Revolusi Digital Baru Dimulai

0
23 views
Digital Nation. (dok. Pribadi).

Rabu , 27 September 2017, 02:00 WIB
Indonesia Digital Nation

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bari Arijono *)

Digital Nation. (dok. Pribadi).

Revolusi digital baru saja dimulai. Dengan teknologi baru yang terus berkembang dan semua potensi yang diberikan, bukan tidak mungkin kita mampu memprediksi bagaimana masa depan bangsa di tahun-tahun mendatang. Teknologi digital jelas akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi sebuah negara karena kecepatannya merambah hampir di semua sektor.

Teknologi digital siap mengubah masa depan kita semua, kehidupan kita. Otomasi, Big Data, IoT (Internet of Thing), kecerdasan buatan (AI) dan bisnis model baru ‘sharing economy’ yang dimungkinkan, bisa memengaruhi 50 persen perekonomian dunia. Lebih dari 1 miliar pekerjaan dan 14,6 triliun dolar AS upah pekerja di digitalisasi oleh teknologi saat ini, yang menemukan cara baru yang lebih cepat, mudah, dan murah.

Digitalisasi sedang mendorong globalisasi

Setiap hari, miliaran orang di seluruh dunia menggunakan internet untuk saling berbagi ide, bertransaksi, dan tetap berhubungan dengan keluarga, teman, dan rekan kerja. Dengan penetrasi internet di seluruh dunia hampir 50 persen, ekonomi digital sedang menjadi primadona dan menciptakan peluang baru pasar.

Seperti, kecepatan pertumbuhan e-Commerce sekarang memegang peran penting untuk pertumbuhan PDB dari pada perdagangan konvensional. Sehingga, akan mencapai keunggulan kompetitif di era digital ini yang sedang menjadi prioritas utama bagi pemerintah, pengusaha, dan warga negara yang berusaha untuk tetap relevan di pasar global.

Daya saing ekonomi digital suatu negara adalah fungsi dari dua faktor: keadaan kekinian digitalisasi (current state) dan kecepatan digitalisasi saat ini dari waktu ke waktu (pace overtime). Sebagaimana bagan di bawah ini hasil riset dari The Fletcher school at Tufts University ini Partnership with Mastercard, mengklasifikasikan negara menjadi empat zona lintasan yang berbeda: Stand Out, Stall Out, Break Out, Watch Out yang disebut sebagai DEI (Digital Evolution Index) Chart – sebuah peta kondisi perkembangan bangsa digital.

Kita telah masuk kedalam sebuah konsep bangsa baru, yaitu digital nation dimana masa depan kita tidak akan terjadi begitu saja, ini perlu dibangun oleh passion. Jika kita semua terlibat, nilai, kolaborasi dan inovasi akan membentuk dan mendorong transformasi masyarakat kita menuju bangsa digital Indonesia.

Proliferasi platform digital dan kecanggihan teknologi semakin membuat masyarakat semakin banyak merasakan manfaatnya, dimudahkan, dan serba cepat hingga mau menghabiskan waktu untuk berinteraksi dan bertransaksi secara online. Tidak mustahil jika dunia konvensional lama-lama akan ditinggalkan karena saat ini memang sedang terjadi pergeseran pola pikir (mindsets) di masyarakat, saat mereka mulai berpaling ke digital baik di kehidupan sehari-hari maupun bisnis.

“New’s leaders to become Tomorrow’s leaders”

Bangsa digital membutuhkan pemimpin baru: orang yang memiliki rasa ingin tahu (new idea), inovasi, creativity, dan percaya diri untuk meninggalkan budaya lama (old fashion), memiliki visi untuk mendesain ulang negara ini (rethinking), memikirkan dampak sosial, keberanian untuk bertindak tepat, kekuatan untuk memimpin dengan memberi contoh (lead by example), dan kecepatan mengambil keputusan yang diwujudkannya dengan cara Revolusi Digital.

“This is our Big Dream – the Digital Nation”

Indonesia adalah termasuk negara besar dunia yang memiliki sumber daya alam melimpah, negara agraris yang paling subur, negri maritim terluas dengan kekayaan laut luar biasa dan industri kecil menengah yang terbukti menjadi tumpuan ekonomi bangsa ini. Namun, kenapa negara ini masih belum mampu menunjukkan kedigdayaan nya sebagai bangsa besar?

Kenapa taraf hidup penduduk bangsa ini masih tertinggal jauh dari negara-negara maju lainnya? Mengapa kita masih belum merdeka secara utuh? Apa yang salah selama 72 tahun merdeka? Usia yang tidak muda lagi buat bangsa seperti kita.

Segala usaha sedang ditempuh untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional kita, dari pembangunan infrastruktur, connectivity hingga peningkatan ekspor produk dan jasa. Pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial, pemberantasan korupsi, fokus di sektor unggulan Pertanian, Pariwisata dan Perikanan, meningkatkan layanan masyarakat serta tidak lupa pertahanan dan keamanan nasional. Kita belum keluar dari zona degradasi, kita masih sibuk membangun fondasi! Terus bagaimana kita mampu bangkit menyongsong menjadi energi Asia?

Besarnya populasi memang menjadi kekuatan sebuah bangsa, namun tidak akan selalu menjadikan bangsa ini besar dan disegani bangsa lain. Kita boleh saja bangga menjadi negara dengan jumlah pengguna sosial media terbesar se-dunia, facebook no 4 dan twitter no 2, namun sayangnya masih sebagai konsumen bukan produsen.

Bukanlah Tokyo, Bangkok, ataupun London yang menjadi kota terpopuler di Instagram Story, tapi Jakarta diurutan pertama, diikuti Sao Paulo di urutan kedua dan New York pada peringkat tiga. Bahkan jumlah peguna Instagram di Indonesia semakin besar mencapai 45juta masuk 5 besar dunia (dari total 700juta penguna). Negara penguna whatsapp messenger terbesar se-ASEAN dan satu-satunya negara yang masih setia mengunakan BBM (Blackberry Messenger) hingga sekarang.

Apalagi akhir-akhir ini kita disuguhi angka-angka menakjubkan sebagai negara ekonomi digital terbesar se Asia Tenggara dengan transaksi e-commerce mencapai 130 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 1.820 trilliun di 2025 nanti.

Peta digital Indonesia memang berkembang cukup pesat, negara berpenduduk lebih dari 260 juta, jumlah pengguna internet terus bertambah di atas 130 juta, mencapai 40 persen tingkat penetrasi media sosial, dan penjualan smartphone yang semakin naik grafiknya hingga mencapai 75 juta unit, naik rata-rata 10 juta unit per tahun. Pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik, digital literacy, dan meningkatnya populasi perkotaan (urbanisasi), Indonesia berpotensi menjadi sarang kreativitas digital dunia. Ditambah jumlah penduduk usia mudanya terbesar se-ASEAN.

Namun, meski salah satu yang paling atraktif dan pasar yang menguntungkan di Asia Tenggara untuk pemasar digital, digitalisasi sektor riil seperti Pertanian, Perikanan dan Pariwisata tampaknya masih belum di garap dengan baik, dan praktik pemasaran digital (digital marketing) juga masih jauh dibandingkan dengan apa yang dilakukan di negara China, UK, US, Singapore & India. Mari kita lihat dulu bagaimana negara-negara ini bisa maju ekonomi digital nya.

Cina adalah negara dengan PDB terbesar nomer 2 dunia setelah Amerika, namun ekonomi digitalnya mampu memberikan kontribusi tertinggi seluruh dunia, maka tidak heran kalau Cina saat ini bertengger di urutan teratas e-PDB nya. Inilah 10 Negara Terbesar Penyumbang e-PDB – PDB pada harga pasar, PDB per kapita pada harga pasar dan pangsa e-commerce dalam PDB, 2016.

Peran e-commerce dalam mendorong pertumbuhan PDB global terus meningkat dari tahun ke tahun. Setelah mencapai 1,34 persen di tahun 2011, e-GDP tumbuh dengan mantap selama beberapa tahun terakhir, menjadi 3,11 persen di tahun 2015 dan diperkirakan sudah mencapai 4 persen di tahun 2016. Diperkirakan e-GDP ini akan terus meningkat secara bertahap dalam pertumbuhan ekonomi sebuah negara dan suatu saat nanti akan menjadi indikator utama.

Berkenaan dengan negara-negara yang tercakup diatas, Inggris memiliki penetrasi Internet tertinggi dunia, 93 persen penduduknya memiliki akses ke Internet, diikuti oleh Jepang 91 persen dan Jerman 89 persen. Walaupun Asia-Pasifik adalah wilayah dengan penetrasi internet terendah, dengan hanya 27 persen dari 1,3 miliar penduduk yang terhubung ke internet, namun tercatat pertumbuhan e-PDB tertinggi sedunia sebesar 4.48 persen, dimana dengan hanya 51 persen penetrasi internet Cina (yang juga cukup rendah) mampu menempatkan Cina sebagai negara di peringkat pertama e-PDB dunia, dua kali lebih tinggi dari Amerika Serikat (3,32 persen).

Banyak orang Cina secara teratur mengunakan social media WeChat untuk membeli dan menjual produk, mempromosikan bisnis mereka dan informasi pasar saham.

“World is changing, People is shifting and Digital Economy will be the KING”

Potensi ekonomi digital yang besar ini, menuntut pemerintah Indonesia harus secepatnya menjadikan ekonomi digital sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional, yang di anggarkan dalam APBN, dibuatkan komite atau badan khusus yang menangani permasalahan digital dan mulai melakukan transformasi besar-besaran di semua sektor untuk menjadi negara berpenghasilan menengah pada tahun 2025.

Penguatan dan percepatan pembangunan ekonomi digital akan memainkan peran penting dalam mencapai potensi penuh Indonesia. Dengan lebih banyak IKM (Industri Kecil Menengah) yang bergerak di bidang ekonomi digital melalui media broadband, e-commerce, media sosial, komputasi awan, dan mobile platform, kita dapat memiliki pertumbuhan pendapatan yang lebih cepat, lebih inovatif dan lebih kompetitif di Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Berdasarkan pemodelan ekonomi dan penelitian Bank Dunia, kami menemukan bahwa tingkat penetrasi broadband dua kali lipat dan peningkatan keterlibatan digital oleh IKM dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahunan Indonesia sebesar 2 persen – tambahan pertumbuhan yang dibutuhkan untuk mencapai target 7 persen di tahun 2020.

IKM di Indonesia dikelola dengan baik agar mendapatkan keuntungan dari transformasi digital ini. Mereka harus mengunakan teknologi digital untuk mencapai tujuan yang didukung oleh kebijakan pemerintah – terutama melalui peningkatan akses permodalan dengan meningkatkan koordinasi program pemerintah yang ada, fasilitas pembayaran, akses terhadap investasi dan memfasilitasi akses terhadap perangkat digital murah meriah.

“Revolusi Digital Merevolusi Perekonomian Indonesia”

Bagaimana ini bisa menjadi kenyataan? Bisa dilihat total belanja online per e-shopper di negara-negara dengan e-PDB terbesar. Ternyata masyarakat Inggris yang paling banyak membelanjakan secara online dengan rata-rata 4,018 dolar AS untuk barang dan / atau layanan online, jauh lebih banyak daripada di Amerika Serikat (3,428 dolar AS), yang berada di peringkat kedua.

Indeks kinerja logistik pun ikut terdongkrak dengan munculnya bisnis digital, Indonesia menempati peringkat nomor 53 dunia dng tingkat kemudahan berbisnis di peringkat 109 dan satu lagi yg tidak pernah diukur adalah e-GDP, kita ada di rangking ke 57 secara global, dibawah negara India, Singapore, Malaysia dan Thailand.

Indonesia dengan penduduk usia produktif 15-65 tahun sudah ada sekitar 67,5 juta, yang hampir semua pengguna e-commerce, pembeli online (e-shopper) dan total penjualan online 2017 yang terus tumbuh mencapai angka Rp 79 triliun. Maka bisa disimpulkan bahwa per orang sudah mampu membelanjakan uangnya lewat daring sebesar Rp 1.170.000 per tahun atau Rp 97.500 per bulan.

eGDP atau ePDB adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu berdasarkan transaksi elektronik atau sering kita sebut e-commerce. Coba kita bandingkan peringkat PDB konventional dengan PDB digital setiap negara tahun 2016 dan bagaimana dengan Indonesia. Peringkat eGDP merupakan bagian dari perputaran e-commerce dalam PDB yang menunjukkan pengaruh e-commerce dari total ekonomi suatu negara.

Indonesia menempati urutan ke 16 PDB (nominal) – ke 8 untuk PDB (PPP) konvensional dan peringkat 57 untuk e-PDB nya. Negara kita mirip dengan negara Brasil dalam pertumbuhan ekonomi digitalnya, meski Brasil jauh lebih maju daripada kita. Mungkin akan sulit mengejar angka PDB konvensional Brasil, namun besar kemungkinan kita bisa mengejar PDB Digital mereka, mengingat pertumbuhan industri e-commerce kita yang sangat pesat ini sekitar 66 persen dari tahun 2015-2016 (di atas rata-rata negara APAC) bahkan di tahun 2025 nanti jumlah transaksi e-commerce bisa menembus angka 130 miliar dolar AS dan akan memberikan kontribusi lebih dari 7,3 persen terhadap PDB nasional, meningkat tajam dibanding periode tahun 2015 – 2020.

Inilah tonggak kebangkitan digital di Indonesia menuju digital nation, yang akan dimulai dengan proses transformasi digital pada periode tahun 2020 – 2025 dimana fondasi ekonomi konvensional kita sudah kuat dan mulai shifting ke ekonomi digital. Lihat apa yang terjadi di tahun 2025 nanti, penetrasi internet 95 persen, pertumbuhan ekonomi 10 persen dan ePDB kita mencapai angka 7.3 persen, yang diperkirakan menempati ranking ePDB 10 besar dunia. Dan sangat berharap Peringkat Digital Nation negara Indonesia juga ikut naik ke peringkat 5 besar dunia di tahun 2030.

Cina akan menjadi kekuatan Ekonomi terbesar dunia 2025, mengeser Amerika

Belanja konsumen China diperkirakan tumbuh pada tingkat rata-rata tahunan sebesar 7,7 persen per tahun secara riil selama dekade kedepan, menjadi kekuatan kunci dan pertumbuhan dunia. Pada 2025, China akan menyusul PDB (nominal) Amerika Serikat yang diperkirakan 28,25 triliun dolar AS menjadi 27,31 triliun dolar AS. Ekonomi China akan memainkan peran lebih besar sebagai pendorong utama arus perdagangan dan investasi global. Total belanja konsumen China tumbuh dari 3 triliun dolar AS menjadi 11 triliun dolar AS pada 2025 dengan tingkat bunga rata-rata tahunan 7,7 persen per tahun. Dan Cina akan menguasai 20 persen PDB dunia.

India menjadi ancaman serius kekuatan ekonomi dunia mencapai 5 trilliun dolar AS 2025

Populasi usia muda (millennia) di India adalah kekuatan yang sangat besar yang didorong oleh demografi dan dukungan kebijakan pemerintah. Saat ini, perekonomian India senilai 2,2 triliun dolar AS menjadikannya terbesar ketujuh di dunia dalam hal PDB nominal (dan yang terbesar ketiga PPP), namun pendapatan per kapita negara ini kurang signifikan. Dengan pendapatan per kapita sebesar 1.700 dolar AS, India berada di belakang beberapa pasar utama yang sedang berkembang, seperti Cina, Rusia, Brazil, Indonesia, Filipina, Meksiko, dan Turki.

Pada tahun keuangan 2025 nanti, diperkirakan pendapatan per kapita akan naik 125 persen menjadi 3.650 dolar AS, dengan populasi millinia 400 juta adalah yang terbesar di dunia, kemampuan daya beli meningkat sekitar 180 miliar dolar, adopsi smartphone yang tinggi, dan ketersediaan infrastruktur mobile broadband yang meluas, akan menjadi kekuatan yang dahsyat lebih cepat daripada yang diharapkan kebanyakan pelaku bisnis dunia.

Bagaimana Indonesia digital nation bisa terwujud di 2030?

Saat ini Indonesia berada di posisi 9 peringkat digital N\nation Asia Pacific, 3 paling bawah di atas Thailand dan Vietnam. Kekurangan bakat digital, sedikit produk digital dan kebijakan yang tidak jelas yang menempatkan Indonesia di posisi bawah indeks digital. Memang kebanyakan negara di dunia ini lebih fokus pada ekonomi digital daripada negara digital itu sendiri, dimana saat ini Indonesia memiliki 2 kebijakan: pertama mempromosikan bangsa digital lewat program Energy of Asia, kedua mewajibkan kedaulatan data. Untuk mencapai apa yang diharapkan pada tahun 2030 maka Indonesia harus beralih dari focus Ekonomi Digital menjadi lebih menekankan untuk transformasi menjadi bangsa digital.

Ekonomi digital hanya berfokus pada literasi digital dan bersikap pasif menunggu investasi langsung asing. Model perekonomian seperti ini memiliki program pada peningkatan infrastruktur broadband untuk memberikan akses, kemudahan connectivity dan peraturan pemerintah pada umumnya. Sebaliknya, bangsa digital memerlukan program untuk pengembangan sumber daya manusia dan upskiling. Model ini mencetak perusahaan pemula (digital start up), kolaborasi dengan perusahaan digital multinasional (seperti Google, Facebook, Alibaba dll) dan menggunakan pendekatan eksperimental seperti regulatory Sandbox.

Dengan kebijakan yang tidak konsistensi tentang tatakelola pajak perusahaan-perusahaan digital dan peraturan yang berlaku, Indonesia dianggap kurang menarik dibandingkan negara-negara lain bagi perusahaan digital multinasional berinvestasi. Hal ini tentu mempengaruhi laju percepatan menjadi Digital Nation meski kontribusi mereka tidak secara langsung. Namun mereka dapat membantu para pengusaha pemula (digital start up) dalam hal keuangan, ekosistem digital dan program pendidikan.

Kemudian apa yang harus dilakukan menuju Digital Nation?

Saat ini, jumlah startup di Indonesia mencapai 2.000 atau tertinggi di Asia Tenggara, dimana jumlah ini akan mencapai 6,5 kali lipat atau 13 ribu startup pada 2020.

Besarnya potensi startup ini juga didorong meningkatnya jumlah investor yang melihat Indonesia sebagai pasar digital. Beberapa e-commerce besar muncul yaitu Tokopedia, Bukalapak, Go-Jek, dan Doku. Startup fintech juga bermunculan untuk menyediakan layanan pemberian kredit seperti yang dilakukan perbankan ataupun platform untuk membeli produk keuangan. Beberapa fintech yaitu Modalku, Investree, Pendanaan, Bareksa. Menurut Bank Indonesia, saat ini terdapat lebih dari 600 perusahaan fintech lokal yang beroperasi di Indonesia.

Salah satu perusahaan startup yang berkembang di Indonesia dan menjadi fenomena tersendiri adalah Go-Jek. Go-Jek kini bukan sekedar aplikasi penyedia jasa transportasi saja, namun merambah ke bisnis logistik, pembayaran, layan antar makanan, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti penyedia jasa home cleaning, perawatan tubuh hingga otomotif. Layanan Go Jek sudah bisa dinikmati di 25 kota di Indonesia. Ia memberikan kemudahan bagi pengguna dan memberikan lapangan kerja bagi ratusan mitra Go Jek.

Go-Jek yang semula perusahaan rintisan kini menjelma menjadi perusahaan raksasa dengan valuasi mencapai US$ 1,3 miliar atau Rp 17,3 triliun. Artinya Go-Jek masuk dalam klub unicorn atau perusahaan dengan valuasi lebih dari 1 miliar dolar AS. Ini merupakan yang pertama dalam dunia startup Indonesia. Adapun Tokopedia baru saja mendapat guyuran dana dari Alibaba 1,1 miliar dolar AS atau Rp 14 trilliun menjadi unicorn kedua di Indonesia.

Fenomena ini bisa menjadi inspirasi lahirnya pengusaha-pengusaha startup baru. Apalagi era digital membuat peluang orang untuk menjual barang dan jasa semakin mudah. Kini setiap orang bisa membuka toko tanpa harus memiliki gerai secara fisik, namun cukup memasarkan melalui website, platform e-commerce atau sosial media. Besarnya gelombang digital membuat perusahaan konvensional berbenah. Kehadiran perusahaan startup fintech mendorong institusi keuangan tradisional untuk mengevaluasi kembali model bisnis inti mereka dan mulai memanfaatkan inovasi digital. Jika tidak, menjamurnya fintech menggerogoti lini bisnis perbankan.

Fintech memiliki kelebihan dibanding bank tradisional. Fintech memiliki teknologi dan inovasi untuk menjangkau nasabah yang tidak dapat mengakses system perbankan tradisional. Fintech juga lebih efisien karena mampu menekan biaya operasional sehingga bisa memberikan fasilitas pinjaman lebih murah. Fintech bisa melayani lebih personal dan menjangkau masyarakat di wilayah pelosok.

Pertumbuhan yang pesat terlihat dari nilai investasi yang ditanamkan modal ventura ke startup fintech. Tak kurang 13,8 miliar dolar AS sepanjang 2015 atau lebih dari dua kali penanaman modal selama 2014. Saat ini ada 12 fintench yang bernilai di atas 1 miliar dolar AS.

Terlepas dari persaingan yang muncul antara perbankan tradisional dan fintech, keduanya dapat bekerja sama berkolaborasi. Dengan berkolaborasi, perbankan dapat memanfaatkan teknologi fintech untuk menjangkau nasabah dan kawasan yang tak terakses tanpa harus membuka cabang fisik. Di sisi lain, fintech bisa mengakses pendanaan murah untuk meningkatkan aktivitasnya.

Pelaku ritel besar juga menyesuaikan diri untuk menghadapi serbuan startup e-commerce. Matahari, MAP, Alfa dan Indomaret mulai memasarkan produknya secara online. Jumlah e-commerce akan diperkirakan bertambah seiring besarnya potensi e-commerce di Indonesia. Penjualan online Indonesia mencapai 1,1 miliar dolar AS, melampaui Thailand dan Singapura. Namun, jika dibandingkan dengan total perdagangan retail, penjualan e-commerce di Indonesia hanya menyumbangkan 0,07 persen. Artinya, pasar e-commerce Indonesia berpeluang untuk tumbuh semakin besar.

Di samping membuka penjualan online, peritel tradisional juga perlu mengintegrasikan toko online dan toko fisik dengan menerapkan bisnis online to offline (O2O). Lewat strategi ini peritel memberikan layanan yang memungkinan konsumen memesan barang secara online melalui aplikasi dan melakukan pembayaran dan pengambilan barang di toko secara langsung.

Indonesia akan mendapatkan keuntungan dari revolusi digital. Untuk mempercepat kemajuan, sektor publik dan swasta harus fokus berinvestasi pada teknologi digital dengan peningkatan infrastruktur, penetrasi, dan mendorong produktivitas.

Apalagi dengan jumlah penduduk dan tingkat produk domestik bruto (PDB) terbesar di ASEAN. Potensi besar tersebut menjadi dasar penyusunan Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik. Peta jalan itu dimasukkan dalam Paket Kebijakan Ekonomi XIV yang menfokuskan pengembangan perusahaan startup dengan sasaran menyiapkan 1.000 startup pada 2020. Tentu saja, untuk mencapai target 1.000 technopreneur, pemerintah harus meluaskan penetrasi Internet yang selama ini hanya terfokus di Jawa, dari 132,7 juta pengguna internet, sebanyak 86,3 juta atau 65 persen berada di Jawa.

Buruknya infrastruktur logistik, khususnya di luar Jawa-Bali, membuat potensi ekonomi digital sulit memperluas pasar dan menjangkau wilayah terpencil di Indonesia. Karena itu, penjualan online selama ini bahkan lebih banyak terpusat di seputar kota Jakarta.

Konsep digitalisasi 56 juta UMKM yang selama ini menyumbang sekitar 55 persen PDB harus didesign untuk menumbuhkan ekonomi digital. Boleh kita contoh Tiongkok, yang pengguna e-commerce telah mencapai 30 persen dan menyumbang peningkatan PDB sebesar 22 persen.

Digital Nation adalah konsep dan desain bangsa baru yang mampu menumbuhkan ekonomi digital negara (e-PDB), menghasilkan keuntungan yang signifikan bagi pelaku usaha/ individu (e-Commerce), menciptakan usaha digital lebih banyak (UMKM Online & Start up Digital) dan mentransformasikan perusahaan besar menjadi perusahaan kelas dunia yang di didukung oleh regulasi yang transparan (e-Gov).

Sebuah Digital Nation lebih dari sekadar menetapkan dasar-dasar dasar Ekonomi Digital, seperti menyediakan akses internet secara umum (Internet Penetration) atau mengajarkan keterampilan komputer di sekolah-sekolah (TIK). Sebaliknya, sebuah Digital Nation berperan aktif dalam mendukung pertumbuhan startup digital lokal dan perusahaan digital yang lebih besar lagi. Dalam konteks ini, enabler dasar seperti penetrasi internet dan literacy TIK tetap menjadi keharusan bagi negara manapun di era digital sekarang yang menjadi pondasi dasar menuju Bangsa Digital.

******

*) Penulis adalah Ketua Umum Asosiasi Digital Entreprenuer Indonesia, aktif di KADIN Indonesia Komite Tetap Industri Kreatif, Presiden Digital Training Center, Lecturer Ekonomi Digital Bank Indonesia Institute dan Penulis Buku Indonesia Digital Nation.

Republika.co.id