sebelum dipotong.

Meski umumnya sapi import, berkarakter “lingas” atawa super aktif bahkan beringas dibandingkan sapi lokal, katanya.

Karena itu, standar pemotongan sapi import dimaksudkan memenuhi kesejahteraan hewan, juga dagingnya dijamin hygines, ungkap Iman Budiman.

Namun dia masih enggan menyebutkan, nilai terserap pembangunan RPH sapi import, bersumber dari APBN itu.

******

Esay/Foto : JDH.

Related posts