Ramadan dan Oase Politik

Munawir Aziz,
Peneliti

Garut News ( Ahad, 29/06 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John DH).
Ilustrasi. (Foto : John DH).

Di tengah terik panas kontestasi politik menjelang Pilpres 2014, umat Islam Indonesia disuguhi oase bernama Ramadan.

Bulan keberkahan bagi umat seluruh alam ini seakan menjadi penyegar di tengah deru kampanye dan pertarungan kepentingan antarkelompok.

Ramadan menjadi bulan ujian, sekaligus sebagai ruang pembuktian.

Di tengah oase Ramadan, warga Indonesia akan menyelenggarakan hajatan politik yang menentukan nasib bangsa, yakni pemilihan presiden 9 Juli mendatang.

Tentu saja, Ramadan kali ini sangat menarik karena menjadi kawah ujian bagi warga negeri ini, yang sedang berebut benar dan mengklaim tegar.

Ramadan kali ini sejatinya bukan hanya milik warga muslim semata, tapi juga milik semua.

Ujian-ujian kesabaran, ketabahan, dan prinsip menahan diri menjadi bagian utama untuk membentuk pribadi pilihan.

Inilah saat yang tepat untuk membuktikan diri sebagai pribadi yang bermanfaat: berbagi pada sesama, menghentikan kampanye hitam, dan menyebarkan kebaikan.  

Bulan Ramadan memiliki banyak nama: syahrul qur’an (bulan Al-Quran diturunkan), syahrul rahmah (bulan pelimpahan rahmat), syahrul najah (bulan keberuntungan), syahrul juyud (bulan kedermawanan), syahrul shabri (bulan kesabaran), syahrul tilawah (bulan memperbanyak membaca Al-Quran), dan syahrul shiyam (bulan berpuasa).

Nama-nama yang melekat pada Ramadan ini membuktikan pentingnya bulan ini bagi keseimbangan alam semesta.

Kali ini, Ramadan juga bisa dimaknai sebagai syahrus siyasah (bulan politik).

Terang saja, politik yang menjadi misi bersama adalah politik kebangsaan dan kerakyatan, bukan semata politik praktis yang memperjuangkan kepentingan pribadi ataupun kelompok.

Visi politik yang mengejawantahkan ide-ide kebaikan dan mendukung kepemimpinan yang kuat dan bermoral sedang dibutuhkan.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang amanah, tegas, dan mampu melindungi sekaligus menerjemahkan aspirasi rakyat dalam kebijakan pemerintahan.

Negeri ini bukan sekadar membutuhkan politikus yang mengaku sebagai pemimpin, tapi juga menanti seorang pemimpin yang dapat membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Pada hari-hari menjelang pilpres kali ini, semakin sering terlempar kebencian, egoisme, dan klaim kebenaran sepihak.

Kampanye yang dilakukan oleh tim sukses ataupun relawan sejatinya mencerminkan kepribadian politik yang sesungguhnya.

Mereka yang menyebar kebaikan dan visi-misi kesejahteraan merefleksikan pola kepemimpinan yang bermartabat.

Marwah politik pemimpin tidak saja ditentukan oleh tujuan politiknya, tapi juga strateginya.

Jika yang ditunjukkan hanya kejelekan dan kekejian, yang melekat dalam inti kepemimpinan hanyalah egoisme dan nafsu kekuasaan.

Ramadan menjadi ruang refleksi bersama tentang bagaimana menahan diri dari nafsu-nafsu kekuasaan.

Ramadan adalah momentum mengendapkan amarah, menjernihkan batin, dan mentransformasi kebaikan.

Memaknai Ramadan sebagai gerbang menjemput kebaikan, menjadi krusial di tengah lautan fitnah dan kampanye hitam yang riuh menjelang pemilihan presiden.

Ramadan adalah bulan berkah.

Maka, selayaknya ia dihayati dengan sepenuh hati: dengan cara-cara yang baik untuk tujuan yang baik. *

****

Tempo.co

Related posts