Revolusi Metal

Iwel Sastra,
Komedian@iwel_mc

Garut News ( Jum’at, 16/04 – 2014 ).

Ilustrasi. Kondisi Anak Jalanan Kota Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Kondisi Anak Jalanan Kota Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).

Istilah revolusi metal yang saya tulis terinspirasi ketika melihat laki-laki berdandanan metal ala Kirk Hammett, gitaris grup band Metallica.

Rambut gondrong, jenggotan, pakai kaus warna hitam plus celana ketat, tapi ikut larut di antara penonton yang sedang menikmati penampilan JKT48, girl band yang beranggotakan puluhan remaja putri cantik dan manis.

Sebelumnya, kita juga pernah mendengar istilah “wajah Rambo hati Rinto”.

Maksudnya, berwajah jantan seperti Rambo yang diperankan oleh Sylvester Stallone, tapi hatinya cengeng seperti lagu-lagu yang diciptakan oleh Rinto Harahap.

Istilah revolusi metal ini kemudian saya gunakan untuk menunjuk pada fenomena bahwa segala sesuatu tidak bisa lagi dinilai dari luar.

Dulu, orang yang bertato dicitrakan sebagai preman atau penjahat, sekarang ini tato menjadi bagian dari fashion yang tren bagi sebagian orang, termasuk perempuan.

Dulu, laki-laki yang bertubuh kekar dengan wajah maskulin dianggap sebagai lelaki sejati.

Tapi sekarang, kita tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan sebelum mendengar dia berbicara atau melihat bahasa tubuhnya.

Bisa-bisa nanti kecewa, cyin….

Penampilan luar adalah kemasan yang bisa diciptakan seseorang dalam rangka pencitraan.

Sebagai contoh, pada pemilu legislatif yang lalu, rakyat hanya disodori foto-foto para caleg tanpa mengenal lebih jauh siapa mereka sesungguhnya.

Ada foto caleg yang dipasang di papan reklame, ada yang di pohon, dan ada yang di tiang listrik.

Caleg yang fotonya dipasang di tiang listrik ini disebut caleg nyentrik, alias “nyender di tiang listrik”.

Mengenal caleg hanya dengan melihat tampak luar tanpa mengenal lebih dalam memunculkan kekecewaan di kemudian hari.

Ini bisa dilihat setelah caleg terpilih ditetapkan melalui pleno KPU, kemudian ramai berita mengenai anak buronan BLBI yang lolos ke Senayan.

Jika pemilih membaca berita ini setelah yang bersangkutan terpilih, tentu sudah tidak ada artinya.

Ibaratnya seorang perempuan dinikahi seorang pria, beberapa hari setelah pernikahannya baru tahu bahwa pria yang dinikahinya masih memiliki istri yang sah.

Ini bukan lagi sekadar nasi yang telah jadi bubur, bahkan angpau pun telah jadi bubur.

Dari daerah, dikabarkan tukang tambal ban, tukang bakso, hingga tukang ojek berhasil terpilih menjadi anggota DPRD.

Tidak ada salahnya, memang.

Karena, menurut undang-undang, siapa pun berhak mencalonkan diri selama memenuhi syarat.

Kalau dipaksakan, profesi apa pun tetap bisa relevan menjadi anggota legislatif.

Misalnya anggota legislatif yang memiliki latar belakang tukang ojek, bisa duduk di komisi yang mengurusi transportasi.

Sedangkan yang memiliki latar belakang tukang bakso bisa duduk di komisi yang mengurusi pangan.

Begitu seterusnya, semua pasti bisa dihubung-hubungkan.

Meskipun secara kualitas tetap menimbulkan kekhawatiran.

“Tak kenal maka tak sayang” bukanlah pepatah yang ditujukan hanya kepada kaum jomblo.

Pepatah ini ditujukan kepada siapa saja untuk mengenal seseorang lebih jauh bahkan untuk mengenal calon pemimpin mereka.

Orang barat sering bilang, “Don’t judge the book by it’s cover.”

Jangan menilai buku hanya dari sampul depannya.

Sampul depannya jelek belum tentu isinya bagus, he-he-he.

Makna dari ungkapan yang saya plesetkan ini adalah kita jangan terlalu cepat menyimpulkan apa yang terlihat tanpa mengenal lebih dalam. *

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts