Risma VS Widya Sikapi Prostitusi

by

Garut News ( Senin, 24/02 – 2014 ).

Ilustrasi, Bagaimana Penanganan Kondisi Obyek Wisata Cipanas Garut, Jabar, Selama Ini "Terindikasi Kuat" Juga Terdapat Praktek "Transaksi Badani" Prostitusi Terselubung. (Foto: John).
Ilustrasi, Bagaimana Penanganan Kondisi Obyek Wisata Cipanas Garut, Jabar, Selama Ini “Terindikasi Kuat” Juga Terdapat Praktek “Transaksi Badani” Prostitusi Terselubung. (Foto: John).
Jika Ny. Risma (Walikota Surabaya) berani menyatakan akan menutup tempat pelacuran Dolly di SUrabaya, maka Ny. Widya (Bupati Kendal) menyebut tak manusiawi apabila lokalisasi di Kendal ditutup…

Pernyataan Ibu Widya di media massa:

“Pekerja seks komersial, pahlawan keluarga lantaran mereka umumnya bekerja menghidupi keluarga. Dalam kondisi itu, tak manusiawi jika tempat pelacuran ditutup”

“Selain tak manusiawi, ditutupnya lokalisasi menimbulkan persoalan baru, menambah kemiskinan dan merebaknya penyakit kelamin. Pasalnya, kemungkinan para PSK itu mangkal di jalan-jalan apabilabila lokalisasi ditutup,”

“Bisa saja menutup tempat pelacuran, tetapi PSK-nya kudu diberi pekerjaan dulu,”

“Pernah saya tanya pada para PSK. Kenapa kembali ke lokalisasi? PSK itu menjawab sebab kesulitan mencari pelanggan. Sementara kalau dia menjadi PSK, sehari bisa mendapat lima pelanggan,”

Bupati Kendal ini pun berencana mengganti slogan “Kendal Beribadat” menjadi “Kendal Hebat”.

Slogan “Kendal Beribadat” tak sesuai situasi, dan kondisi masyarakat Kendal.

“Beribadat mempunyai arti positif. Sementara di Kabupaten Kendal masih terdapat beberapa tempat pelacuran besar, dan juga banyak pengguna narkoba. Apabila nanti slogannya diganti dengan ‘Kendal Hebat’, bisa memotivasi orang Kendal bisa menjadi orang hebat. Sebab, orang hebat bisa memilih mana baik dan mana tidak,”

Mari kita bandingkan pernyataan Widya di atas dg Ide Risma;

1. Menurut Ibu Widya, menutup lokalisasi pelacuran adalah hal mudah.

Tampaknya Widya meremehkan langkah Ibu Risma, sebagai hal mudah.

Padahal langkah Risma tersebut tidaklah mudah.

Banyak tantangan dari pihak-pihak berkepentingan terhadap keberadaan lokalisasi Dolly.

Risma juga memikirkan penanggulangan atas dampak ditimbulkan dari penutupan lokalisasi tersebut.

2. Widya bilang, bisa saja menutup tempat pelacuran, tetapi PSK-nya kudu diberi pekerjaan dulu.

Jika Widya baru sebatas bicara, ternyata Risma melakukannya.

Menanggulangi dampak-dampak akibat ditutupnya lokalisasi Dolly, Ibu Risma menganggarkan Rp28 milyar pembangunan pada bekas kawasan lokalisasi Sememi, dan Klakahrejo.

Rencananya, anggaran digunakan membangun pasar, sentra pedagang kaki lima, dan sejumlah sarana fasilitas umum lain.

“Dengan begitu, warga penghuni eks lokalisasi mendapat peluang kerja memenuhi kebutuhan ekonomi,” kata Risma.

3. Widya mengatakan PSK pahlawan keluarga.

Hmmm, seriuskah Widya dengan pernyataannya tersebut.

Apakah para PSK benar-benar “menghidupi keluarga” seperti kata Widya?

Nah mari kita simak apa alasan Risma menutup lokalisasi Dolly.

Puncak keyakinan Risma menutup lokalisasi prostitusi justru tak terlepas perkenalannya dengan seorang pekerja seks komersial masih menjajakan tubuhnya meski berusia 62 tahun.

Suatu kali saat berkeliling ke lokalisasi dan menemui perempuan itu, Risma mengaku heran mengapa nenek itu masih menjadi PSK.

Beliau lantas bertanya, “Memang siapa yang sih yang mau (menggunakan jasanya sudah tua)?”

Jawaban perempuan itu kemudian membuatnya tercengang.

“Anak SMP/SMA cuma punya seribu dua ribu juga saya layani,”
katanya mengulangi kalimat PSK tersebut.

Bagi Risma, itu persoalan besar.

Dia tak rela membiarkan lebih banyak terdapat anak-anak muda di kotanya menjadi korban lantaran menikmati prostitusi di lokalisasi. Lagi-lagi dia menegaskan, “Saya rela mati demi ini.”

Lebih menarik jika Widya dan Risma dipertemukan pada satu forum memerdebatkan hal tersebut.

Dua kepala daerah bervisi beda dalam hal penanganan masalah prostitusi…

Refferensi: kompas.com, kompasiana.com, id.berita.yahoo.com, metrotvnews.com
*****