Reuni tak Ada Akhir

0
12 views
Andi Nur Aminah. (Foto: Republika/Daan Yahya).

Rabu 04 Dec 2019 01:08 WIB
Red: Joko Sadewo

Ilustrasi. Saling Membidik. (Foto : John Doddy Hidayat).

“Reuni 212 bisa menjadi ajang silaturahim tahunan dan wisata umat Islam”

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Andi Nur Aminah*

Akun Facebook saya mengingatkan, di tanggal yang sama setahun lalu saya berada di Monas. Di penanggalan 2 Desember (212), saya berada di antara keramaian ribuan manusia di lapangan Monas.

Berangkat tengah malam dari rumah, saya bersama kedua anak memilih menginap di Masjid Istiqlal. Saat menjelang pergantian hari, masjid tersebut sudah sangat ramai. Kami memilih salah satu sudut selasar Istiqlal. Di situ, sejenak kami beristirahat, meluruskan badan dengan beralaskan sajadah.

Ilustrasi. Saling Bertolak Belakang Dengan Bidikannya Masing-Masing. (Foto : John Doddy Hidayat).

Sekitar dua jam sempat terlelap, kemudian terdengar suara membangunkan untuk Shalat Tahajud. Kami tak lagi beranjak dari tempat sujud itu hingga azan Subuh berkumandang. Selepas Subuh, saya masih bertahan duduk dalam masjid. Sampai kemudian anak saya mengingatkan bahwa kita harus ke Monas.

Ya, lapangan Monas adalah tujuan. Setelah bersih-bersih, kami ikut gelombang manusia menuju Monas. Saya merasakan sebuah ghirah. Itulah yang menggerakkan kami ke Reuni Alumi 212, setahun yang lalu.

Saya bukanlah alumni, karena kalau bicara makna kata alumni, saya tak pernah ikut aksi sebelumnya. Kehadiran saya di Monas dan terlibat langsung kala itu, membuat saya merasakan ghirah persaudaraan yang Masya Allah, tak bisa mengatakannya.

Ada desir di dada, rasanya seperti ada yang ingin meledak. Saya sadar mata saya basah saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Ada dwi warna berdampingan dengan panji warna-warni berlafaz kalimat tauhid melambai.

Saat Aksi 212 ini pertama kali digelar, saya berada di belakang laptop. Berita demi berita yang dilaporan kawan-kawan dari lapangan, mengalir memenuhi newsroom. Saya tak bisa lupa, ada beberapa yang saya kerjakan dengan mata basah.

Lalu ketika bisa hadir merasakah langsung ghirah itu, tak terkatakan bahagianya. Hadir sebagai pribadi, saya terharu melihat kedua anak saya tersenyum pada serombongan ibu-ibu. Ibu-ibu itu menyetop gerobak bakpao isi ayam, lalu meneriaki siapapun yang lewat. “Ayo sarapan dulu, ayo silakan ambil, gratis… gratis…” ujarnya. Anggukan kecil saya cukup menjawab pandangan ragu anak saya. “Ambillah nak, mereka ikhlas membagikan,” kata saya.

Saya mengingat dengan baik momen itu. Orang-orang berlomba jadi dermawan. Ada banyak makanan dan minuman. Sarapan tersedia di banyak titik. Suasana berdesakan, udara yang terasa gerah, tapi wajah-wajah mereka tetap tersenyum.

Saya melihat ada beberapa rombongan keluarga yang turun dari mobil bukan plat Jakarta. Wajah mereka terlihat gembira, ada yang bersimpuh sambil melantunkan zikir. Saya berulang kali mengerjap, kelopak mata saya terasa hangat. Luar biasa suasana itu. Bendera Tauhid berkibaran, melambai diiringi lantunan shalawat.

Semuanya ikhlas berada di sana. Jika tidak, ngapain coba datang dengan ongkos sendiri, berangkat dari sejak malam atau pagi buta lalu nyemplung di tengah lautan manusia. Saya ingat, bertemu dengan seorang bapak dari Bengkulu. Dia bersama lima kawannya, tiba di Jakarta dini hari dan langsung ke berbaur ke lapangan Monas.

Lalu ada lagi ibu dari Majelis Taklim di wilayah Bogor, bercerita, dia mendapat amanah saweran dari jamaahnya. Jumlah hampir Rp 5 juta! Uang itu kemudian dipakai untuk membeli ratusan kotak nasi padang. Dia mengaku tahun lalu, juga mengumpulkan kencleng dari tetangga dan majelis taklim. Uangnya kemudian dibelikan ratusan keping roti manis dan air mineral.

Senin, 2 Desember kemarin, pemandangan hampir serupa terulang kembali. Saya tiba-tiba terpikir, jika Reuni 212 menjadi agenda tahunan ribuan umat Muslim, kenapa tidak ini dijadikan agenda pariwisata saja? Biar dunia tahu bahwa di Indonesia ada pertemuan regular Muslim se-Indonesia yang melibatkan ribuan orang. Mereka rela datang ke Jakarta dengan modal sendiri.

Banyak pedagang kaki lima yang panen berlimpah rezeki. Hotel-hotel berbintang di sekitar Monas di-booking jauh-jauh hari. Pembelian tiket pesawat meningkat. Bus-bus dari berbagai daerah jadi rebutan. Ada jutaan paket makanan dari kelas kaki lima hingga waralaba dipesan. Semua itu jadi penggerak ekonomi bukan? Hebatnya, jika ditanya dari mana uangnya? Jawabannya, uang itu bisa dari dermawan mana saja.

Jika selalu damai, aman, tentram, seperti yang sudah terselenggara selama ini, Reuni 212 bisa menjadikan Indonesia negara pelopor kampanye cinta damai antarumat. Dengan begitu, Reuni ini akan menjadi agenda yang dirindukan dan dinanti.

Berbaurnya manusia dari berbagai golongan, tanpa melihat pangkat dan jabatan terjadi di Reuni 212. Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah salah satu yang ikut meramaikan Reuni 212. Jauh-jauh dari Padang, Mahyeldi mengaku sangat menikmati kebersamaan berkumpul dengan umat Islam yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Ia berharap Reuni 212 tetap terlaksana setiap tahunnya karena memiliki banyak manfaat dan positif bagi umat Islam. “Semoga reuni 212 tetap terlaksana setiap tahunnya,” kata Mahyaldi.

Mahyeldi mengatakan Aksi 212 dan Reuni 212, telah mampu meningkatkan silaturrahim sesama umat Islam di Indonesia. Di mata Mahyeldi, Reuni 212 juga menjadi motivasi dan penyemangat bagi umat Islam dalam menjalankan perintah agama. Perintah agama untuk menjaga kebersihan pun tak dilewatkan. Mungkin ini poin remeh. Tapi begitulah, massa Reuni 212, telah memperlihatkan aksi simpatik dengan membubarkan diri dari Monas sambil memunguti sampah yang tersisa.

Reuni di tahun ini tetap menjaga tradisi positif yang patut diberi jempol. Aman, tertib, bersih. Sampai bertemu di Reuni 212 di 2020 mendatang.

*) penulis adalah jurnalis republika.co.id

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here