Ramadan, Identitas, dan Konsumerisme

0
65 views

Wasisto Raharjo Jati, Peneliti di Pusat Peneltiian Politik – LIPI

Garut News ( Rabu, 08/07 – 2015 ).

Ilustrasi. Pengkolan Garut Nyaris Menyerupai Kapal Pecah. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Pengkolan Garut Nyaris Menyerupai Kapal Pecah. (Foto: John Doddy Hidayat).

Lebaran yang tinggal menunggu hari sudah ditandai dengan sebuah pemandangan paradoks, menurunnya jumlah pengunjung di masjid dan naiknya jumlah pengunjung di pusat belanja.

Umat muslim urban yang didominasi para kelas menengah kini sudah mengalami pergeseran makna ibadah-dari secara teologis menjadi ibadah secara konsumtif. Itulah yang kemudian terbaca dari berbagai bazar dan Ramadan midnite sale di mal.

Kecenderungan psikologis demikian membuat konsumsi menjadi ajang eksistensi diri untuk dapat diakui oleh orang lain.

Karakter konsumsi kelas menengah muslim di Indonesia sendiri adalah panic buying dan impulsive buying yang melihat dan belanja barang tidak secara terencana dan langsung beli seketika juga.

Ilustrasi. Wajah Pusat Kota Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Wajah Pusat Kota Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).

Pada titik inilah kita bisa memaknai bahwa kebutuhan akan pengakuan sendiri begitu tinggi di kalangan kelas menengah muslim.

Namun mereka juga menghadiri berbagai forum majelis taklim maupun pengajian. Munculnya pengajian eksklusif dan munculnya dai dengan pakaian trendi sebenarnya merupakan upaya untuk menarik minat kelas menengah untuk mengikuti kegiatan dakwah.

Selain itu pula, kegiatan sumbangan massal yang dihimpun melalui Dompet Dhuafa, Rumah Yatim, dan lembaga filantropis lainnya merupakan cara menghadirkan konsumsi uang dan barang yang bisa dimaknai sebagai ajang ibadah.

Konsumsi juga bagian dari pembentuk citra bahwa kelas menengah merupakan representasi kelas mapan.

Konsumsi menjelang Lebaran bagi kelas menengah muslim juga dapat diartikan sebagai bentuk pencarian identitas sebuah kelompok. Identitas tersebut bisa terbaca dari seberapa banyak barang yang dibeli.

Konsumsi tersebut dapat diartikan sebagai simbol kemapanan maupun juga simbol keagungan Ramadan. Kesalehan kemudian dimaknai dengan adanya perayaan simbol Islam seperti halnya bulan sabit, kurma, unta Arab, maupun sarung di pusat belanja.

Kecenderungan setiap Ramadan adalah naiknya inflasi 0-0,5 persen, naiknya transaksi uang sebesar 3 persen, dan sirkulasi barang jasa yang sebegitu masif.

Artinya, Ramadan juga disebut sebagai bulan penghabisan bagi kalangan kelas menengah untuk menikmati hasil jerih payahnya selama setahun untuk bisa dirayakan saat Lebaran secara berkesan.

Pada akhirnya, ritual mudik yang selama ini menjadi agenda rutin dan klasik bagi masyarakat Indonesia diartikan sebagai kebutuhan psikologis untuk diakui di lingkungan asalnya. Mudik merupakan momentum transisi dari kelas masyarakat agraria menjadi kelas menengah perkotaan yang selalu menimbulkan pesona bagi warga asalnya.

Maka, dengan melihat kecenderungan masyarakat kelas menengah sedemikian ini, kita bisa melihat bahwa konsumerisme yang terpancar dan kesalehan sosial yang dilakukan oleh kalangan kelas menengah kita adalah bentuk pengakuan diri sebagai kelas mapan.

Akan lebih baik apabila, di samping memenuhi kebutuhan konsumsi, kebutuhan teologis juga tak dilupakan, mengingat Ramadan adalah saat mengerem hawa nafsu, bukannya memaksimalkan hawa nafsu melalui belanja. *

********

Kolom/Artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here