Rejeki Amil Saleh

0
109 views
Nana Sudiana. (dok. Humas PKPU).

Selasa , 25 April 2017, 12:06 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nana Sudiana *)

Nana Sudiana. (dok. Humas PKPU).
Nana Sudiana. (dok. Humas PKPU).

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” ( QS ath-Thalaq (65): 2-3).

Rezeki adalah urusan Allah. Manusia sesungguhnya hanyalah berusaha sesuai kemampuannya untuk meraihnya. Kata “rezeki” sendiri bila kita lacak artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti “pendapatan” dalam versi yang luas. Bisa juga bermakna “kesempatan, raihan, keuntungan, anugerah, dan sebagainya”.

Rezeki tak hanya identik dengan harta dan uang. Rezeki atau “ar-rizqu” menurut al-Manzhur rahimahullah dalam kitabnya Lisan al ‘Arab adalah sebuah kata yang sudah dimengerti maknanya, dan terdiri dari dua macam. Pertama, yang bersifat zhahirah (tampak terlihat), semisal bahan makanan pokok. Kedua, yang bersifat batinah bagi hati dan jiwa, berbentuk pengetahuan dan ilmu-ilmu.

Dari gambaran yang disampaikan Ibnu al Manzhur tadi, maka kita dapat mengetahui bahwa hakikat rizki tidak hanya berwujud harta atau materi saja, seperti asumsi kebanyakan orang, namun ia bersifat lebih luas dari itu. Semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati seorang hamba terhitung sebagai rejeki. Hal-hal yang dialami dan dirasakan seperti misalnya hilangnya kepenatan pikiran, selamat dari kecelakaan lalu-lintas, atau bebas dari terjangkiti penyakit berat, semua ini merupakan contoh kongkret dari rezeki.

Rezeki tadi, memang tidak terlihat jumlahnya, namun pasti dirasakan dampaknya. Coba saja bayangkan apabila kejadian terkena musibah atau terkena penyakit berat itu Allah berikan kepada kita, bisa jadi kita akan mengalami kesulitan. Bukan hanya akan berakibat pada sakit atau derita yang akan dialami, tapi bisa juga akan berdampak pada berkurang atau hilangnya pundi-pundi uang untuk mengurus hal tadi. Dalam sejumlah kejadian, bukan tak mungkin akibat sakit berat yang diderita tabungan dan kepemilikan harta seseorang malah akhirnya habis karena digunakan untuk mendapatkan kesembuhan.

Menurut sebuah hadis, rezeki juga bermakna, “Segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan untukmu, entah berupa pakaian, makanan, sampai pada istri. Itu semua termasuk rezeki. Begitu pula anak laki-laki atau anak perempuan termasuk rezeki. Termasuk pula dalam hal ini adalah kesehatan, pendengaran dan penglihatan. Dan Sedekah adalah cara yang baik untuk mensyukurinya. Sesungguhnya tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, kecuali bertambah dan bertambah.” (HR Tirmidzi).

Rezeki amil

Salah satu definisi amil dijelaskan oleh Imam Syafi’i. Ia mendefinisikan amil sebagai orang yang bekerja mengurusi zakat, sedang dia tidak mendapat upah selain dari zakat tersebut. Menurut mazhab ini amil sebagai berikut : “Amil zakat yaitu orang-orang yang dipekerjakan oleh Imam (pemerintah) untuk mengurus zakat. Mereka adalah para karyawan yang bertugas mengumpulkan zakat, menulis (mendatanya) dan memberikan kepada yang berhak menerimanya”.

Dalam hal kenapa amil dimasukkan sebagai Asnaf menunjukkan bahwa Zakat dalam Islam bukanlah suatu tugas yang hanya diberikan kepada seseorang (individual), tapi merupakan tugas jamaah (bahkan menjadi tugas negara). Menurut Imam Syafi’i, seharusnya dalam mengelola zakat, negara punya anggaran khusus yang dikeluarkan untuk gaji para pelaksananya.

Dalam praktiknya, ternyata tak semua amil mendapat upah. Yang mendapatkan upahpun tak semua memadai jumlahnya. Hal ini tentu belum ideal, karena sejatinya sejumlah organisasi pengelola zakat (OPZ) berharap bisa memberikan gaji sesuai standar dan kelayakan untuk hidup para amilnya. Walaupun sejumlah amil belum memperoleh gaji yang memadai, mereka tak kalah semangat. Mereka tetap berdedikasi tinggi dalam melayani muzaki dan mustahik.

Dibalik belum idealnya pendapatan amil, ternyata hal ini tak mengurangi semangat mereka dalam bekerja. Para amil juga menyadari bahwa sebagai amil tentu rezeki mereka bukan hanya dari OPZ. Rezeki yang pada hakikatnya dari Allah mereka terima sebagiannya melalui OPZ tempat mereka bekerja. Ada rezeki lain juga yang mereka yakini yang akan mereka dapatkan dari Allah. Rezeki dalam makna yang luas tadi, juga dalam makna pendapatan atau sejumlah nilai rupiah juga.

Rezeki dalam makna yang luas bagi para amil bisa saja Allah anugerahkan dalam bentuk sesuatu yang halal yang tetap bermanfaat misalnya pakaian, makanan, sampai pada pasangan hidup yang shalih/shalihah serta anak-anak yang sehat, cerdas dan salih/salihah. Itu semua sesungguhnya rezeki yang tak ternilai harganya. Coba saja mana ada di dunia ini yang tak bahagia begitu dirinya serta keluarganya Allah limpahkan kesehatan, pendengaran dan penglihatan yang baik.

Rezeki lain sebagai amil adalah diberikan kesempatan oleh Allah untuk memiliki spirit berbagi. Sebagai amil tentu tak hanya pandai meminta orang lain bersedekah atau berzakat. Ia juga harus memastikan semangat sedekah dan zakatnya tak kalah dengan para muzaki. Kenapa soal sedekah ini penting, tak lain karena sebagai amil ia dengan sepenuh hati meyakini bahwa Allah pasti akan membalas setiap sedekah/kebaikan yang dilakukan hamba-hambanya dalam keadaan lapang maupun sempit.

Sedekah bisa jadi juga jalan untuk mengetuk pintu langit dan meminta Pemilik langit dan bumi untuk memberikan kemudahan dalam menempuh hidup dan mengabulkan setiap do’a dan keinginan yang dimiliki. Sedekah dan zakat juga sarana pembuktian bahwa untuk berbagi sekaligus taat pada ajaran Allah itu tak perlu menunggu kaya dan berkecukupan. Dengan rezeki yang ada, walau mungkin jumlahnya tak banyak ini akan menjadi bukti seberapa cinta ia pada Rabbnya.

Rezeki amil sholeh. Barangkali ini yang harus diyakini, sehingga ketika bekerja sebagai amil, dengan upah berapapun ia harus tetap menerima dengan ikhlas dan terus berhusnuzan pada Allah SWT. Jangan pernah merasa terpaksa melayani muzaki atau mustahik, karena dari mereka juga kita dapat belajar terus untuk semakin ikhlas dan mampu berbuat baik. Karena melayani mereka semua dengan baik selain akan mendapatkan kepercayaan pada OPZ kita, juga tentu saja akan mendatangkan pahala kebaikan bagi kita sebagai individu amil.

Saat bertugas dan melayani muzaki atau mustahik, kita harus pastikan hal ini harus yang terbaik yang bisa kita lakukan walau kadang karena sesuatu hal mungkin ada perasaan terpaksa atau kurang ikhlas. Setiap saat kita juga harus terus belajar memperbaiki diri dan terus mendidik hati untuk bisa ikhlas. Karena saat berbuat baik, ini adalah kesempatan untuk mendapatkan pahala-Nya juga kesempatan diberikan rezeki-rezeki lainnya oleh Allah Yang Maha Kaya.
Dengan terus berbuat baik, kesempatan untuk berbuat dosa dan kesalahan tentunya menjadi semakin kecil peluangnya. Dan dengan terbukanya peluang berbuat baik ini, cita-cita sebagai seorang Muslim yang baik, yang ingin hidup dan matinya dalam keadaan baik mudah-mudahan tercapai. Seorang muslim senantiasa menginginkan terus ada dalam kebaikan, baik ketika ia hidup mapun ketika kematin menjemputnya. Dan saat maut ini menjemput, seorang Muslim juga tentunya ingin matinya berada pada 3 keadaan, yakni akan berbuat baik, sedang berbuat baik, atau setelah berbuat baik.

Sedekah bagi amil ada banyak ragamnya, termasuk dalam sedekah ini adalah shalat Dhuha. Maka sebelum seorang amil bekerja, hendaknya ia bersedekah dahulu dengan shalat dhuha. Karena kita tahu semua, faedah shalat dhuha luar bisa. Shalat Dhuha merupakan bagian dari sedekah. Setelah shalat dhuha, hendaklah ia juga bersedekah pagi sebelum aktivitas di kantor. Sediakan saja oleh OPZ sebuah kotak infak atau sejenisnya untuk menampung infak-infak para amil atau karyawan OPZ untuk mereka berlatih sedekah. Bisa jadi jumlahnya tak seberapa, namun balasan Allah bisa jadi akan berkali-lipat dari yang disedekahkan.

Jangan pernah takut untuk bersedekah karena tidak ada orang jatuh miskin karena ia rajin sedekah. Sedekah ini juga salah satu amalan harian yang dicintai Allah. Bila seluruh amil sebuah OPZ terus menerus rutin bersedekah, insya Allah diberikan balasan oleh Allah dengan dari sumber yang tidak diduga. Bisa saja kemudian OPZ-nya bisa menjadi yang terbaik. Bisa juga menjadi OPZ yang mampu menghimpun dana memadai sehingga mustahik semakin banyak terbantu.

Atau bisa pula Allah SWT mengarunikan kebaikan-kebaikan lain yang bahkan tidak pernah terduga sebelumnya. Bisa jadi dalam bentuk kemudahan hidup, kelancaran seiolah bagi anak-anaknya, kemudahan memiliki rumah atau kendaraan. Atau Allah bisa juga anugerahkan rezeki dalam bentuk kemudahan umrah atau haji atau kebaikan-kebaikan lainnya saat amil-amil ini hidup di dunia hingga yaumul hisab kelak di akhirat.

Jadi, sahabat amil sekalian…
Mari kita berusaha terus jadi amil sholeh yang dicintai Allah agar Allah berikan rezeki yang melimpah dan berkah. Percayalah menjadi amil sholeh tidak akan rugi. Karena semua kebaikan pasti akan Allah balas. Janji Allah itu pasti.

Mari kita hanya berharap dan bergantung kepada Allah. Alam semesta dan seluruh isinya milik Allah SWT, tidak sulit bagi Allah untuk mengabulkan secuil keinginan kita. Jika Allah berkehendak, maka terjadilah. Asalkan kita senantiasa memohon kepada Allah dan berusaha. Semuanya mudah sekali bagi Allah. Sungguh menjadi amil saleh lalu bersetia dan terus istiqomah mengamalkan sedekah dan shalat dhuha dalam kehidupan sehari-hari itu akan manis sekali buahnya.

Yang tak kalah pentingnya, menjadi amil sholeh juga bisa berkesempatan mendapatkan berkah dari Allah SWT. Berkah (atau barakah) ini penting bagi seorang mukmin, termasuk amil didalamnya. Berkah yang berasal dari kata al buruk maksudnya ialah ats tsubut atau menetap. Az Zajjaj mengartikan berkah, sebagaimana dikutip oleh al Qurthubi dalam tafsirnya, dengan limpahan pada setiap hal yang mengandung kebaikan. Kata itu pun dimaksudkan pula kepada makna pertambahan dengan tetap terpeliharanya zat aslinya.

Dalam pengertian berkah ini, perlu dingat, bahwa berkah ini tidak melulu identik dengan limpahan materi yang dimiliki, tetapi juga menyertai harta yang sedikit. Hal ini tercermin pada diri amil yang merasa berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan keluaganya. Bisa jadi makna cukup tadi secara matematika jumlah income masih lebih sedikit dengan angka kebutuhan sebenarnya.

Terkait berkah ini, ada sebuah hadis dari Hakim bin Hizam radhiyallahu‘anhu di bawah ini, Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini begitu hijau lagi manis. Maka barangsiapa yang mengambilnya dengan kesederhanaan jiwa, niscaya akan diberkahi. Dan barang siapa mengambilnya dengan kemuliaan jiwa, niscaya tidak diberkahi; layaknya orang yang makan, namun tidak pernah merasa kenyang”.

Berkah juga tak berarti harus banyak, karena dalam harta yang penuh keberkahan bisa jadi akan lahir anak-anak yang saleh/salehah, mereka berjiwa suci lagi berkepribadian luhur. Ini dikarenakan mereka cukup memadai makanannya dan halal. Berkah yang diterima juga membawa kita semakin dekat dengan Sang Pencipta, Allah Aza Wa Jalla.

Berkah ini yang akan juga menuntun kita pada terciptanya rasa syukur. Rasa syukur yang dalam atas seluruh kenikmatan yang didapatkan dari Allah SWT. Rasa syukur ini sendiri muncul sebagai rasa terima kasih serta pujian kepada Allah Azza Wa Jalla atas nikmat itu. Rasa syukur ini pula merupakan salah satu jalan untuk terus mendapatkan limpahan berkah dan tambahan kebaikan atas harta dan segala yang saat ini sudah dimiliki.

Ibnul Qayyim berkata, “Allah menjadikan sikap bersyukur sebagai salah satu sebab bertambahnya rizki, pemeliharaan dan penjagaan atas nikmatNya (pada orang yang bersyukur). (Demikian ini merupakan) Tangga bagi orang bersyukur menuju Dzat yang disyukuri. Bahkan hal itu menempatkannya menjadi yang disyukuri”.

Sahabat amil yang dirahmati Allah…
Semoga kita semua terus bisa istiqomah untuk menjadi amil yang saleh. Menjadi bagian penyambung kebaikan untuk mustahik dan muzaki serta kita sebagai amilnya. Semoga laksana cahaya, kebaikan ini akan terus meluas dan menyinari bumi, sehingga menyelamatkan para fakir miskin dan orang-orang dhuafa dari kegelapan akibat kesulitan dan himpitan masalah dalam kehidupan. Semoga pula menjadi amil saleh akan menjadi sarana kita diberikan rezeki yang baik dan berkah dari Allah Yang Maha Kaya. Insya Allah.

Ditulis dalam perjalanan Yogyakarta-Jakarta, 25 April 2017

*) Direktur Pendayagunaan IZI

*********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here