Ribuan Korban Cimanuk Garut Terpaksa Tempati Lokasi Bencana

0
177 views
Saefulrohman.

“Sejak Awal Pascabencana Tak Bisa Mengungsi di Huntara”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Sabtu, 14/10 – 2017 ).

Saefulrohman.

********* Sekitar 200 Kepala Keluarga (KK) atau sedikitnya seribu penduduk korban terdampak puncak amuk Sungai Cimanuk Garut, Jawa Barat, pada 20 September 2016 silam, yang berada di lingkungan RW. 01 Kampung Blok Lapang Paris Dalam Kelurahan Sukakarya, terpaksa masih menempati lokasi rawan bencana banjir bandang tersebut.

Padat Pemukiman Penduduk.

*********** Mereka, hingga satu tahun lebih pascabencana hingga kini secara resmi hanya mendapatkan bantuan Pemkab setempat melalui Dinas Sosial dan kelurahan, berupa uang Rp900 ribu setiap penduduknya guna menunjang kebutuhan makan selama tiga bulan.

“Itu pun yang mendapatkannya tak merata, atau tak semua korban terdampak bisa mendapatkan. Sehingga terpaksa uang yang saya terima untuk satu keluarga/empat orang Rp3.600.000 dibagikan sebagian kepada korban yang tak mendapatkannya,” ungkap Bendahara RW. 01, Saefulrochman.

Ungkapan senada dikemukakan pula Ketua RT.03/01, serta warga lainnya di perkampungan itu, kepada Garut News, Sabtu (14/10-2017).

Masih menurut Saefulrohman, nyaris seluruh penduduk di lingkungannya termasuk dirinya sendiri sejak pascabencana tak bisa melakukan pengungsian di “Hunian Sementara” (Huntara). Lantaran semua tempat pengungsian sudah penuh.

Memungut Sisa Pasir Untk Menata Lingkungan.

********** Maka dirinya sekeluarga terpaksa mengungsi di rumah besan, demikian pula penduduk lain terdampak bencana ini menyempatkan mengungsi ke rumah saudara maupun sanak-saudaranya.

Kemudian kembali lagi ke lokasi semula meski berkondisi rawan bencana banjir bandang, bahkan Saefulrohman pun memaksakan diri memerbaiki rumahnya yang porak-poranda digerus banjir dengan menghabiskan biaya Rp11 juta.

Demikian pula warga lainnya menempati rumahnya masing-masing, kendati masih banyak yang belum diperbaiki, termasuk satu keluarga pengungsi di Gedung Transito kini kembali ke Kampung Blok Lapang Paris Dalam, ungkapnya pula.

“Kami penduduk disini masih bingung, apakah bakal direlokasi ke rumah tapak, atau pemerintah kabupaten mengganti perbaikan rumah penduduk,” kata Saefulrohman.

Para korban terdampak pun, kian mendesak memerlukan bantuan modal usaha, serta mengharapkan bisa mendapatkan pelatihan keterampilan.

Selain itu, sangat memerlukan bantuan Pemkab Garut untuk kembali menata lingkungan termasuk pendirian Posyandu, Pos Siskamling, Sektretariat RW, serta “penerangan jalan umum” (PJU).

Meski kini terdapat beberapa titik PJU hasil swadaya masyarakat, namun masih banyak yang harus dilakukan guna membenahi kembali lingkungan, imbuhnya.

Bahkan kini ada sedikitnya 12 rumah penduduk yang bakal terbongkar proyek pembangunan peninggian tanggul, sehingga bagaimana konvensasinya.

Jika ini merupakan daerah rawan bahaya, kenapa penduduk tak segera direlokasi atau diungsikan di Huntara, ungkap korban terdampak bencana lainnya.

 

**********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here