Rebo atawa Kemis Nyunda, Tetapi Buta Huruf “aksara” Sunda

0
252 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 10/02 – 2016 ).

Ilustrasi. Nyunda, Nyantri, Nyakola.
Ilustrasi. Nyunda, Nyantri, Nyakola.

Pembiasaan terhadap budaya Sunda di Kabupaten Garut, Jawa Barat, khususnya di lingkungan Pemkab setempat “saban” Rabu setiap pekannya, atawa dikenal dengan sebutan “Rebo Nyunda” berlangsung sejak sekitar dua tahun terakhir.

Ternyata kini terpaksa dialihkan ke Kamis, menjadi “Kemis Nyunda” (aya-aya wae…. ieu mah…bro../red).

Dalam pada itu Budayawan Deddy Effendie, selama ini dikenal pelukis pertama lukisan terkecil di dunia juga novelis menyatakan,hingga hari ini Bangsa Indonesia masih buta huruf “aksara” miliknya sendiri. Termasuk kita buta huruf aksara “Sunda”

Lantaran disadari atawa tidak, pada 1930 an kita masih menggunakan aksara latin seharusnya aksara Arab Pegon. Sehingga hanya melek huruf aksara latin, sedangkan Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu Riau.

 

Berdasar “Surat Edaran” (SE) Bupati Nomor 025/299/Org, tertanggal 9 Februari 2016 tentang Penggunaan Pakaian Dinas PNS di Lingkungan Pemkab, lantaran terdapat instruksi Pemerintah Pusat terkait penggunaan “Pakaian Dinas Harian” (PDH) PNS, berupa kemeja putih (dengan bawahan hitam) pada setiap Rabu.

Berkebaya.
Berkebaya.

Sehingga, pada hari pertama kebijakan tersebut direalisasikan, Rabu (10/2/16), tak sedikit pegawai di lingkungan Pemkab tak sempat mendapat informasi, mereka masih mengenakan pakaian adat Sunda berupa “pangsi hitam” (laki-laki), serta “kebaya” (perempuan).

Apalagi pada kalangan guru di lingkungan Dinas Pendidikan. Mereka kebingungan melihat banyak rekannya sesama PNS mengenakan PDH kemeja putih. Sebab sepengetahuan mereka, PDH kemeja putih itu dikenakan setiap Kamis.

Penggunaan PDH kemeja putih pada Kamis pun, menjadi menggeser penggunaan pakaian khas daerah batik lokal Garutan. Sebelumnya, pakaian batik di kalangan pegawai Pemkab dikenakan setiap Kamis, namun kemudian dialihkan menjadi setiap Jum’at. Itu pun mulai siang hingga sore. Karena pagi harinya, mengenakan pakaian olahraga.

Tak hanya itu, banyak PNS terutama kalangan guru bertambah bingung pula, dengan keharusan menggunakan PDH warna khaki setiap Senin, dan Selasa. Padahal mereka sejak lama tak lagi menggunakan PDH itu, melainkan sebatas pegawai di lingkungan Pemkab Garut non guru. Maka terpaksa merogoh kocek pribadi membeli PDH warna khaki.

“Memang membingungkan pemerintah ini. Maunya apa? Istri saya berangkat mengajar ke sekolah masih pakai kebaya. Anak-anak juga. Yang repot, kudu beli lagi seragam warna khaki. Guru-guru kan sejak lama enggak pakai seragam warna ini. Kebanyakan dimiliki sebelumnya juga diberikan pada orang lain membutuhkan,” ungkap Ajat (58), warga Samarang.

Ilustrasi. Bisa Jadi Peragawan.
Ilustrasi. Bisa Jadi Peragawan.

Staf Ahli Bupati Garut Bidang Politik dan Hukum Suherman katakan, tak ada masalah dengan berubahnya hari berbudaya Sunda atau Rebo Nyunda menjadi Kemis Nyunda.

“Tak masalah! Bukan berarti hari nyundanya enggak ada. Hanya waktunya bergeser menjadi Kemis Nyunda. Bukan hanya pegawai di lingkungan Pemda, tetapi guru-guru dan anak-anak sekolah juga menyesuaikan,” katanya.

Pada SE Bupati disebutkan, seluruh pegawai di lingkungan Pemkab mulai 9 Februari 2016, sambil menunggu perubahan Perbup Nomor 110 tentang Pakaian Dinas Senin, dan Selasa PDH warna khaki.

Rabu PDH kemeja putih, Kamis PDH baju khas Sunda, dan Jum’at pakaian olahraga mulai pukul 07.30 WIB hingga 11.30 WIB, dilanjutkan pakaian batik khas Garutan pukul 11.30 WIB hingga 16.30 WIB.

Sedangkan Pakaian Linmas digunakan saat hari Linmas dan/atau sesuai ketentuan acara. Begitu pun seragam KORPRI digunakan pada saat hari KORPRI dan/atau sesuai ketentuan acara. Dengan catatan, “Pakaian Sipil Lapangan” (PSL), dan “Pakaian Sipil Resmi” (PSR) digunakan sesuai ketentuan acara.

Ilustrasi. Kinclong.
Ilustrasi. Kinclong.

Pantauan lapangan menunjukan, Rebo Nyunda sebelumnya merupakan satu tema kampanye tematik paling menonjol di antara program kampanye tematik harian digaungkan Bupati Garut Rudy Gunawan sebagai gebrakan awal pemerintahannya terkait jargon perubahan diusungnya sejak dua tahun lalu.

Sedangkan program lainnya yakni Senin dikampanyekan sebagai Hari Disiplin, Selasa Hari Anti Merokok, Kamis Hari Berbagi, Jum’at Hari Kebersihan, Sabtu Hari Menanam, dan Ahad Hari Berwisata Lokal, kini nyaris menghilang nyaris menyerupai ditelan bumi.

Pada Selasa, dikampanyekan sebagai Hari Anti Rokok, para pegawai Pemkab Garut, baik oknum Kepala SKPD maupun staf bahkan tak malu-malu merokok di depan Bupati di lingkungan perkantoran. Seperti terlihat pada Selasa (09/02-2016), ketika berlangsung pertandingan bola voly antarpejabat struktural di Lapang Apel Setda.

Ironis, Bupati Rudy Gunawan juga seakan tak menyadari apabila Selasa Hari Anti Rokok, dan terlarang bagi pegawai merokok di lingkungan kantor. Apalagi padsa sejumlah perkantoran disediakan tempat khusus merokok, dibangun dengan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah bersumber dari Dana Bagi Hasil Bea Cukai Tembakau.

“Tak aneh. Sebab sejak awal kan kampanye tematik ini memang terkesan seremonial. Tak menyentuh substansi persoalan di Garut,” tandas Ketua DPD Laskar Indonesia kabupaten setempat Dudi Supriadi.

*******

(nz, jdh).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here