Ratusan Hektare Persawawahan Garut Mulai Diranggas Kekeringan

by

Garut News ( Rabu, 03/09 – 2014 ).

Ratusan Hektare Persawahan di Garut Mulai Diranggas Kekeringan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ratusan Hektare Persawahan di Garut Mulai Diranggas Kekeringan. (Foto: John Doddy Hidayat).

Awal musim kemarau ini, kekeringan mulai mengancam lahan persawahan pada sejumlah lokasi di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sehingga kalangan petani disarankan melakukan sejumlah langkah mengantisipasi kemungkinan meluasnya kekeringan tersebut.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) kabupaten setempat, Tatang Hidayat katakan berdasar laporan petugas lapangan, hingga per 31 Agustus 2014 kasus kekeringan di Garut musim kemarau sekarang terjadi pada dua wilayah kecamatan.

Dengan luas areal sawah diranggas kekeringan mencapai sekitar 145 hektare.

Rumput dan Semak Belukar Juga Tak Bisa Tumbuh. (Foto : John Doddy Hidayat).
Rumput dan Semak Belukar Juga Tak Bisa Tumbuh. (Foto : John Doddy Hidayat).

Dua kecamatan itu, terdiri Sukawening lahan sawah kekeringan seluas lima hektare, dan di Cibatu sawah kekeringan 140 hektare.

“Kendati intensitas kekeringannya terbilang ringan, kita prediksikan kerugian produksi padi dari 145 hektare sawah ini mencapai sekitar 141 ton atau setara Rp573 juta, dengan asumsi harga gabah kering berkisar Rp3.800-Rp4.000 per kilogram,” katanya, Rabu (03/09-2014).

Selain ratusan hektare sawah mulai mengalami kekeringan, kata dia, dengan melihat fenomena iklim serta keadaan drainase persawahan per 31 Agustus, terdapat lahan sawah lain lebih luas kini terancam kekeringan.

Saat ini, terdapat sedikitnya 573 hektare lahan sawah pada empat wilayah kecamatan, dan 23 desa terancam kekeringan.

Dikemukakan, potensi kekeringan bertambah jika pada dua pekan ini tak ada hujan, serta tak ada penambahan air dari sumber tersedia sekarang terhadap lahan pertanian/persawahan.

Kalau kemarau ternyata berlanjut cukup panjang maka kekeringan bisa mengancam lahan persawahan tersebar pada sedikitnya 22 dari 42 wilayah kecamatan di Kabupaten Garut.

“Jika dalam dua pekan tak ada hujan, lahan sawah semula kekeringan ringan berubah menjadi kekeringan sedang, dan terancam berubah masuk ke kekeringan ringan. Tapi kita berharap kemarau sekarang tak panjang dan parah. Kalau Oktober ada hujan, luas kekeringan bisa ditekan,” katanya pula.

Mengantisipasi kekeringan itu, ujarnya, pihaknya terus melakukan sejumlah langkah penyuluhan terhadap para petani.

Antara lain daerah tertentu airnya ada dan cukup untuk budidaya padi sawah maka petani disarankan segera menanam padi.

Namun jika air ada tapi tak cukup petani disarankan menanam palawija berumur di bawah tiga bulan.

“Untuk lahan sawah irigasi mengalami penurunan debit air maka kelompok tani pengguna air disarankan melakukan sistem gilir giring. Tanaman padi itu kan tak harus digenangi, tapi cukup macak-macak. Dan jika di wilayah tersebut ada sumber air besar bisa ditarik dengan pompa maka lakukan pompanisasi,” imbuhnya menyerukan.

Selain itu, juga disarankan jika bakal menanam padi sawah hendaknya menggunakan padi varietas umur pendek, seperti IR64 atawa Ciherang.

“Kita juga minta semua penyuluh bergerak, dan para petani mewaspadai penyelamatan pertanaman sekarang ada. Padi sudah ditanam mesti diamankan sampai menghasilkan nanti,” ujarnya pula.

******

Noel, Jdh.