Riset Ilmuwan Indonesia Membuka Peluang Atasi Kecemasan dengan Teknologi

0
33 views

Garut News ( Kamis, 28/04 – 2016 ).

Otak manusia. (Shutterstock).
Otak manusia. (Shutterstock).

– Bayangkan Anda berjalan pada tengah malam melewati jalanan yang gelap dan sepi. Anda akan cenderung merasa takut dan cemas, was-was akan datangnya penjambret ataupun pemerkosa.

Kecemasan di satu sisi adalah reaksi yang normal dan berdampak positif, memungkinkan manusia membangun kewaspadaan dan menghadapi situasi sulit.

Namun di sisi lain, kecemasan apabila berlebihan bisa mengarah pada gangguan psikologi, mengakibatkan individu tidak produktif bahkan memicu tindakan bunuh diri.

Penelitian yang dilakukan oleh Taruna Ikrar, ilmuwan Indonesia yang bekerja di University of California di Irvine, Amerika Serikat, membuka gerbang untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh orang dengan kecemasan akut.

Riset Taruna beserta ilmuwan lain yang dipublikasikan di Journal of Neurophysiology pada 6 April 2006 lalu membuka kemungkinan untuk mengontrol kecemasan dengan teknologi.

“Persimpangan” Otak dan Kecemasan

Awalnya, Taruna dan rekan meneliti 12 orang pasien dengan kecemasan berlebihan. Mereka memindai otak para pasien dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk menentukan area yang bertanggung jawab pada kecemasan.

Mereka mengungkap, area yang bertanggung jawab pada kecemasan adalah bernama amygdala. Area yang berukuran hanya 5 milimeter itu berada pada bagian depan batang otak.

Selanjutnya, dengan hewan percobaan berupa tikus putih, Taruna dan rekan mengidentifikasi secara spesifik daerah dalam amygdala yang bertanggung jawab pada kecemasan dan memetakannya.

Identifikasi dan pemetaan dilakukan dengan metode berbasis stimulasi cahaya dan optogenetik, sebuah metode maju paduan antara cahaya, saraf, dan genetika yang kini menjadi tren dalam penelitian ilmu saraf di dunia.

Penelitian mengungkap, area dalam amygdala yang bertanggung jawab pada kecemasan berlebihan pada manusia disebut Bed Nucleus of the Stria Terminals (BNST).

“Amygdala bisa diibaratkan persimpangan jalan di otak kita. Semua sinyal lewat. Sementara BNST adalah pusat dari persimpangan itu,” kata Taruna kepada Kompas.com, Rabu (27/4/2016).

Bukan hanya mengidentifikasi bagian yang bertanggung jawab pada kecemasan. Taruna mengatakan, “Kami berhasil memetakan secara detail bagaimana reaksi atau berlangsungnya sinyal yang memicu kecemasan.”

Salah satu yang ditemukan adalah adanya penghambatan lokal pada ujung saraf yang terkait dengan pelepasan hormon kortikotropin (CRH).

Apabila ujung saraf yang terkait CRH menerima dan meneruskan sinyal, maka akan terjadi proses yang berujung pada pelepasan hormon stress.

CRH akan memicu pelepasan hormon adrenokortikotropik yang akan memerintahkan kelenjar adrenal pada ginjal untuk melepaskan hormon stress dan kecemasan bernama kortisol.

Gerbang Mengontrol Kecemasan

Optogenetik yang digunakan Taruna di satu sisi berguna untuk penelitian struktur dan fungsi saraf. Di sisi lain, optogenetik juga berpeluang untuk pengobatan.

Data-data dalam riset Taruna menunjukkan, penghambatan pada area BNST bisa dikontrol. “Artinya kami sebenarnya bisa mengontrol proses stress, cemas, dan ketakutan pada subyek penelitian kami,” kata Taruna.

Dalam penelitian, manipulasi kontrol kecemasan memang masih dilakukan pada hewan. Namun di masa depan, kontrol kecemasan bisa diaplikasikan pada manusia.

“Tapi itu masih jauh. Masih banyak yang harus diteliti. Banyak tahap yang harus dilalui untuk sampai uji klinis pada manusia,” katanya.

Yang dibayangkan, kontrol kecemasan manusia pada masa depan akan melibatkan teknologi cahaya, teknologi nano, serta neurosains.

Perangkat kecil yang membuat sel saraf peka cahaya bisa diimplan pada manusia, dikirimkan lewat pembuluh darah dengan cara disuntikkan.

Mungkin kontrol kecemasan terdengar mengerikan, seolah-olah seperti mampu membuat manusia hidup tanpa rasa cemas. Namun bagi orang dengan kecemasan akut, pendekatan optogenetik mungkin berguna.

Bukan cuma pada kecemasan, optogenetik digadang juga bisa menyelesaikan masalah psikiatri lain seperti depresi akut dan penyakit lain seperti Parkinson.

Orang dengan masalah psikiatri seringkali mendapatkan stigma negatif. Optogenetik berpeluang mengatasi masalah yang menjadi sumber stigma.

********

Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here