Rasa Kemanusiaan Diatas Segalanya

0
40 views
Bersama salah satu Pengurus GP Anshor Garut di Posko PCNU Garut. (Ist.).

Catatan Kecil  Pasca  Musibah Banjir Bandang Garut

H.Heri Kuswara,M.Kom*

Garut News ( Kamis, 13/10 – 2016 ).

Bersama salah satu Pengurus GP Anshor Garut di Posko PCNU Garut. (Ist.).
Bersama salah satu Pengurus GP Anshor Garut di Posko PCNU Garut. (Ist.).

Kesedihan dan duka mendalam atas musibah banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Garut pada (20/9) sangat dirasakan oleh Warga Garut terutama para korban. Bagaimana tidak, musibah yang merenggut banyak  korban jiwa,  harta dan kerugian lainnya ini menjadikan Garut kembali menjadi salah satu daerah “terpopuler” dalam pemberitaan di media.

Penetapan status siaga darurat oleh Bupati Garut menunjukan bahwa musibah besar ini wajib mendapatkan penanganan yang cepat, tepat, serius dan sungguh-sungguh. Entah musibah alam atau karena ulah segelintir manusia yang merusak alam, yang pasti Garut harus cepat “disembuhkan”, korban yang selamat harus cepat pulih dan mendapatkan hak-haknya yang layak, infra struktur yang porak poranda harus segera dibangun dan difungsikan secara optimal, perbaikan segera sungai cimanuk yang merupakan sumber air terpenting bagi Warga Garut dan sekitarnya, atau mungkin Garut harus mampu juga menyembuhkan penyakit manusia yang merusak lingkungan hingga terjadinya musibah  besar ini.

Informasi musibah banjir bandang Garut yang terus menerus terpublikasi menggerakkan seluruh lapisan masyarakat indonesia untuk beremphaty terhadap Garut, berbagai pertolongan dan bantuan baik tenaga, harta, pikiran dan bentuk lainnya secara masif berdatangan tiada henti.

Berbagai elemen organisasi pemerintah, non pemerintah, ataupun perorangan secara sukarela hadir memberikan berbagai solusi ditengah-tengah para korban dan lokasi bencana. Inilah yang saya sebut dengan RASA KEMANUSIAAN DIATAS SEGALANYA.

Pertanyaan saya, masih adakah segelintir orang yang menganggap kepedulian yang dilakukan oleh banyak elemen/perorangan ini adalah sebuah PENCITRAAN ? tentu jika jawabannya masih ada, manusia tersebut sedang bermasalah dengan hati dan pikiriannya, tentu manusia seperti ini juga yang segara harus disembuhkan.

Sebagai Akademisi yang terikat dengan kewajiban pengabdian kepada masyarakat dan sebagai ASGAR yang tentu wajib ikut membangun “leumah cai sorangan” dengan Doktrin kuat orang tua “Kudu Inget Kana Purwadaksina”, saya merasa malu dan terharu menyaksikan semangat dan pengorbanan para sukarelawan dan berbagai elemen yang datang dari setiap penjuru daerah (Garut/Luar Garut) beremphaty dengan harta, tenaga, waktu dan pikirannya bahkan tidak sedikit yang sementara harus meninggalkan anak istri dan resiko pekerjaan/bisnisnya demi RASA KEMANUSIAAN DIATAS SEGALANYA.

Garut memang pangirutan, Garut bukan saja dicintai oleh warga Garut sendiri, namun Garut tersimpan indah di dalam lubuk hati bangsa indonesia. Bangkitlah Garut, bangkit dari musibah besar dan berbagai keterpurukan, musibah banjir bandang telah berlalu, kita Doakan korban meninggal mendapat tempat yang mulia disisi Alloh SWT dan korban selamat kembali bangkit dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Terima kasih tak terhingga untuk seluruh komponen (pemerintah/non pemerintah/perorangan) yang telah beremphaty untuk Garut, semoga Amal Ibadahnya mendapatkan Ridho Alloh SWT. Chaaagggh.

*Ketum Gema Asgar Jakarta.

**********