Refleksi 2020 Garut Darurat Laki Seks Laki

0
29 views
Komplek Kantor Bupati Garut.
Ikon Garut.

“Terancam Menjadi Kota Homo Seksual”

Garutnews ( Senin, 11/01 – 2021 ).

Merefleksikan 2020 Kabupaten Garut, selain capaian IPM-nya hanya 66,12 atau anjlok 0,10 poin dibandingkan IPM-2019 (66,22), anggaran gagal terserap Rp376,367 miliar lebih, 13.257 pencari kerja gagal peroleh pekerjaan, juga berkondisi ‘darurat laki seks laki/LSL’.

Fenomena mencemaskan sejak dua tahun terakhir hingga di penghujung Desember 2020, dari sekitar 870 warga kabupaten ini terinfeksi HIV/AIDS. kuat diperkirakan faktor resiko mendominasinya berupa kepungan orientasi ‘Laki Seks Laki’ (LSL).

Lantaran hingga akhir Juni maupun pertengahan 2020 lalu pun, dari 325 terinfeksi HIV dan 435 AIDS. Faktor paling mendominasinya akibat ‘Laki Seks Laki’ (LSL) mencapai 213 kasus  terdiri 80 AIDS, dan 133 HIV.

Disusul dua faktor dominan lainnya masing-masing 188 IDU’s/Penasun maupun jarum suntik narkoba meliputi 135 terinfeksi AIDS dan 53 HIV, serta 165 pasangan Resti perempuan (97 AIDS, dan 68 HIV).

“Orientasi LSL cenderung menjadi gaya hidup, penyebabnya antara lain jauh dari nilai luhur agama, pola asuh keluarga, dan juga pengaruh lingkungan,” ungkap sumber resmi garutnews, Senin (11/01-2021).

Sehingga Garut kini semakin terancam bisa menjadi kota homo seksual jika ragam kegiatan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS tak membuahkan hasil maksimal terhadap kelompok LSL, termasuk pada kelompok penasun/IDU’s.

“Fenomena 2019”

Fenomena tahun sebelumnya pun, dari 709 penduduk Kabupaten Garut terinfeksi HIV/AIDS hingga akhir Desember 2019, terdapat 180 di antaranya juga berfaktor resiko LSL. Mereka 66 terinsfeksi AIDS, dan 114 HIV.

Banyaknya terinsfeksi jenis penyakit berfaktor resiko tersebut, menduduki peringkat kedua setelah 188 terinsfeksi HIV/AIDS berfaktor resiko  penasun/ IDU’s.

“Dari 188 berfaktor resiko  penasun/ IDU’s ini yakni 135 terinfeksi AIDS serta 53 HIV” 

Sedangkan sebarannya pada 38 wilayah kecamatan, paling banyak 219 di Kecamatan Garut Kota meliputi 144 AIDS dan 75 HIV, disusul 101 Tarogong Kidul terdiri 66 AIDS dan 35 HIV, kemudian sebaran 51 peringkat ketiga Kecamatan Tarogong Kaler masing-masing 30 AIDS dan 21 HIV.

Disusul 23 faktor resiko waria (15 AIDS dan 8 HIV), dua WPS (Wanita Pekerja Seks) terinfeksi AIDS, 104 HRM/Pria Resti (65 AIDS dan 39 HIV), pasangan Resti 157 perempuan (95 AIDS dan 62 HIV), pasangan Resti 34 laki-laki (18 AIDS dan 16 HIV), 16 perinatal/anak (11 AIDS dan 5 HIV), serta tak teridentifikasi lima terinsfeksi AIDS.

Dari 709 penduduk terinsfeksi penyakit itu, terdiri 297 HIV, 412 AIDS, dan 181 meninggal. Yang sudah terafi ARV 427, estimasi ODHA Kemenkes 2015 ada 978.

Sebanyak 709 masing-masing 473 laki-laki (268 AIDS dan 205 HIV), serta 236 perempuan (144 AIDS dan 92 HIV).

Pada 709 meliputi kelompok usia kurang satu tahun ada tiga kasus (1 AIDS dan 2 HIV), 1-5 tahun (16 kasus/11 AIDS dan 4 HIV), 6-9 tahun (5 kasus/4 AIDS dan 1 HIV), 10-24 tahun (57 kasus/27 AIDS dan 30 HIV), 25-39 tahun (538 kasus/310 AIDS dan 228 HIV), 40-49 tahun (76 kasus/50 AIDS dan 26 HIV).

Kemudian kelompok usia 50-59 tahun (9 kasus/4 AIDS dan 5 HIV), serta kelompok usia yang tak diketahui ada lima kasus AIDS.

“Kegiatan Pencegahan”

Ragam kegiatan pencegahan selama ini gencar diselenggarakan, termasuk kegiatan pencegahan HIV pada kelompok LSL.

Meliputi penjangkauan, peer educator, edutainment event, pertemuan formal, konselor sebaya, community based center, advokasi berbasis venue, dan pelatihan sensitisasi MSM, dan TG.

Selain itu, dilaksanakan pula virtual outreach, focus group discussion, cyber compaign, community based screening: implementation research dan pelaksanaan CBS, training, serta monitoring dan evaluasi.

Kegiatan pencegahan juga diselenggarakan pada kelompok-kelompok berfaktor resiko lainnya.

******

Esay/Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here