Rivera

0
88 views
Gadis Manis Papua.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 07/08 – 2016 ).

Gadis Manis Papua.
Gadis Manis Papua.

Gambar di kanvas: seorang perempuan berdiri dengan baju kurung warna ros, berselendang, memegang seikat kembang, sopan. Diego Rivera yang melukisnya mungkin tak akan melihatnya sebagai bagian dari pendiriannya: “Semua seni adalah propaganda….”

Aneh, memang, Gadis Melayu dengan Bunga dalam pameran Koleksi Istana Kepresidenan di Galeri Nasional bulan ini adalah karya Rivera sang perupa revolusioner Meksiko. Sosok perempuan itu teramat kalem. Tak ada yang gemuruh di sekitarnya. Tak ada keringat, gerak, kepedihan. Semua jinak. Kanvas ini tak ingin meyakinkan, mengubah, menggempur. Malah membosankan jauh dari gelora dalam lukisan Sudjojono yang mempesona.
Tak terasa energi Rivera yang biasa.

Dari Balik Kisi Masjid Agung Garut.
Dari Balik Kisi Masjid Agung Garut.

Kita ingat El Vendedor de Alcatraces (“Penjual Bunga Lili”), karya tahun 1941, sebuah contoh yang terkenal. Rivera melukis beberapa perempuan penjual bunga sebelumnya, tapi kanvas ini menampilkan ekspresinya yang paling kuat: sapuan kanvas yang penuh untuk latar yang gelap, sesosok tubuh perempuan dengan warna kulit moreno dan rambut hitam lurus.

Rivera menampilkan seorang pekerja Indian yang memanggul bakul kembang yang lebih besar ketimbang tubuhnya. Kembang itu bisa berarti beban yang dipertalikan ke badannya, beban yang berlebihan, bisa juga berarti sesuatu yang indah tapi harus diperdagangkan.

Atau mungkin lukisan ini menyiratkan apa yang menggugah hati dalam kerja bersama: di belakang perempuan yang merunduk berlutut itu ada sepasang kaki dan tangan yang menolong memasangkan beban besar itu di punggungnya.

El Vendedor bisa dilihat sebagai sebuah komentar sosial-politik ”sebuah “propaganda”, tak berbeda dengan beberapa mural yang dibuat Rivera: karya ekspansif yang menyampaikan sikapnya tentang manusia dalam sejarah.

“Semua seni adalah propaganda…,” katanya. Dalam arti tertentu Rivera benar, tapi kiranya catatan sastrawan revolusioner Tiongkok Lu Xun bisa menambahkan frasa yang lebih tepat: “Tapi tak semua propaganda adalah seni.” Atau, tambah­an dari saya: seni mengandung propaganda, tapi bukan propaganda yang mengulangi represi lama atau menghasilkan represi baru.

Di abad ke-20, seni bisa jadi propaganda dan sebaliknya, dengan sah dan berarti, jika yang menggerakkan adalah, untuk memakai istilah Rancire, “disensus” kata lain untuk penolakan terhadap konsensus yang menekan.

Di abad ke-20 dan sampai hari ini, meskipun tanpa berteriak, seni adalah bagian emansipasi sebagai proses yang hidup. Yang berperan bukan cuma negasi yang disampaikan sang seniman terhadap kebekuan, melainkan juga bagaimana karya itu diterima atau ditolak orang di suatu masa, di suatu tempat.

Pada 1934, Rivera menerima pesanan dari keluarga jutawan Amerika Rockefeller untuk membuat mural di Rockefeller Center, di tengah Manhattan, New York. Themanya: manusia di persimpangan jalan.

Di dalamnya diinginkan ada gambar seseorang yang menatap ke depan untuk memilih jalan ke masa depan yang lebih baik, meskipun tak pasti.

Rivera pun menyampaikan sebuah sketsa rancangan muralnya. Tapi ternyata kemudian yang dibuatnya berbeda.

Ia agaknya terusik cemooh kalangan kiri New York karena ia, seorang seniman komunis, bersedia bekerja untuk propaganda seorang kapitalis besar. Maka di mural itu ia tambahkan dua gambar: di sebelah kanan gambar Lenin, pemimpin revolusi Rusia; di sebelah kiri gambar Rockefeller, sedang mereguk martini di dekat seorang pekerja seks.

Tak mengherankan, proyek itu gagal. Mural Rivera bersejarah justru karena dihapus dari dinding.

“Disensus” seperti ini tak hanya ia terapkan kepada sang kapitalis. Pada 1938 ia ikut menandatangani “Manifesto bagi Sebuah Seni Revolusioner yang Independen”.

Penyusunnya Trotsky, pemimpin komunis Rusia yang menyingkir dari kekuasaan Stalin di Moskow (dan kemudian dibunuh), dan Andr Breton, sastrawan pelopor (“Paus”) Surealisme; ia juga komunis.

Manifesto itu mengutip Marx yang mengatakan bahwa seorang penulis tak memandang kerjanya sebagai sarana, melainkan sebuah tujuan sendiri. Dalam hubungan itu, “Seni resmi Stalinisme”, kata lain dari “realisme sosialis”, dikecam.

Politik Partai bukanlah panglima. Manifesto itu justru menyerukan kehidupan seni yang “tanpa otoritas, tanpa dikte, tanpa sedikit pun perintah dari atas”.

Rivera beberapa kali dipecat dari keanggotaan Partai Komunis. Ia kembali bergabung. Meskipun demikian, seperti pada Picasso yang juga seorang komunis seninya tak pernah bersedia mengikuti formula, tak pernah patuh pada apa pun.

“Saya tak pernah percaya kepada Tuhan, tapi saya percaya kepada Picasso,” katanya.
Kemudian ia juga meninggalkan Picasso: hidup kreatif memang tak bisa ajek.

*****

Goenawan Mohamad/Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here