Rekayasa Sastra

0
1 views

Kamis, 09 Januari 2014 | 03:18 WIB

-Firman Venayaksa, Kandidat doktor dari Unpad

Jakarta, garut News ( Kamis, 09/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Perpustakaan SMPN 1 Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Perpustakaan SMPN 1 Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).

Perhelatan sastra Indonesia kembali menghangat.

Pada 3 Januari 2013, di PDS H.B. Jassin Jakarta, Tim 8 yang terdiri atas Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Berthold Damshauser, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, Nenden Lilis, dan Ahmad Gaus mengeluarkan sebuah buku berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Tidak mudah memang untuk memeras ribuan sastrawan dari rentang waktu yang begitu panjang (1900-2013) kemudian menjadi 33 tokoh saja.

Alih-alih mendapat puja-puji atas kerja keras tersebut, kehadiran buku ini tampaknya akan jadi polemik panjang.

Setidaknya hal tersebut mulai semarak di media sosial.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar pun muncul, misalnya, mengenai standardisasi yang dipakai oleh Tim 8.

Pelbagai respons sekaitan dengan buku ini agaknya tak bisa dipandang sebelah mata, apalagi dari para sastrawan yang cukup berpengaruh.

Goenawan Mohamad, yang namanya masuk ke dalam buku ini, dengan tegas menyatakan di dalam situs pribadinya agar namanya tidak dihadirkan di dalam buku tersebut.

Ia merasa tidak layak karena bukan lagi orang berpengaruh.

Respons lain yang lebih keras muncul dari Saut Situmorang yang menyatakan bahwa buku ini adalah sampah.

“Semua buku yang berisi dusta sejarah atau yang bertujuan memanipulasi sejarah harus dibakar dan dilarang,” kata dia.

Di dalam pengantar buku, Tim 8 merumuskan empat kriteria bagi tokoh sastra untuk diperas menjadi 33 tokoh berpengaruh, yaitu pengaruhnya berskala nasional; pengaruhnya relatif berkesinambungan; dia menempati posisi kunci, penting, dan menentukan; serta dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang.

Kriteria tersebut dibuat seakan-akan cukup ketat, namun empat kriteria tersebut sebetulnya hanya pilihan.

Simaklah pernyataan berikut, “tokoh sastra dinilai layak masuk dalam 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh apabila sekurang-kurangnya memenuhi satu dari empat kriteria berikut…” Dengan bahasa semacam ini, Tim 8 sudah melakukan kesalahan fatal dengan melonggarkan kembali empat kriteria yang dibuatnya sendiri.

Artinya, jika seorang tokoh hanya masuk satu kriteria dan tidak masuk di kriteria yang lain, ia tetap bisa diloloskan untuk menjadi tokoh sastra berpengaruh.

Polemik tersebut muncul ketika Denny J.A., yang lebih dulu dikenal sebagai konsultan politik, masuk ke dalam 33 sastrawan berpengaruh bersama Pramoedya Ananta Toer, Rendra, Hamka, Taufiq Ismail, dan Goenawan Mohamad.

Sehebat apa sebetulnya sepak terjang Denny J.A. di dunia kesusastraan sehingga Tim 8 bisa mengesampingkan sastrawan besar lainnya, seperti Sitor Situmorang, Utuy Tatang Sontani, A.A Navis, dan Seno Gumira Ajidarma?

Sedangkan Denny J.A. yang baru menerbitkan satu buku pada 2012, tiba-tiba saja namanya dianggap tokoh sastra dan berpengaruh?

Di dalam kata pengantar, dituliskan dengan jelas oleh Tim 8 bahwa ada beberapa nama yang mengesankan dari segi karya, namun pengaruh dan dampaknya relatif terbatas secara sosial dan budaya.

Sebaliknya, beberapa tokoh lain tidak mengesankan dari segi karya, bahkan sama sekali bukan sastrawan, namun dilihat dari lingkup pengaruhnya di bidang sastra, mereka menempati posisi penting.

Jika kalimat tersebut ditujukan untuk Denny J.A., yang mengatakan bahwa tidak mengesankan dari segi karya, sebetulnya itu merupakan pernyataan jujur yang harus didukung siapa pun.

Hal yang dipertanyakan kejujurannya justru pada kalimat yang kedua.

Benarkah ia tokoh sastra yang berpengaruh?

Saya kira itu pernyataan gegabah dan masih perlu diuji waktu mengingat kehadirannya yang baru satu tahun menapaki dunia sastra.

Menurut saya, kehadiran Denny J.A. yang mengusung alternatif penulisan baru, yang diistilahkannya sebagai puisi esai, sebaiknya dilihat dalam rekayasa sosial di bidang sastra yang dilakukannya secara terus-menerus selama satu tahun.

Rekayasa sosial (social engineering) dilakukan dengan penuh kesadaran, memakai teknik dan metode tertentu serta menentukan desain akhir dan perubahan yang hendak dilakukan.

Itulah hal mengesankan darinya dan menarik untuk kita pelajari.

Ketika buku puisinya diluncurkan, saya tak yakin buku itu dibeli khalayak.

Dia lalu membuat web puisi-esai.com, mengadakan lomba-lomba tertentu, seperti lomba menulis resensi bagi pelajar yang bukunya dibagi secara gratis ke sekolah-sekolah.

Dia juga menggelar diskusi buku di pelbagai tempat.

Tulisan-tulisan dari diskusi tersebut diarsipkan dengan serius seperti yang bisa kita baca di Jurnal Sajak edisi Januari 2013, sehingga seakan-akan penuh dengan perdebatan.

Untuk lebih menguatkan bahwa buku ini seakan-akan memiliki legitimasi, diundanglah para sastrawan besar untuk ikut membaca puisi Denny J.A. dalam bentuk videografi.

Lantas, apakah pembuatan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh adalah desain selanjutnya dari rekayasa sosial ini, yang secara kebetulan dihadirkan satu hari menjelang ulang tahun Denny J.A.?

Tidak pernah ada kata kebetulan dalam konstruksi rekayasa sosial.

***** Kolom/artikel Tempo.co