Raksasa Terlelap Tidur Ini Mulai Digerus Longsor

0
66 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Jum’at, 29/04 – 2016 ).

Puncak Gunungapi Guntur Garut.
Zona Puncak Gunungapi Guntur Garut.

Gunungapi Guntur di Kabupaten Garut, Jawa Barat, hingga sekarang selama 169 tahun beristirahat (1847 – 2016), meski sesekali kerap menggeliat, mengingatkan raksasa ini ada namun masih terlelap tidur, namun kini mulai digerus longsor.

Sehingga lintasan pendakian menuju puncaknya berketinggian 2.249 mdpl, sejak 13 April 2016 ditutup lantaran terjadi longsoran seputar puncak bisa membahayakan para pendaki.

Longsoran tersebut, juga bisa mengubah lintasan pendakian lebih jauh memutar sekitar 70 meter. Menyusul berdasar informasi bersumber  BMKG, curah hujan di Garut diperkirakan masih terus terjadi hingga pekan ketiga, Juni 2016.

Menjadi Rawan Longsor.
Menjadi Rawan Longsor.

Maka diperkirakan wilayah itu rawan terjadi longsor dan pergerakan tanah, sehingga diperlukan kewaspadsaan beragam kalangan.

Kondisi Lingkungan Semakin Parah.

Wajah lereng dan tebing kaki gunungapi pun, juga sekarang semakin nyaris menyerupai permukaan planet di angkasa luar, miris malahan sangat memilukan.

Gunungapi Guntur dengan nama lain Gunung Gede, kawahnya dikenal bernama Kawah Guntur. Tipe gunungapi ini, Strato berjarak sekitar 1.600 meter dari pusat kota terdekat.

Berlokasi di Desa Sirnajaya, Tarogong, Garut. Guntur nama sebuah puncak dari suatu kelompok gunungapi disebut Komplek Gunungapi Guntur.

Komplek Gunungapi ini terdiri beberapa kerucut, terdiri Gunung Masigit (2.249 mdpl) merupakan kerucut tertinggi.

Ke arah tenggara dari Masigit terdapat kerucut Gunung Parukuyan (2.135 mdpl), Gunung Kabuyutan (2.048 mdpl).

Menggerus Pasi Lereng Kaki Gunungapi Guntur.
Menggerus Pasi Lereng Kaki Gunungapi Guntur.

Pemukiman penduduk sekitar Gunungapi Guntur umumnya berada pada ketinggian 600 – 1000 mdpl.

Pemukiman ini sebagian besar terkonsentrasi di kaki tenggara, dan selatan serta sebagian kecil di kaki timur dan utara.

Sedangkan sejarah letusannya, pada 1690 : Letusan besar, banyak penduduk menjadi korban, daerah rusak, disusul letusan pada 1770, 1777.

Pada 1780 terjadi aliran lava, 1803 : Letusan pada 3-15 April, 1807 : terjadi letusan pada 9 Mei, serta letusan 1809.

Disusul letusan pada 1815 : 15 Agustus, letusan 1815/1816 : 21 September, letusan 1816 : 21-24 Oktober, letusan 1825 : 14 Juni, hutan di sekitar gunung terbakar, serta letusan 1827/1828.

Sedangkan letusan pada 1829 : beberapa kampung hancur, sejumlah penduduk menjadi korban, letusan 1832 : 16 Januari, 8-13 Agustus, letusan 1833 : 1 September, letusan 1834/1835/1836 : Desember, serta letusan 1840 : terjadi aliran lava ke Cipanas.

Pada 1841 : 14 Nopember, letusan sangat besar sekitar 400.000 batang pohon kopi hancur, 1843 : 4 Januari dan 25 November tanah rusak, dan beberapa kampung terlanda, serta letusan pada 1847.

Karakter Letusan Eksplosif, dengan periode letusan antara 1800 hingga 1847 tercatat tak kurang dari 21 kali letusan.

Uang Penyebab Rusak-Parahnya Lingkungan Kaki Gunungapi Guntur.
Uang Penyebab Rusak-Parahnya Lingkungan Kaki Gunungapi Guntur.

Letusan itu berulang-ulang dalam tempo pendek, berlangsung paling lama lima sampai 12 hari.

Periode letusan juga berselang-selang antara 1, 2 dan tiga tahun serta ada kalanya letusan terjadi setelah masa istirahat enam, dan tujuh tahun.

Gunungapi Guntur tak berdiri sendiri sebagai kerucut tunggal, sebab pada bagian puncaknya dicirikan adanya kerucut-kerucut tua bekas titik erupsi, merupakan satu kelompok besar Gunungapi Guntur.

Dari kelompok besar Gunung Guntur itu, nampak dua buah kaldera, masing-masing Kaldera Pangkalan di sebelah barat, dan Kaldera Gandapura di sebelah timur.

Gunung “Guntur” juga mengingatkan nama putra sulung Presiden pertama RI, Ir Soekarno, “Guntur Soekarno Putera”.

*******

Pelbagai Sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here