Ramadhan Mulai Mendekat

0
12 views
Berupaya Meraih Keberkahan Ridha Allah SWT.

Rabu 17 Feb 2021 06:30 WIB

Rep: republika.id/ Red: republika.id

Berupaya Meraih Keberkahan Ridha Allah SWT. (Foto : Abah John).

“Selain identik dengan peristiwa Isra Mikraj, Rajab juga mengingatkan jadwal kedatangan Ramadhan”

OLEH AHMAD RIFAI

Tidak terasa kita kembali bersua dengan bulan Rajab. Selain identik dengan peristiwa Isra Mikraj, bulan ini juga mengingatkan jadwal kedatangan Ramadhan.

Kesadaran akan dekatnya Ramadhan sangatlah berharga. Bermodalkan kesadaran itulah spirit menyambut Ramadhan dapat terus digelorakan. Para ulama salaf telah mementaskan teladan dalam urusan ini. Bahkan, bukan pada bulan Rajab, tetapi enam bulan sebelum Ramadhan, mereka berdoa akan dipertemukan bulan Ramadhan.

Ma’la bin Fadhl berkata, “Mereka para sahabat berdoa kepada Allah enam bulan sebelum Ramadhan agar dipertemukan dengan Ramadhan dan berdoa enam bulan setelahnya agar dikabulkan amalannya pada bulan Ramadhan.” (Majalis Ramadaniah, 5).

Bulan Rajab memang bulan yang sangat tepat untuk mengencangkan persiapan menyambut Ramadhan. Pasalnya, bulan ini menyandang status sebagai bulan haram. Bulan yang memiliki kehormatan sehingga bobot pahala kebaikan di dalamnya diperberat demikian pula bobot dosanya.

Abdullah bin ‘Abbas berkata, “Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan haram dan Allah mengagungkan kemuliaannya. Dan Allah menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya lebih besar. (Sebagaimana) Allah pun menjadikan amalan saleh dan ganjaran yang didapatkan di dalamnya lebih besar pula.” (Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hambali, 207).

Status bulan Rajab sebagai bulan haram adalah peluang emas untuk menaikkan volume berbuat baik. Hal itu diawali dengan memperbanyak tobat dan istighfar. Melalui tobat dan istighfar hati akan menjadi suci. Hati suci adalah kunci untuk memulihkan bahkan menaikkan produktivitas kebaikan.

Memang pada bulan Rajab tidak ada amalan khusus untuk menyambut Ramadhan. Amalan khusus akan kita temukan ketika memasuki bulan Sya’ban yaitu berpuasa. Aisyah bercerita, “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa pada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari No 1.969 dan Muslim No 1.156).

Ibnu Rajab Rahimahullah menerangkan bahwa puasa pada bulan Sya’ban ini ibarat shalat rawatib sebelum shalat wajib. Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, demikian pula puasa Syaban. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab, 233).

Namun, tentu puasa di bulan Sya’ban tidak mudah. Mewujudkannya memerlukan kekuatan spritual yang mumpuni. Jika spirit berbuat baik masih lemah panggilan berpuasa pada bulan Syaban rentan terabaikan.

Karena itu, bulan Rajab menjadi momentum terbaik untuk melatih diri agar terbiasa eksis dalam koridor kebaikan. Saat memasuki bulan Sya’ban dan Ramadhan hati sudah siap menyambut setiap panggilan kebaikan secara maksimal. Semoga.

******

(Republika.co.id/Fotografer : Abah John).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here