Ragam Produk Budaya Adiluhung Indonesia Kian Tergerus

0
65 views

Esay/Foto : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Ahad, 17/05 – 2015 ).

Acuy.
Acuy.

Ragam produk budaya yang sangat bernilai adiluhung di negeri Bernama Indonesia, kini kian tergerus gencarnya serbuan pelbagai kaidah impor luar negeri, atawa asing.

Fenomenanya semakin merebak-marak nyaris tak terbendung lagi, menyerbu semua lapisan sosial masyarakat, dengan banyak cara, terstruktur, dan berdampak sistemik.

bandung11okeLantaran anjuran kudu menyintai beragam produk dalam negeri, selama ini cenderung hanya sebatas “jargon” bahkan orasi “pupujieun” maupun penciteraan nyaris setiap rezim penguasa.

Sebab tanpa disertai keteladanan, antara lain fakta selama ini banyak kalangan pejabat terutama istrinya masing-masing lebih berbangga diri berbelanja termasuk berjalan-jalan di Singapura, daripada di pasar becek atawa mengunjungi obyek wisata di dalam negeri selain Bali.

Sehingga berdampak luas pada masyarakat, banyak di antaranya bersikeras memaksakan diri bergaya hidup bisa dinilai modern.

Demikian antara lain benang merah perbincangan Garut News dengan seorang pengkaji kebudayaan, Muhammad Surya Gumilang, akrab disapa Acuy.

Pasca sarjana lulusan salah satu universitas negeri di Bandung tersebut, mengemukakan di Garut, Ahad (17/05-2015), gaya hidup yang diadopsi dari luar negeri ternyata tak hanya sebatas penampilan berpakaian.

Karya Muhammad Erwin Ramadhan.
Karya Muhammad Erwin Ramadhan.

Melainkan semakin “merangsek” pada ragam jenis makanan, dan minuman dikonsumsi, bebernya.

Padahal Masyarakat Indonesia selama ini memiliki berlimpah-ruahnya jenis produk kearifan lokal, mulai dari arsitektur bangunan, busana hingga kuliner.

Malahan makanan khas pada setiap seluruh masyarakat nusantara selain alami, juga umumnya berkondisi “Aman, Sehat, Utuh, serta Halal” (ASUH).

Karya Muhammad Erwin Ramadhan Beserta Bintang.
Karya Muhammad Erwin Ramadhan Beserta Bintang.

Mengonsumsi kuliner ASUH, dipastikan berdampak positip pada nilai psikologi makanan, sebab antara lain jika sejak anak usia dini kerap mengonsumsi makanan tak bernilai ASUH, dipastikan pula memengaruhi perilakunya, bisa saja di kemudian hari menjadi “manusia serakah”.

Apalagi jika sumber keuangan untuk membelanjakan makanan itu, diperoleh dari hasil korupsi, dengan cara menjarah APBD maupun APBN, yang selama ini acap dilakukan “begal berdasi”.

Maka mengakibatkan pula tak pernah puas dengan satu mobil, karena mobil tak hanya dijadikan sarana mencapai tujuan, melainkan dijadikan tujuan utama memamerkan kekayaan, status sosial, serta dijadikan tujuan meyakinkan pihak lain, meski barangkali bermotivasi untuk menipu.

Muhammad Erwin Ramadhan.
Muhammad Erwin Ramadhan, Ilustrator Garut News.

Kegelisahan berganti-ganti kepemilikan rumah dan mobil lebih dari satu ini, selain memacetkan arus lalulintas, dan menjadikan wajah kota semakin sumpeg. Juga kian meningkatkan disparitas maupun kesenjangan sosial masyarakat.

Kondisi tersebut, kian masih diperparah ketidakmampuan pemerintah menyediakan sarana angkutan umum memadai, dengan kondisi lintasan ruas jalan yang tak memadai pula.

Malahan setiap menjelang Lebaran Idul Fitri, banyak proyek perbaikan jalan mendadak sontak dilakukan setiap tahunnya.

Sehingga menjadi jenis penyakit “laten” setiap tahun di negeri ini.

Demikian intisari perbincangan Garut News dengan Muhammad Surya Gumilang, juga Kurator serta Ketua Pelaksana International Mail Art Exhibition di Kantor Sekretariat Asgar Muda, Jalan Muhammadiyah Garut.

Sedikitnya 250 karya seni dua dimensi dipamerkan pada helatan itu, menampilkan karya 120 peserta dari tujuh negara, juga karya asal 17 kota, katanya.

 

********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here