Revolusi Metode Pembelajaran

0
43 views

M. Syamsul Arifin, pegiat di Forum Penulis Muda Jogja

Garut News ( Senin, 05/01 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Generasi hari ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi hari ini terlahir ketika di sekelilingnya dipenuhi kecanggihan teknologi digital.

Ketika belajar membaca dan menulis hingga beranjak usia remaja, mereka dimanjakan oleh game online, MP3 player, hingga yang menyita banyak waktu: media sosial.

Namun masalah selanjutnya adalah, teknologi digital (smart phone) tidak hanya membawa sejumlah dampak positif, tapi juga sejumlah dampak negatif.

Dalam konteks pembelajaran, sejatinya smart phone bisa mendukung proses belajar-mengajar yang dilakukan guru-murid.

Proses knowledge transfer membina karakter dan keterampilan agar yang dilakukan guru bisa berjalan lancar.

Di samping dampak positifnya, smart phone juga berdampak buruk. Kita kerap menjumpai remaja yang berada dalam sebuah forum tanpa berkomunikasi satu sama lain.

Generasi sekarang seolah asyik dengan dunianya sendiri, yang dipenuhi kecanggihan digital.

Meminjam bahasa Don Tapscott (2013), inilah generasi acuh tak acuh. Minat mereka hanya kultur populer, para pesohor, dan teman-teman mereka.

Karena itu, transformasi pembelajaran menjadi mutlak harus kita lakukan. Bertolak dari hal di atas, revolusi metode pembelajaran menjadi mutlak harus kita lakukan.

Pertama, kurangi metode ceramah. Mereka sudah bosan dengan gaya ini. Menurut Felder dan Soloman (1993): “Pembelajar di zaman informasi ini mempunyai kecenderungan gaya belajar aktif, sequential, sensing, dan visual.”

Kedua, fokus pada pembelajaran seumur hidup, bukan pada mengajarkan untuk ujian semata. Yang terpenting bukan hanya tentang apa yang mereka ketahui ketika mereka lulus, tapi juga untuk mencintai pembelajaran seumur hidup.

Para guru tidak perlu khawatir siswanya lupa tanggal peristiwa penting dalam sejarah, karena mereka dapat mencari informasi itu kapan saja dengan melalui buku maupun web.

Para guru perlu mengajari mereka cara belajar, gemar membaca dan menulis, bukan hanya cara mengetahui.

Ketiga, berdayakan para siswa untuk berkolaborasi. Dorong mereka agar bekerja sama dengan yang lain dan tunjukkan cara mengakses sumber pengetahuan yang tersedia di web dan lain-lain.

Dalam hal ini, mungkin kita dapat belajar dari pengalaman Uri Treisman, seorang profesor matematika di Universitas California-Berkeley.

Melihat banyak mahasiswa kulit hitam yang nilai kalkulus-nya sangat jelek, Prof Treisman melakukan riset kecil.

Ia membandingkannya dengan kelompok mahasiswa asal Cina, yang semua memperoleh nilai bagus. Ia menemukan bahwa mahasiswa Cina suka bekerja dalam kelompok, sedangkan mahasiswa kulit hitam cenderung bekerja mandiri.

Ia mengubah kondisi dan tata letak kelas serta menerapkan sistem pembelajaran kelompok. Tak lama kemudian, prestasi para mahasiswa kulit hitam meningkat pesat.

Guru menghadapi manusia, bukan seperti buruh pabrik dan karyawan perusahaan yang berhadapan dengan benda mati.

Guru memiliki tugas perencanaan, pembelajaran, dan penilaian (evaluasi). Perencanaan dilakukan sebelum mengajar di kelas dan penilaian setelah mengajar di kelas selesai.

Inilah yang diinginkan Kurikulum 2013. Sekarang revolusi (metode) pembelajaran ada di tangan para guru di seantero Indonesia.

Apakah mereka akan melakukan revolusi? Kita tunggu gebrakannya untuk menciptakan generasi emas.

********

Kolom/artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here